Kontak Kami

Name

Email *

Message *

Tak Sejalan

Pagi itu Dania berangkat ke kampus dengan perasaan yang sama seperti sebelumnya, berjalan menelusuri setapak jalan, sesekali menemui ibu-ibu yang ngerumpi, menjumpai beberapa anak yang menuju ke sekolah. Tak butuh waktu lama untuk tiba di kampus, Dania lalu menghampiri teman-temannya yang sudah lebih dulu datang, mereka lalu asik dalam sebuah pembicaraan sembari menunggu dosen datang. Di tengah keasikan perbincangan mereka, handphone Dania berdering segera dia merogohnya dari dalam tas ternyata panggilan dari seorang teman, namanya Arman. Di pencetnya tombol hijau dan menyingkir dari kerumunan teman-temannya.
“Halo. Assalamu alaikum kak.”
“Iya, walaikum salam dek. Lagi dimana?” Suara pria yang tak asing ditelinga Dania.
“Nia, lagi di kampus nih kak. Tumben nelpon, kangen ya sama Nia?” Sapanya menggoda.
“Mungkin juga dek. Oh ya dek, ada yang mau aku sampaikan sama kamu, boleh nggak?”
“Apaan kak? Boleh kok.”
Tanpa berlama-lama Arman lalu mengungkapkan perasaannya kepada Nia, dengan nada suara yang berbeda.
“Nia, aku suka sama kamu. Mau kan jadi pacarku?”
Nia yang mendengar ungkapan itu sontak kaget dan tak tahu harus bilang apa, dia lama terdiam sambil berfikir.
“Dania, kalau kamu nggak bisa jawab sekarang ya nggak apa-apa tapi aku butuh jawaban dari kamu.” Nada suara Arman mulai memelas. Nia menarik nafas dan mencoba menjawabnya, meskipun rasa kaget itu masih menari tapi Nia tidak mau terbebani oleh apa yang diungkapkan Arman padanya.
“Hmm.. Bagaimana ya kak.” Kembali dia terdiam, beberapa saat kemudian dia melanjutkan kata-katanya, “Iya, aku mau.” Jawabnya singkat.
“Jadi kamu mau jadi pacarku?” Tanya Arman memperjelas.
“Iya kak. Aku mau jadi pacar kak Arman.”

Setelah Arman mendapat jawaban Dania tentang perasaannya, tak begitu lama obrolan mereka berlanjut karena dosen mata kuliah Dania sudah datang akhirnya pembicaraan pun ditutup dan akan dilanjutkan nanti. Dania menuju ruang perkuliahan dengan perasaan yang tak dapat dia deskripsikan, kaget, senang, nggak nyangka dan apakah jawaban itu tulus dari hatinya atau hanya asal menjawab saja? Dania pun tak mengerti. Perkuliahan hari ini telah selesai, Dania dan 2 orang sahabatnya Nurul dan Asma bergegas pulang kerumah bersama-sama karena memang rumah mereka berada pada satu jalur yang sama. Di perjalanan pulang Dania lalu menceritakan pada  2 orang sahabatnya itu perihal obrolannya dengan Arman.

“Nia, kamu kenapa sih kelihatannya senang gitu tapi juga kelihatan galau. Kenapa sih?” Tanya Asma.
“Ah nggak apa-apa kok. Eh kalian tahu nggak tadi tuh aku di tembak sama kak Arman.”
“Kak Arman yang mana?” Tanya Nurul dengan rasa penasaran.
“Iya, kak Arman itu lo yang pernah aku ceritain. Senior kita tapi ya beda Fakultas gitu.”
“Oh iya, aku ingat. Jadi kamu dan kak Arman itu udah pacaran?” Asma semakin penasaran.
“Iya, aku udah kasi dia jawaban dan aku menerimanya.” Jawab Dania.
“Tapi kok wajahmu masih galau aja sih neng. Ada apa?” Buru-buru Nurul bertanya lagi.
“Aku juga nggak tahu ya, setelah aku kasi jawaban ke dia perasaanku kayak biasa-biasa aja gitu, nggak berbunga-bunga gimana gitu. Ah nggak tahu deh.”
“Nia, kalo kamu nggak yakin lah kenapa juga kamu buru-buru jawab.” Ujar Asma.
“Entahlah. Mungkin karena aku masih kaget dan sedikit kangen sih sama dia jadinya aku nggak mau mikir panjang lagi.”
“Ya udah, kamu jalanin aja dulu. Siapa tahu beberapa hari kedepan kamu sadar akan perasaanmu.” Kata Asma.  

Beberapa hari berlalu setelah Arman mengungkapkan perasaannya kepada Dania dan resmi menjadi pacarnya. Mereka sangat intens dalam berkomunikasi, setiap hari Arman pasti selalu SmS menanyakan kabar, dan hal lain. Arman selalu menjemput Dania setelah pulang dari kampus tapi anehnya mereka tak pernah ngobrol saat perjalanan pulang, yang ada mereka berdiam-diaman. Sesampainya dirumah pun Arman tak pernah mampir kerumah Dania, dia hanya mengantarnya sampai di depan pagar dan setelah itu dia melaju pergi. Sikap Arman yang demikian membuat Dania mulai berfikir, apakah selama ini aku nyaman menjalani hubungan ini? Sikap kak Arman yang begitu perhatian ketika ditelpon atau sedang SmS tapi ketika bertemu malah dia bersikap dingin, begitu serius yang sama sekali tak ada selera humor. Apakah aku benar-benar punya rasa sayang untuknya? Sementara sejak awal perasaanku biasa-biasa saja, pertanyaan mulai muncul dibenak Dania.


Menjelang bulan kedua hubungan mereka, tapi Dania semakin tak mengerti akan perasaannya. Ada rasa sebal ketika Arman menelpon dan SmS dengan kata-kata yang sama, sudah makan belum? Lagi dimana? Lagi ngapain? Seperti tak ada kata-kata lain lagi. Suatu ketika mereka berdua menghadiri sebuah kegiatan bersama-sama tapi mereka datang pada waktu yang berbeda, Dania hadir bersama dengan kakak sepupupunya sedangkan Arman hadir lebih dulu bersama teman-temannya. Kegiatan itu berlangsung semalam full, tapi anehnya lagi Dania malah lebih akrab dan lebih dekat  dengan kakak seniornya yang lain, mereka berbincang dan bercanda bersama tapi Arman seperti biasa menunjukkan sikap dinginnya lagi dan hanya sesekali menyapa Dania. Tapi Dania lagi-lagi tak mau memikirkan hal itu, tak mau mengambil pusing akan hal itu.

To be continue......
Created by Fhiii


Bagi Artikel ini


Post a Comment

 

Alamat

Bantaeng-Indonesia
HP : +6285242923601
Email : safhiqsaah@yahoo.com
Pin : 73CDD5F8

Sosial Media





Copyright © 2014

Copyright © 2014
Copyright © 2014. Media Karya Publikasi - All Rights Reserved
Edit by Sabri Sajha Powered by safhiqsaah.com