Seketika handphonenya berdering, Sms dari Yudi. Dia mengatakan bahwa akan datang jam 08.00 di tempat yang telah mereka sepakati, Sofi mengerutkan kening “Cepat amat sih. Tapi nggak apa-apa, aku juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.” Sofi menguap. Ia berjalan membuka pintu kamarnya, mengambil handuk, lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Selesai mandi, Sofi sibuk memilih pakaian yang akan dikenakannya. Ia mematut diri di depan cermin beberapa kalu untuk memastikan pakaian yang cocok. Tak lupa ia membubuhkan bedak tipis di wajahnya. Setelah itu, Sofi langsung menuju ke tempat mereka akan bertemu. Sebuah taman yang tak jauh dari tempat kursusan Sofi.
Sesampainya disana ternyata Yudi sudah lebih dulu menunggunya, dengan hati yang berdebar Sofi menghampiri Yudi yang sedang duduk di kursi menghadap ke sebuah air mancur di tengah taman. “Ehm, hai Yud. Sudah lama? Tanya Sofi sambil memekarkan senyumnya. “Oh, tidak. Baru saja. Ayo duduk.” Sofi pun duduk di samping Yudi dengan memberi jarak. Dengan hati yang semakin berdebar seakan seluruh isinya akan tumpah, Sofi memulai bicara.
“Yud, kamu ngajak aku ketemuan disini ada apa yah?”
“Fhi, aku…………” Yudi tak melanjutkan
“Kenapa Yud? Apa ada yang salah denganku?”
“Nggak, nggak Fhi.”
“Trus kenapa?”
Suasana hening, Yudi tak menjawab pertanyaan Sofi. Dia hanya menatap Sofi untuk beberapa saat.
“Fhi, aku ingin bertanya sama kamu. Boleh?”
“Iya, boleh. Silahkan saja Yud.” Sofi tersenyum.
“Fhi, sekiranya ada seseorang yang mengagumimu, tetapi kemudian perasaannya berubah menjadi perasaan sayang. Yang entah kapan perasaan itu mulai muncul dan mengganggunya. Apakah kamu akan menanggapinya atau malah tak berdelik sama sekali?” Yudi bertanya menggebu-gebu.
Mendengar pertanyaan Yudi, Sofi hanya diam. Dia pun tak mampu menoleh untuk menatap Yudi. Seketika debaran di hatinya mencapai puncaknya. Dalam hatinya berkata “Mengapa Yudi harus menanyakan hal itu? Apa yang akan ku katakana padanya? Apakah aku harus mengatakan kalau perasaan itulah yang sedang melandaku saat ini?.” Yudi memberanikan diri menepuk pundak Sofi yang hanya diam tak menanggapi.
“Fhi, kamu kenapa?” Tanya Yudi.
“E-e-eeehh, nggak. Aku hanya memikirkan jawaban yang akan ku berikan padamu tentang pertanyaanmu itu.” Sofi berusaha relaks.
“Lalu apa jawaban kamu?”
“Jika apa yang orang itu rasakan padaku, sama dengan apa yang aku rasakan. Maka aku akan menanggapinya, mencocokkannya dengan keping yang ada di hatiku. Tapi jika aku tak merasakan hal yang sama dengannya. Maka aku juga tak akan mengacuhkannya, bukan berarti aku menerimanya. Tapi aku akan memberikan dia pengertian tentang rasaku yang berbeda.” Sofi tersenyum lega.
“Oh begitu?” jawab Yudi singkat.
“Memangnya kamu sedang mengagumi siapa Yud? Ceritalah sama aku, meskipun kita berdua kenalnya belum lama banget, tapi aku nggak akan sungkan kok jika kamu mau berbagi.” Sofi mengusulkan.
“Eh, nggak kok Fhi.” Yudi menyangkal
“Memangnya kamu sudah punya pacar yah, Fhi?” Tanya Yudi dengan senyum yang tiba-tiba muncul di bibirnya. Senyum yang berarti, ya- ampun-akhirnya-aku-menanyakan-pertanyaan-ketinggalan-zaman-ini.
“Belum.” Jawab Sofi singkat.
“Jika seseorang itu adalah aku, gimana Fhi?” Yudi tiba-tiba menanyakan hal yang membuat Sofi tak bisa berkata-kata. Sunyi sesaat.
“Fhi, sebelumnya aku minta maaf jika pengakuanku ini salah dan mengagetkanmu. Tapi aku bicara apa adanya, aku tak mau membohongi perasaanku. Kamu baik, sederhana, bersahaja. Itu yang membuatku jatuh hati padamu.” Yudi berkata dengan tanpa beban.
Jantung Sofi berdebar lebih kencang, “Tuhan, tolong jangan buat aku pingsan. Do’a Sofi dalam hati. Namun Sofi masih membisu. Yang terdengar hanya suara gemericik air mancur.
“Aku sayang sama kamu, Fhi.” Yudi tersenyum menatap Sofi. Sofi mencengkram kursi sambil menjerit dalam hati, “Tuhan, aku pingsan nih!
“Yud, ak-aku……….” Akhirnya Sofi mencoba berbicara.
“Aku……….., aku nggak…nggak…..” Sofi tak melanjutkan.
“Kamu nggak bisa yah Fhi? Nggak bisa sayang sama aku?” Wajah Yudi tiba-tiba berubah redup
“Nggak, Yud. Aku Cuma nggak percaya dengan apa yang baru saja kamu katakan. Yud, jujur aku juga menyayangi seseorang, entah mengapa wajahnya selalu terbayang setiap aku membuka mata. Aku selalu merindukan dia dalam setiap hembusan nafasku.”
Yudi menunduk dan terdiam. Raut wajahnya semakin terlihat padam, ucapan itu seperti hempasan ombak yang melemparkannya ke dasar lautan.
“Seseorang itu adalah kamu Yud. Yudistira Pratama.” Sofi pun mengatakan dengan terbata-bata.
“Ap-apa, Fhi?” Yudi mengangkat wajahnya dan menatap Sofi.
“Iya, Yud. Orang yang selama ini membuat hatiku gelisah dan memberiku penyakit rindu itu adalah kamu.” Ujar Sofi tersenyum.
“Jadi….., ka-kamu juga merasakan hal yang sama denganku, Fhi?” Tanya Yudi lega.
“Iya…… Aku juga sayang sama kamu Yud.”
“Benar apa yang baru saja kamu katakan? Aku nggak salah dengar kan Fhi?” Yudi menyeringai senang.
“Kamu nggak salah dengar kok.” Sofi mengangguk sambil melebarkan senyum khasnya.
Sofi sungguh tak menyangka kalau ternyata Yudi punya perasaan yang sama dengannya. Seketika suasana menjadi begitu damai, Sofi tak lagi menatap dengan pandangan kosong kedepan tapi sesekali dia melirik kearah Yudi yang duduk di sampingnya. Namun, ada 1 hal yang tiba-tiba muncul difikiran Sofi.
“Hmm…. Yudi, aku bahagia deh. Ternyata cinta yang aku pendam tak bertepuk sebelah tangan.” Sofi tersenyum.
“Iya, Fhi. Aku juga demikian.” Ujar Yudi.
“Tapi Yud, gimana dengan Lidya?”
“Lidya? Maksudmu Fhi?” Yudi keheranan.
“Iya Lidya. Waktu itu dia terlihat sangat akrab denganmu, aku melihat di setiap tatapannya padamu ada sesuatu yang lain.”
“Ha…ha..,,,” Yudi hanya tertawa.
“Kok kamu ketawa sih, Yud.” Sofi mengerutkan keningnya.
“Ya iyalah. Kamu fikir Lidya itu pacarku? Kamu salah Fhi, jelas saja Lidya terlihat sangat akrab denganku. Wong dia itu adik aku.” Yudi semakin terbahak.
“Kamu nggak bohong kan?” Tanya Sofi.
“Aku nggak bohong, Fhi. Lidya itu adik aku satu-satunya. Kamu memang baru melihat dia karena dia dulu sekolah di luar negeri. Sueerrr deh.” Yudi mengangkat 2 jarinya.
“Iya, aku percaya kok.” Keduanya pun tertawa.
Langit yang semula terlihat mendung, tiba-tiba cerah kembali karena matahari akhirnya menampakkan senyum dan mengepakkan sayap keindahannya. Kedua insan yang baru saja mengakui perasaan yang terpendam di hati mereka kini serasa terbang melintasi awan, perasaan mereka benar-benar bahagia. “Akhirnya ada aku dihatimu”, Ujar Sofi sedikit berbisik. Yudi mengangguk sambil tersenyum.
*Createdby FhiaSofia
Bagi Artikel ini

Post a Comment