Kontak Kami

Name

Email *

Message *

PANU (Bibit Novel Part I)

Udara hari itu begitu panas, musim tahun itu saat sungguh sangat berbeda tahun-tahun sebelumnya. Orang orang lebih banyak melakukan aktifitas sebelum matahari meninggi dan istirahat saat panasnya mulai menyengat dan membakar. Pohon pohon bergoyang ditiup tiup angin dari segala arah hingga menggugurkan daun daunnya yang mulai tampak mengering. Disebuah sungai yang tidak terlalu jauh dari rumah penduduk, airnya mulai semakin surut menuju pendangkalan, meski masih ada beberapa bagian yang tetap dalam.
Disungai itulah orang orang melepas sekian banyak hajat. Mulai dari hajat yang tak boleh ditunda, keperluan mencuci, mandi sampai hanya untuk sekedar duduk duduk belaka melepas penat sambil bersenda gurau. ”Tette’ sikurami daeng Raza’? Tanya Marzuki kepada tetangganya yang sedang sibuk melap tubuhnya dengan handuk yang mulai robek dibeberapa bagian. “E tanre’ to’ kuisseki injo cuki’,ka tanre’ kuerangngi jam tanganku, tapi pasti singkamuaji sikarie’ ia”. Jawab daeng Raza’ mulai melucu. Yang bertanya hanya tersenyum sambil berkata dalam hati “Pasti punna kulanjutki pakkuta’nangku loe isse’ inne caritanna tau toayya he”.
Cuki’ adalah sapaan sehari hari bagi Marzuki dan diapun tidak mempersoalkan sapaan tersebut. Cuki’ adalah anak kelima dari Sembilan bersaudara, anehnya kesembilannya hidup semua, dari pasangan Daeng Sanro dan Ma’ro. Sanro adalah nama ayahnya dan Ma’ro adalah Ibunya. Ah..nama mereka memang unik, jarang dan mungkin hanya mereka berdua yang memakai nama tersebut. Keduanya, termasuk salah satu rumah tangga yang juga tidak tersentuh program Keluarga Berencana Pemerintah. Sebuah rencana untuk mengurangi jumlah makhluk hidup. Mungkin keluarga SAMA’ (Sanro dan Ma’ro) ini, sebenarnya mau melakukan hal itu, tapi dasar programnya saja yang belum sampai atau memang belum disampaikan. Karena pada umumnya, warga kampungnya rata rata memiliki keluarga yang Oras. “E Cuki’ anre’ja kau nulanrio”. Teriak Matto’ dari atas batu besar. “Baa, tapi kukaluppai ngerang sabun bela” Jawab Cuki’ sigap ”Ka sabun kumi pake macca” Tukas daeng Matto sambil menawarkan sabun. Cuki’ dengan wajah yang tampak bingung dengan tawaran daeng Matto’ mulai berfikir bagaimana menolak tawaran daeng Matto’ tersebut. Akhirnya Cuki’ berkata “Teamaki deh Atto’ la maeji Sanroku siampe’”.
Dengan wajah riang karena tawarannya akhirnya ditolak juga, maka daeng Matto’ tanpa ba bi bu,langsung nyelonong pergi dan berlalu dihadapan Cuki’. Dalam hati Cuki berkata “baji’naja tanna passaja”. Cuki tahu, daeng Matto memiliki beberapa jenis penyakit kulit yang sukar sembuhnya, tapi yang paling ditakuti olehnya adalah panu. Panu yang nyaris menyelimuti sebagian besar tubuh daeng Matto. Panu daeng Matto’adalah jenis panu yang sudah sangat akut karena hampir setiap hari menjalar kebagian tubuh yang lain. Meski dalam beberapa penelitian ilmiah, panu hanya bisa menjangkiti orang lain jika orang berpanu memiliki kesamaan jenis golongan darah pada calon korbannya. Tapi, ah..mana tahu Cuki’ dengan yang demikian, bukankah yang ia tahu hanya bagaimana kopi bisa berbuah, subur dan memberi hasil yang banyak. Pun bagaimana coklat dikebun tidak Puru-puruang. Ketakutan Cuki’ terhadap panu sungguh sangat berlebihan, dia pernah berkata bahwa panu bisa membuat orang tidak bisa memiliki keturunan. Wah..dari mana Cuki’ dapat pengetahuan itu yah?.
Belakangan Cuki’ menjelaskan bahwa, jika kita panuan dan sudah menjalar nyaris keseluruh tubuh maka takkan ada wanita atau perawan desa yang sudi menikah denganmu. “Tapi daeng Sangkala tawwa panoang tonji na le’ba’mi bunting, nia’mo pole ana’na”. celetuk Nasir yang biasa dipanggil teman temannya Nasi bungkus itu, seolah ingin membantah pernyataan Cuki’ barusan. Cuki’ bukan jenis orang yang mudah mengalah, dengan secepat mungkin kabel kabel dalam otaknya segera terhubung untuk mengolah huruf huruf menjadi kata kata, maka berkatalah Cuki’ sambil tertawa “haha..tanre’ nuissengi kau daeng Ma’u’ di, attunna assassa rikaloroa nacaritai kalenna” Tanya Cuki’. “ngurai minjo bede’”. Nasir Tanya balik. “njoka´daeng Ma’u’ anu nakabusi to’ isse’ mae pano, kah kuciniki..ele..le na manna karamenna panoangji kodong” jelas Cuki’ kepada Nasir. Nasir yang mendengar penjelasan Cuki’ tidak bisa lagi menahan tawanya, maka meledaklah tawa mereka berdua dipinggir sungai itu sambil sesekali Nasir berkata “kamasena into daeng Sangkala kodong, sipanoimi intuyya”
Sambil menunggu kedatangan Sanronya, Cuki’ sesekali menggoda para gadis gadis Desa yang mencuci disungai dimana Cuki’ berada. Cuki’ di desanya terkenal sebagai orang yang sering melucu, hampir semua orang yang dia temani bercerita pasti tertawa terbahak bahak sampai terkencing kencing. Hanya ada satu orang yang paling ditakuti Cuki’, sosok daeng Raza’ itu. Daeng Raza’ selalu memberikan jawaban ke utara jika Cuki’ bertanya yang arahnya ke Timur. Maka, tiap kali Cuki’ bertemu dengannya pasti otak humor Cuki’ tiba tiba tunduk dan tak bergairah. Satu hal yang Cuki’ tahu, daeng Raza’ adalah jenis lelaki takut Istri, bahkan sangat takut dengan istrinya. Untuk urusan memasak dan mencuci, nyaris selalu dikerjakan oleh daeng Raza’ seorang diri.

Lama juga Cuki’ menunggu kedatangan Bapaknya membawa sabun. Nyaris minatnya untuk mandi menghilang. Beberapa saat kemudian, daeng Sanro datang membawa sabun. Sabun yang dipotong, dibagi dua agar sepotong yang satunya lagi disimpan untuk keperluan yang lain pula. Saat Sanronya datang, mulailah Cuki’ mengguyur dirinya dengan air jernih nan sejuk disungai itu.
***
Beberapa bunga ditaman yang sempit, milik Ibu Suryani tampak mulai mengering setelah disirami oleh Kasma anak bungsunya sedari pagi masih belum bercahaya penuh. Ibu Suryani memiliki anak empat orang, anak pertama seorang perempuan. Anak sulungnya ini diberi nama Minawati. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam pekat. Namun sayang sekali, Minawati tidak sempat menikmati masa kanak kanaknya. Semenjak masih berumur dua tahun, dia mengalami kebutaan, buta yang justru mengantarkannya menuju sang khalik. Waktu itu, Ibu Suryani sedang mengandung. Selang dua bulan setelah kematian Minawati, lahirlah anaknya yang kedua. Seorang lelaki, kulitnya pun putih seputih kulit Minawati. Beberapa bulan setelah anak keduanya lahir, kondisi rumah tangga Ibu Suri, demikian dia disapa oleh tetangganya mengalami berbagai macam masalah. Suami Ibu Suri sering uring uringan, doyan marah marah tak jelas. Hampir setiap hari suaminya marah, mempersoalkan apa saja yang kadang tidak masuk akal. Belakangan diketahui, bahwa Suami Ibu Suri adalah Suami cemburuan alias pencemburu berdarah hangat. Sering sekali Ibu Suri dibuat sedih dan menangis dengan tuduhan tuduhan yang di dakwakan suaminya kepadanya. Beberapa bulan berlalu, anak kedua Ibu Suri mulai besar, menjadi lelaki yang gagah. Umurnya kini memasuki usia tiga tahun. Saat berumur tiga tahun itulah suami Ibu Suri, justru pergi meninggalkannya.
Pernah pada suatu hari, sepupu Ibu Suri bertandang kerumahnya untuk sekedar bincang bincang dan menikmati kopi seduhan tangan Ibu Suri. Suami Ibu Suri masih dikebun waktu itu, tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sambil menunggu Ibu Suri memasak air. Daeng Ali, demikian sepupunya dipanggil namanya memilih baring baring dikamar yang memang disediakan bagi tamu. Belum lagi daeng Ali menikmati berangin angin dikamar melepas penat akibat kemarau yang menggigit, tiba tiba tetangga daeng Suri berteriak teriak tak jelas. Karena di dorong rasa penasaran, daeng Ali urung untuk baring dan memilih beranjak untuk memastikan arah dan bunyi teriakan tersebut. Daeng Monna ternyata yang berteriak teriak yang sesekali menyebut nama daeng Ali. Setelah memastikan bahwa betul memang namanya yang disebut sebut oleh daeng Monna, maka daeng Ali pun bertanya “Nguraki daeng Monna?”  Menyadari bahwa ternyata Ali mendengarnya berteriak, maka daeng Monna pun memanggil daeng Ali kerumahnya. “Ali, konneko rolo’ nia’ laku pawwangko” Dengan wajah serius daeng Monna sambil member isyarat kepada daeng Ali agar segera kerumahnya. Tanpa berfikir panjang maka daeng Ali pun Nimporong dan naik kerumah daeng Monna. “Nubutu’ barani kamuako ammantangngi rate, anre’ nuciniki injo buru’nenna i Suri la’busumi bunga bunganna nabela’?” Tanya daeng Monna dengan mimik yang sangat tegang. “Apantu masalah bela?”  Tanya daeng Ali bingung. “Nakimburuko injo buru’nenna i Suri lasso, tanna ngai punna nia’ buru’ buru’ne tulusu battu riballa’na” Datar sekali daeng Monna menjawab pertanyaan Ali.
***
Gelap malam semakin bergeser menuju pagi. Mentari bersama sang waktu berebut tempat untuk sekedar menyapa bumi. Subuh yang begitu dingin, dingin yang mulai semakin menusuk hingga ke rongga rongga tulang warga dusun Ganting. Beberapa warga masih betah mendengkur dikasur bersama mimpi mimpinya. Para pasangan muda mudi yang baru saja beralih status menjadi pasangan suami istri, sama sekali tidak terganggu dengan bunyi kokok ayam yang bersahutan di seantaro dusun Ganting. Justru subuh hari seperti itu, bagi mereka adalah momen paling nikmat untuk memadu kasih agar tubuh sedikit hangat dan menghangat sebelum panasnya fajar mengusir kenikmatan yang tersaji.
Ibu Suryani subuh itu, lepas sholat mulai sibuk mengatur segala persiapan dan kebutuhan barang barang bawaan yang akan dibawa anaknya bepergian jauh, kesebuah tempat mengejar mimpi dan cita citanya. Sembari menunggu anaknya kembali dari Musholla sholat subuh, Ibu Suri napalece Kasma anak bungsunya untuk membantu mengatur barang-barang kakaknya serta meminta Kasma untuk jangan terlalu bersedih. Toh, kakaknya pergi untuk kembali lagi. Kasma tak henti-hentinya menangis. Bahkan tangisannya semakin menjadi-jadi saat pagi semakin dekat, saat sang fajar digeser oleh kemunculan batang hidung mentari yang mulai menyinari pohon-pohon mangga disekitar rumahnya.
 “Assalamu’alaikum” Sebuah salam dari balik pintu. “Bukaki dulu pintu nak !” Tanpa harus diulangi, Kasma dengan mengucap salam balik langsung membuka pintu. “eh..kita’ om, masukki”  seru Kasma kepada Omnya yang dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. “nia’ji daennu”? Tanya Pak Ali alias Omnya. “belumpi pulang Om, singgah mungkin dirumahnya Wawa pulangnya sholat subuh”. Jawab Kasma dengan tetap menggunakan bahasa Indonesia versi orang-orang Makassar. Meski Omnya setengah hidup menggunakan bahasa lokal alias bahasa Konjo, tapi Kasma yang memang sudah terbiasa menggunakan bahasa Indo-Makassar, tak peduli dengan siapa ia sedang berbicara. Sebab, sedari kecil Kasma sudah terbiasa menggunakannya sebagai bahasa sehari-hari. Oleh karenanya, Kasma pun tidak merasa risih jika harus ber-Indo-Makassar.
Omnya hanya melempar senyum kepadanya sambil berlalu menghembuskan rokok kesayangannya. Setelah tahu yang datang adalah Pak Ali alias sepupunya, Ibu Suri langsung beranjak dan “eehh..battu tamaeko”? Tanya Ibu Suri langsung “battue ri pasara boya tambako, tamaemi ana’ buru’nenu”? Tanya daeng Ali kemudian. “Tamae arekai assengka, na birimmi njeka tette’ sagantuju na tengngang minro”? Jawab Ibu Suri sambil berjalan menuju dapur bikin kopi. Daeng Ali pun melanjutkan menghisap tambako ma’ranya dengan nikmat seolah rokok buatannya tak ada tandingannya sama sekali.
Beberapa saat kemudian, Ibu Suri sudah membawa kopi pahit alias kopi tanpa gula dengan camilan sekedarnya yang biasa disebut loka pallu yang masih sangat hangat. Loka pallu adalah pisang yang dimasak sampai terbelah, saat airnya mendidih maka orang-orang dikampung Ganting biasa memberi garam untuk menambah cita rasanya. Pisang yang dimasak sangat sehat dan berguna untuk tetap menjaga kesehatan, karena sama sekali belum bercampur dengan bahan-bahan pemicu datangnya berbagai macam penyakit mematikan. Kadang-kadang orang-orang pun menyajikannya dengan cobe’ tai minnya’ atau sambal dengan campuran ampas minyak yang dibuat warga sendiri. Maka semakin nikmatlah rasanya pisang masak tersebut.
Menjelang jam 09 pagi, anak lelaki Ibu Suri baru pulang dari rumah H.Basri. H.Basri adalah termasuk keluarga dekat Ibu Suri. Karena, ayah H.Basri adalah termasuk kakek Ibu Suri, ayah H.Basri bersaudara dengan nenek Ibu Suri meski dari bapak yang lain, tetapi mereka sangat saling menghargai. “Assalamu’alaikum”. Terdengar salam dari luar. Kasma yang kebetulan sedang menyapu dekat pintu langsung menjawab salam tersebut. “Adami Om, Kasma?” Tanya Kakak Kasma yang manis itu, “ie’ dari tadiji na datang” Jawab Kasma dengan aksen seolah-olah tamu yang datang adalah orang yang sangat penting. Kakaknya hanya tersenyum dan masuk kedalam untuk menemui Pak Ali, alias Omnya tersebut.
Pak Ali masih menikmati kopi suguhan sepupunya sambil sesekali menggulung tambako ma’ra yang ia beli dipasar pagi tadi, saat anak kebanggaan Ibu Suri masuk untuk menemuinya. “Sallomaki Purina” Tanya kakak Kasma. Kakak Kasma memang lebih suka menyapa Omnya dengan kata Purina. Kata Purina sendiri sama pengertiannya dengan paman atau Om dalam bahasa Konjo orang-orang Bantaeng khususnya orang-orang Kampung Ganting. “io nak, battu tamaeko ntuka”? Jawab Pak Ali sambil bertanya balik “Sengka’a ri A’jina I Wawa’ nganre sinole’, la’ju loei nabayu bainenna jari nakioka issede’” Jawab Keponakan Pak Ali tersebut “Oh..eh..jariko lampa membara”? Tanya Pak Ali sambil tangannya memilih Loka Pallu yang mulai kacicci’ tersebut. “ie’ Purina, insya Allah punna anre’ja halangan” Jawab Keponakannya tersebut. ”Maeko pale’ riballa’ siampe’ bangngi nak di, nia’ laku pawwangko” Panggil Pak Ali dengan mimik dan suara yang serius “ie’ Purina, Insya Allah punna anre’ja nabosi” Timpal Keponakannya tersebut dengan nada suara yang lucu “Latemaeko ngalle bosi ri timoro pongoro pakonnea”? Tanya Pak Ali sambil mengelus bulu jenggotnya yang mulai banyak tumbuh kembali. Keponakannya hanya tertawa lepas yang membuat Omnya ikutan tertawa karena merasa apa yang dikatakan keponakannya barusan adalah hal yang begitu lucu.
Setelah sholat dhuhur dan makan siang dirumah sepupunya, pak Ali bergegas pulang kerumahnya. Kasian istrinya sendirian dirumah, apalagi cuaca yang sungguh panas siang itu mulai berkurang panasnya karena sesekali tertutup awan yang lalu lalang ditiup angin diangkasa sana. Sebelum pulang kerumahnya, pak Ali tak lupa mengingatkan kembali keponakannya untuk mengunjunginya sebentar malam. Sembari menunggu keponakannya usai sholat, Pak Ali baring-baring di sebuah sari-sarigang untuk sekedar menikmati kepulan asap tembakau yang baru dibelinya. Sangat bangga rasanya menikmati tembakau dengan khasiat selangit yang merajai. Gumam Pak Ali. Pak Ali adalah ciri orang tua yang sangat kecanduan alias addiksi berat dengan yang namanya tembakau. Sehari Pak Ali mampu menghisap berpuluh batang tembakau hasil gulungan tangannya sendiri. Sehingga, Pak Ali sama sekali tidak akan merasa tenang jika tembakaunya tinggal beberapa Lakka’. Lebih baik istirahat makan sehari daripada harus kehabisan tembakau satu jam saja. Demikian prinsip pak Ali yang masih dijunjung tinggi olehnya hingga kini. Yang mengherankan adalah Pak Ali tidak suka merokok dengan rokok kretek atau rokok semacam Gudang Garam atau dji sam soe. Pak Ali mempunyai alasan tersendiri dengan pilihannya tersebut. Mengenai alasan tersebut akan diceritakan nanti kalau ada umur yang panjang.
Beberapa saat kemudian, keponakannya muncul dengan peluh diwajahnya diterpa panas yang mengguyur perjalanannya pulang dari Musholla. Musholla kecil yang selalu ditempatinya sholat lima waktu memang agak jauh dari rumahnya. Butuh sekian menit untuk tiba ditempat suci tersebut. Namun, bagi pemuda satu ini, bukanlah halangan untuk tidak melaksanakan sholat duhur nan panas secara berjamaah. Setelah berbincang beberapa saat dengan keponakannya, pak Ali pun mengakhiri perbincangannya dengan berucap “Nak, kutayang tojekko into siampe’ di, nia’ loka lolo riballa’ ga’ga nisuro bayu to’nya’ ri tantanu” Jelas Pak Ali mengingatkan keponakannya “Ie’ Purina, battuja into, manna pole anre’ to’nya’ loka”
Setelah yakin panas sudah tidak terlalu menggigit Pak Ali pun berjalan pulang kerumahnya yang lumayan jauh, butuh waktu satu jam untuk sampai dirumahnya pun dengan jalan kaki. Debu-debu mengepul dihadapan rumah Ibu Suri dan mulai beterbangan kiri kanan mengundang kantuk disiang hari.

Muhammad Samarya atau Muhammad Samarayya. Yah ! itulah nama pemberian Ibu Suri kepada anak lelakinya sekaligus keponakan Pak Ali. Cukup unik juga nama yang diberikan ibunya. Nama yang boleh jadi hanya anaknya saja yang disebut demikian. Nama yang sederhana, sesederhana orang yang memberi serta sederhana pula pengertiannya. Kata “Muhammad berarti terpuji, baik. Sedangkan “samarayya” berarti umum, biasa ataukah orang biasa. Nama ini, menurut ibu Suri sebagai penjelasan pula bahwa keluarganya meski bukan keluarga ningrat atau bangsawan, tetapi pun bukan keluarga Ata ataukah budak yang bahasa kerennya disebut hamba sahaya. Keluarga atau keturunan Ibu Suri bukanlah orang-orang hebat, bukanlah golongan masyarakat feodal yang memiliki berhektar-hektar tanah. Keturunan Ibu Suri adalah orang biasa, tak ada yang terlalu istimewa dengannya. Meski demikian, keturunannya bukan pula jajaran orang-orang yang menghambakan dirinya kepada golongan-golongan ningrat ataukah mereka yang memiliki beribu luas meter lahan yang membutuhkan tenaga penggarap yang siap diperas keringatnya meski dengan upah yang kadang tak wajar. Masih bagus kalau diupah, kalau hanya diberi makan satu kali perhari dengan lauk seadanya yang khusus untuk mengisi perut saja. Nyaris mereka para penggarap lahan kaum ningrat, tak pernah tahu, merasakan dan mengenal khasiat namanya kenyang, kenyang karena makanan yang lezat dan menggiurkan. Boleh jadi, meraka hanya mengenalnya lewat mimpi saja.
Muhammad Samarayya. Demikianlah ia dipanggil namanya. Harapan Ibunya adalah dengan nama ini, kelak anaknya akan terbiasa dengan sifat-sifat terpuji, terbiasa berbuat baik, dan segala hal yang bernilai positif. Karena merasa namanya cukup panjang untuk disebutkan, maka menjelang masuk disebuah sekolah SMA dulu, ada seseorang yang sering memanggilnya dengan sebutan Rayya atau Arya.  Rayya, bertemu dengan seorang gadis cantik, kulitnya putih, giginya putih bersih, dengan senyumnya yang khas, manis. Alisnya melintang bak taji yang runcing, bibirnya sama tipis bagian atas dan bawah, dagunya sedikit terbelah dengan lesung pipih yang indah. Hidungnya mancung tipis dan dibagian atas bibirnya ditumbuhi bulu-bulu halus yang semakin mempercantik dirinya. Saat itu Rayya, sedang duduk-duduk diruang tes untuk ujian lulus masuk ke SMA. Tanpa Rayya sadari, disudut kelas ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Seorang gadis cantik berkerudung biru dipadu dengan baju khas perempuan ayu. Gadis cantik itu bernama Erma, Ermayani Nurdin. Seorang anak kepala sekolah disebuah sekolah dasar di kecamatan Tompobulu.
Menjelang ujian dimulai, Erma berharap sekali dalam hatinya agar supaya bisa duduk berdekatan dengan lelaki yang tengah diperhatikannya. Sementara itu, Rayya asyik sekali dengan dirinya, belajar dan tampak bersemangat sekali membuka lembaran-lembaran kisi-kisi soal yang menurut perkiraannya kemungkinan muncul sebagai pilihan nantinya. Jam 08.30, para dewan guru beserta pengawas ruang tes pun memasuki aula, guru-guru tersebut memberikan pengarahan bahwa selama tes berlangsung anak-anak sama sekali tidak diperbolehkan ribut-ribut dan harus mengerjakan tes secara tertib serta tidak diperbolehkan menyontek melalui catatan apapun. Lembar tes dan lembar jawaban pun mulai dibagikan. Rayya maupun Erma, tampak sangat antusias dan serius mengerjakan soal-soalnya. Bagi Rayya, soal-soalnya tidak terlalu rumit karena beberapa yang muncul nyaris dihapal luar kepala olehnya. Erma pun demikian, meski dilembaran essai Erma harus memutar otak menemukan jawaban-jawaban yang tepat untuk ditulisnya. Harapan Erma, untuk bisa duduk berdekatan dengan Rayya sama sekali tidak tercapai. Rayya duduk dikursi deretan kedua dari depan sisi paling kiri. Sementara itu, Erma duduk dikursi paling depan sebelah kanan baris pertama.
Pengumuman hasil tes, akan di tempel sekitar dua hari setelah semua lembar jawaban diperiksa. Semua calon siswa-siswi dipersilahkan untuk mengecek pengumumannya selama dua hari waktu jeda. Jam 11.45, waktu ujian pun berakhir semua peserta tes pun berhamburan keluar aula sambil tak lupa berharap-harap cemas tentang diri mereka masing-masing. Apakah akan dinyatakan lulus atau tidak.
Singkat cerita , Rayya dan Erma pun lulus untuk masuk SMA bersekolah ditempat yang lumayan bagus dan ditempat yang sama. Erma, meskipun cantik dan terkesan ayu, namun sikap dan tingkah lakunya sama sekali tidak menggambarkan seorang perempuan ayu. Justru, kesan maskulinnyalah yang terlalu menonjol secara kental. Beda sekali dengan Rayya, dia orangnya pendiam dengan gaya yang sedikit cuek disertai kesan feminim yang akut. Bahkan, prosesi perkenalannya dengan Erma harus diawali oleh Erma sendiri, sang gadis tomboy dari gunung. Rayya baru saja balik dari W.C untuk keperluan hajat yang tak boleh dibatalkan, saat Erma mendekatinya sambil menjulurkan tangan mengajak Rayya berkenalan “Hai..nama aku Erma, tepatnya Ermayani Nurdin, kamu siapa”? Tanya Erma dengan gayanya yang khas. Rayya, dengan sikap pemalunya menyambut tangan Erma “saya Muhammad Samarayya, biasa dipanggil Rayya”? jawab Rayya singkat. “oh..alamatnya dimana”? Tanya Erma lagi. “Saya dari Tompobulu, tepatnya dikampung Ganting, kamu sendiri anak mana?” jawab Rayya sambil mengajukan pula pertanyaan yang sama “Aku tinggal di Be’lang, Bantaeng” Jawab Erma dengan cekatan. Setelah pertanyaan tersebut, Rayya hanya tersenyum dan tak melanjutkan ke pertanyaan yang lain lagi. Erma pun kembali bertanya, Bolehja’ duduk dibangkuta’, samaki?” Rayya pun hanya mengangguk tanda setuju.
Sampai ke kelas tiga SMA, mereka berdua tetap satu bangku, hingga mereka berdua selalu dijadikan bahan olok-olokan oleh teman-temannya dengan sebutan SUAMI ISTRI IDAMAN.
Mereka berdua samasekali tidak menghiraukan olokan tersebut. Malah pernah suatu hari, saat mereka berdua tinggal menunggu pengumuman kelulusan akhir dibangku sekolah. Erma secara blak-blakan bertanya kepada Rayya, “Ayya, bagaimana itu di’ kalau misalnya celoteh teman-teman bisa jadi kenyataan nantinya, serunya itu” Rayya hanya tersenyum sambil berkata kepada Erma “wah..mati mendadak nanti Ettamu deh kalau dapat menantu seperti saya, sudah jelek, miskin, hidup lagi” Mereka berdua hanya tertawa bersama melalui hari seolah tanpa masalah dan rintangan. Bukan apa-apa, Rayya tahu betul bagaimana karakter orang tua Erma, Keras, tegas, penuh dengan aturan yang tak boleh dilanggar. Erma hanya diperbolehkan berteman dengan yang sederajat dengannya, harus tajir, berlatar belakang keluarga berada dan sebagainya. Rayya hanya beruntung saja, sebab Erma beberapa kali ditegur oleh orang tuanya untuk tidak bergaul lagi dengannya. Hanya saja, Erma tidak peduli sebab Rayya termasuk siswa yang memiliki otak lumayan encer, disamping baik, sopan dan bagi beberapa cewek, Rayya termasuk cowok termanis dikelasnya. Maka, oleh semua itu, bagi Erma adalah nilai plus yang dimiliki Rayya yang harus dipertahankannya. Erma termasuk cewek yang baik, beberapa sikap dan perilaku orang tuanya tidak disepakatinya. Suka membanding-bandingkan nasab atau keturunan adalah hal paling tidak disukai oleh Erma. Karna bagi Erma, semua manusia sama saja, punya hidung, punya mata, kaki, mulut, dan semua identitas tak ada yang berbeda, hanya cara memahami hiduplah yang kadang-kadang berbeda.
Sesungguhnya, Erma menaruh hati kepada Rayya selama hampir tiga tahun sejak awal mula ia melihatnya saat menjelang ujian masuk sekolah atas. Hanya saja, Erma merasa ragu menyampaikan langsung kepada Rayya. Apalagi, Rayya adalah tipe laki-laki yang cuek dengan urusan pacar-pacaran atau cinta-cintaan. Bahkan, Rayya pernah berkata kepada teman-temannya bahwa dia termasuk orang yang kesulitan jatuh cinta atau menyukai seseorang karena seseorangnya itu cantik atau pintar. Sehingga Erma, demi mendengar penjelasan Rayya mengenai hal tersebut. Erma secara pribadi harus menanyakan tipe aau cirri-ciri wanita yang mungkin jadi harapannya. “Ayya, ada mau kutanyakan, bolehji toh?” Tanya Erma gugup “Ia, bisaji puang, selama tidak bertanya jaki berapa uang didompetku” Jawab Rayya santai. Erma merasa bingung harus mulai bertanya dari mana, sebab Rayya kadang serius saat diajak ngomong kadang pula lebih banyak lelucon atau main-mainnya dan sikap dan gaya seperti itunyalah yang paling disukai oleh Erma. Erma hanya terdiam dan senyum-senyum sendiri sambil sesekali membicarakan sesuatu yang justru Rayya sendiri tidak paham apa yang sedang dibicarakannya. “apaji puang, mau ditanyakan, kalau tidak jadiji mauka dulu ke perpus ambil buku paket, atau sekalian diperpuspi paeng na bertanyaki puang” Tanpa harus menunggu Erma menjawab pertanyaannya, Rayya langsung nyelonong ke ruang perpus yang memang tempat mereka duduk-duduk tidak terlalu jauh dari ruang perpus yang dimaksudnya.
Bunga mawar, bunga golkar dan pagar sekolah tak lekang dipandangi oleh Erma sambil menunggu Rayya kembali menemuinya untuk menuntaskan jawab dari tanya yang belum ia sampaikan. Rayya sibuk memilih buku paket yang akan dibacanya, setelah memastikan buku yang dicarinya ketemu, bergegaslah ia menemui Erma kembali yang sedang duduk sendirian menunggu bagai arwah penasaran. “Lamana cari buku, laparmaka menunggu kurasa” protes Erma kepada Rayya. Rayya hanya tersenyum dan tiba-tiba teringat kalau dia ada janji dengan Hajir, sahabatnya dari Bulukumba. Rencana mau kerumah Ahmad untuk menuntaskan keinginanannya belajar main gitar. Maka, tanpa berpikir panjang dan harus menunggu persetujuan dari Erma lagi, Arya pun berlalu sambil berucap “Besokpi baru bertanyaki nah, ada dulu mau kupergi sama temanku” Ucap Arya sambil berlari kecil meninggalkan Erma yang mulai kebingungan sendirian.

***
Hari keberangkatan Rayya pun kini telah tiba, isak tangis keluarganya pun berdatangan mengiringi kepergian Rayya. Rayya termasuk lelaki yang cukup tangguh, dia melarang ibunya menangis pun kepada adiknya dan termasuk kepada dirinya sendiri. Maka dengan sekuat tenaga Ibu dan adiknya berusaha menahan air mata yang kadang datang menghantui mereka untuk di tuntaskan. Rayya berfikir jika air mata adalah tanda kelemahan maka jangan pernah menangis saat bersedih, bertahanlah untuk tak mengalirkannya. Sebuah mobil Kijang Innova dengan warna kuning kecoklatan sudah parkir didepan rumah Ibu Suri. Mobil yang akan mengantarkan Rayya ke sebuah pilihan hidup, pergi menuju ke sebuah pulau yang membutuhkan suluh pengetahuan, pulau yang membutuhkan dinginnya air ilmu yang bermanfaat.

Jam 09.00 hari Kamis tanggal 04 April 2005, Rayya atau Arya pun berangkat. Ibu dan Adiknya tetap bertahan untuk tidak mengalirkan air matanya. Mereka berdua sebenarnya menunggu Arya menangis duluan, tapi tak sedikitpun Rayya memperlihatkan tanda tanda akan menangis, maka mereka memilih menangis setelah Rayya jauh menapaki jalan yang masih tak jelas indah ataukah tidak. Tak henti hentinya Ibu Suri berdoa dalam hati demi keselamatan anak tersayangnya. Diperjalanan melintasi antara Kabupaten Bantaeng dan Jeneponto, handphone Arya berdering, sebuah sms ternyata masuk. Rayya pun langsung membuka sms tersebut dan membacanya ((..Assalamu’alaikum, Ka’ minta maafka saya tidak datang menghadiri keberangkatanta, saya tidak diperbolehkan sama keluarga. Ka’, mungkin saya tidak bisa bertahan tanpa kita, tapi saya tetap akan berupaya bertahan untuk kita.semoga kita sampai ditempat tujuan dengan selamat.wassalm..)) 
Rayya berusaha tersenyum meski kecut sambil membalas sms tersebut “Wsalam..tidak apa dek kalau tidak datangki. Insya Allah saya akan baik baik saja. Tetap kita bersama jaga diri masing masing, jaga hati dan mata. Aku tahu, saya mengenal kamu dan kamu pun mengenalku”. Setelah sms tersebut dibalas oleh Rayya, si pengirim sms tidak lagi membalas, entah kenapa? Habiskah pulsanya, lowbetka baterainya? Entahlah..!! Tak terlalu terasa, perjalanan Rayya sudah dekat dengan Bandara Sultan Hasanuddin. Dengan penuh perasaan sedih dan senang bercampur-campur, Rayya pun memejamkan mata beberapa saat mengenang hari-hari yang menyenangkan saat masih dikampung. Ternyata, sekuat apapun Arya berusaha bertahan, perpisahan itu tetaplah menjadi sesuatu hal yang cukup menyiksa dan mengguncang perasaannya. 

a/n Hamsir Jailani 
Bagi Artikel ini


Post a Comment

 

Alamat

Bantaeng-Indonesia
HP : +6285242923601
Email : safhiqsaah@yahoo.com
Pin : 73CDD5F8

Sosial Media





Copyright © 2014

Copyright © 2014
Copyright © 2014. Media Karya Publikasi - All Rights Reserved
Edit by Sabri Sajha Powered by safhiqsaah.com