Kontak Kami

Name

Email *

Message *

Shadow State (Negara Bayangan)


"Negara diberi cahaya oleh lampu pijar, akan tetapi yang memimpin Negara ini adalah bayangannya sendiri" 
(Sebuah Kutipan Pada Acara Indonesian Lawyers Club_TvOne)


- Eksekutif
- Yudikatif
- Bisnis



Sekilas kata-kata diatas terkesan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin bayangan memimpin sementara bayangan justru mengikuti gerak benda dimana bayangan itu berasal. Seharusnya, Negara idealnya seperti itu juga. Gerak pusat diiringi atau diikuti bayangannya sendiri. Tetapi  hal ini menjadi tidak mungkin jika sudah menjadi bayangan negara. Lalu, apakah negara memiliki bayangan yang justru bayangannya yang memimpinnya. Analogi lampu pijar adalah sejenis lampu dengan sorot cahaya yang luar biasa terang. Atau apakah karena lampu pijar cukup terang sehingga dengan demikian tatkala lampu pijar beralih arah justru negara yang cenderung ikut?. Ada beberapa asumsi tentang negara. Tentunya asumsi tentang negara harus diperjelas sebelum lanjut ke asumsi-asumsi berikutnya. Negara (Baca:Presiden) selalu identik dengan orang nomer satu (1) ditiap negara, sehingga penyebutan negara selalu termaktub pula pengertian tentang pemimpin itu sendiri. Di Indonesia maupun dinegara selain Indonesia, selalu di asumsikan mempunyai bayangan yang mengontrol gerak negara beserta kebijakannya. Kepentingan negara seringkali mengikuti kepentingan lampu pijar yang mampu menyorot pada beberapa sisi. Sedikitnya, ada tiga sisi yang kadangkala menjadi lampu pijar negara. Eksekutif(Penguasa), Yudikatif, Bisnis(Pengusaha). 


Eksekutif sebagai lembaga yang biasanya disebutkan menjalankan undang-undang, seringkali memunculkan wajah paradox kontradiktif dengan undang-undang itu sendiri. Betapa tidak, Eksekutif yang cenderung seolah lebih paham dengan undang-undang masih kadangkala latah dalam menjalankannya. Dalam rangkaian prosesnya dalam mengelola negara, seringkali eksekutif mempertontonkan kepada khalayak ramai dengan dukungan media mainstream betapa bodoh dan latahnya mereka dalam mengelola dan menjalankan harapan bangsa secara umum. Dalam tafsiran tradisional asas Trias Politika, Eksekutif hanya menjalankan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan oleh Legislatif. Namun, dalam negara modern justru Eksekutif sudah bisa bebas menetapkan dan membuat kebijakannya sendiri tanpa harus melalui persetujuan legislatif yang katanya cenderung suka menghambat kebijakan yang katanya baik. Bahkan dalam negara modern, Eksekutif banyak ditafsirkan atau diasumsikan sudah menggantikan posisi legislatif sebagai pembuat kebijakan yang utama. Hal ini, didorong oleh perkembangan tekhnologi dan informasi yang juga menunjang lancarnya proses hubungan antar negara yang semakin dinamis. Tetapi apakah benar hubungan antar negara betul-betul dinamis? Meski pasti apa yang saya tuliskan disini tak sebaik para pengamat dunia Internasional yang bisa banyak tahu tentang urusan-urusan dapur tiap negara, namun yang kutulis adalah sebatas pengamatan saya sendiri dan hasil bacaan saya yang masih sangat miskin literatur. 


Lalu, kita lanjut ke lampu pijar berikutnya. Yudikatif. Bukankah keberadaan sebuah negara memang harus memiliki banyak alat atau instrumen pembangun yang harus mendukungnya. Yudikatif, berdasarkan keperluan-keperluan negara diantaranya adalah kebutuhan akan badan atau lembaga yang menjalankan proses pengadilan atas penyelewengan-penyelewangan peraturan yang telah dibuat oleh legislatif dan dijalankan oleh eksekutif. Bukankah demikian penjelasan pula dalam konsep trias politica, bahwa kekuasaan negara harus dibagi agar tidak terjadi penumpukan kekuasaan. Demikianlah yudikatif, sebagai badan yang akan menjalankan proses pengadilan bagi mereka yang melanggar peraturan. Meskipun kadangkala pelanggar peraturan tak dapat diadili oleh badan yudikatif manapun. Entah Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi, maupun yang lainnya. Tapi, apakah penyebab yang melatarbelakangi sehingga banyak pelanggar peraturan yang bahkan tidak tersentuh hukum, atau kalaupun tersentuh bahkan mereka boleh saja mengaburkan diri dengan berbagai macam muslihat. Aneh. 


Pengusaha alias bisnis atau investor. Bukankah disetiap pemerintahan seringkali dilingkari oleh barisan pengusaha atau investor?. Saya menganggapnya bahwa barisan pengusaha inilah yang menjadi lampu pijar paling terang. Yang bahkan bisa mengalahkan lampu pijar lainnya dengan pengaruh penerangannya yang kokoh, sehingga mampu menggerakkan seluruh bayang-bayang yang diciptakannya. Dua lampu pijar lainnya bahkan menjadi redup dan akhirnya menstop distribusi cahayanya. Negara, dengan bayang-bayang pengusaha yang bahkan menjelma menjadi pengusaha yang akhirnya berselingkuh dengan para investor tersebut. Bukankah dalam setiap kebijakan-kebijakan yang akan disampaikan oleh negara selalu saja tarik ulur hingga mencapai kesepakatan dengan para "cukong". Nah. titik persoalan negara disini. Para cukong ini memiliki banyak kroni, kawan dan berjaringan secara luas. Sehingga, dengan mudahnya mereka menekan, melunakkan atau bahkan mendiskreditkan pemerintahan yang sedang berjalan jika saja keinginan dan tawaran mereka tidak di ikuti. Bukankah mereka memiliki segepok modal, jaringan yang kuat dan sewaktu-waktu melakukan intimidasi dan ancaman yang menjemukan. Pemerintah, dengan otak mamalianya yang kerdil dan kecil, pasti sangat takut berhadapan dengan otak reptil para pengusaha. Sebab, otak reptil pengusaha terlalu besar dan cenderung haus darah. Untuk kemuliaan dan pengaruh, bagi mereka para pengusaha berotak reptil adalah nyawa dan kehormatan samasekali tidak ada nilainya. Sehingga, kapan saja boleh dikorbankan sebagai bentuk pesugihan demi kelancaran proyek-proyek dan deal-deal politik mereka dengan pemerintah. Tiga lampu pijar ini bagaikan pohon dengan pengusaha sebagia akar dan batangnya. Kekuasaan negara dalam undang-undang itu independen dan bebas intervensi, tetapi apakah itu betul-betul terbukti dihadapan para pengusaha?. Pertanyaan ini, kadang pemerintah sendirilah yang boleh menjawabnya. Rakyat jelata macam saya ini mana boleh dan mana mampu. 


Para cukong ini, selain dekat dengan pemerintah mereka juga dekat dengan segala program pemerintah. Sebutlah sektor pertanian, peternakan, industri dan lain-lain. Mereka bahkan ada yang tampil dengan gaya filantropi ala George Soros. Memberikan bantuan kepada peternak dan petani melalui tangan-tangan yayasan maupun Lsm. Bahkan, untuk memuluskan program bantuannya, mereka seringkali nebeng secara siluman melalui program-program pemerintah yang katanya pro rakyat, meskipun pro rakyat itu harus ditafsir lagi. Kepintaran mereka dalam memainkan bola sungguh mulus nan cantik. Tak tampak meski sangat terasa dan berpengaruh. "invisble hand and man". Tangan-tangan tersembunyi dengan cengkraman yang mematikan. Bukan mati terbunuh, tapi mematikan rasa. Rasa kritis.


A/N Hamsir Jailani 


Bagi Artikel ini


Post a Comment

 

Alamat

Bantaeng-Indonesia
HP : +6285242923601
Email : safhiqsaah@yahoo.com
Pin : 73CDD5F8

Sosial Media





Copyright © 2014

Copyright © 2014
Copyright © 2014. Media Karya Publikasi - All Rights Reserved
Edit by Sabri Sajha Powered by safhiqsaah.com