Kontak Kami

Name

Email *

Message *

Leadership Shock (Kaget Kepemimpinan)


Beberapa tahun terakhir, suksesi kepemimpinan(Baca:Pileg, Pilkades, Pilbub) baik daerah maupun pusat banyak diisi oleh kontestan kaum muda yang cukup ambisius yang kadang-kadang utopis dan pragmatis praktis. Dengan sedikit modal sentuhan organisasi daerah dan nasional, beberapa kali melakukan demonstrasi yang berlawan dengan kekuasaan serta banyak baca buku-buku tentang kelas dengan berbagai macam kesadaran-kesadarannya kemudian banyak mendiskusikannya hingga dinihari, banyak baca buku tentang filsafat, barat maupun yunani. Setelah beberapa tahun, mungkin empat atau lima tahun banyak berinteraksi dengan buku-buku dan dunia gerakan, akhirnya kaum muda tersebut merasa sudah cukup puas dan mampu untuk masuk ke arena yang lebih menantang menurutnya. Mulailah mereka berjejaring dan membangun kekuatan. Kekuatan yang dibangun inilah yang mereka akhirnya konsolidasikan untuk digiring ke wacana yang lebih praktis. Politik. 


Pemuda yang umurnya antara 27-28 tahun, dibeberapa daerah dan tempat banyak mengisi posisi-posisi calon, baik kepala desa, calon legislatif dan juga calon bupati. Meskipun calon bupati ini tidaklah banyak yang keluar menjadi pemenang dan sebenarnya, begitupun dengan dua calon-calon lainnya.hehehe. 

Kesadaran dini tentang kekuasaan banyak menjangkiti kaum muda, keprihatinan mereka seakan terlalu berlebihan dan seringkali mendekati utopis. Tapi, apakah mereka peduli tentang utopia mereka atau bukankah ini hanya sekedar tuntutan hidup dan prestise. Tuntutan karena sudah usai kuliah dari jenjang S1(Strata satu), lalu ijazah seakan tidak ada gunanya, salah satu gunanya adalah mendaftar sebagai calon kepala desa, caleg dan selainnya. Prestise atau mungkin rasa gengsi yang bertubi-tubi sehingga menjadi akibat dari tertutupinya pintu yang lain dari matanya selain ikut nimbrung menjadi kontestan politik. 

Dengan dalih demokrasi dan kebebasan berserikat, dengan mudahnya mereka menelan habis-habisan secara latah aturan tersebut. Dengan demikian, mereka terlalu berani kalau bukan over PeDe melawan para politisi mainstream yang sudah kental dan terbiasa dengan politik gaya orba. Sedikit saja mereka merasa terganggu dengan kehadiran politisi muda berbakat meski masih latah, segera langkah terakhir akan dibuat, eksekusi dengan cara paling mudah. Habisi mereka dengan politik elit tingkat tinggi. Kalau bukan perempuan, kriminalisasi dan mungkin berakhir dengan pembunuhan secara berencana. Kasian. 

Sekarang, kita coba lihat berapa banyak kaum muda yang masuk ke arena politik praktis lalu keluar sebagai pemenang. Apakah gagasan revolusionernya masih bertahan? Ataukah sudah berubah menjadi reptil-reptil baru yang siap balas dendam? Kaum muda yang terbentuk gagasan revolusionernya hanya empat sampai lima tahun, maka siap-siap saja melihatnya mengubur gagasan tersebut hingga kedasar bumi paling bawah, dan siap-siaplah kalian kecewa para pendukung yang secara sukarela memberikan dukungannya. Secara teori yang saya buat sendiri, mereka mengalami Leadership Shock, sebuah kondisi dimana mereka kaget dan menjadi sangat latah tatkala menjadi seorang pemimpin. Gagasan revolusionernya ternyata tidak cocok dengan dunia yang dia masuki, dunia baru dengan segudang surga yang menjanjikan, serba seksi dan menggoda. Tidak perlu waktu yang terlalu lama untuk merubah otak kritisnya menjadi reptil-reptil baru di jagad modern. Otak kritisnya akan bergeser, dan suka sekali menyerang siapa saja yang menolak keinginannya. Nampak sekali, mereka menjadi sangat tidak pro rakyat dan perubahan yang berbasis kepentingan rakyat, dan pula mereka menjadi sangat lapar akan pujaan dan hormat. Kasian sekali. Mereka jauh dari komunitas yang membesarkannya, yang memberinya semangat, sebab dia perlahan-lahan mulai membenci gagasan ideal yang dulu suka di diskusikannya hingga dini hari. 

Mereka yang terbentuk oleh gagasan-gagasan revolusioner saja tidak bisa bertahan, mereka yang pernah jadi pimpinan sebuah organ daerah maupun nasional saja masih latah jika dibentuk hanya lima tahun, apalagi mereka kaum muda yang samasekali tidak pernah memiliki pengalaman memimpin disebuah lembaga kepemudaan yang sehari-harinya hanya mengkritisi tapi samasekali tidak pernah bisa berbuat, merekalah yang sangat rentan terkena Shock Leadership. Maybe..!

A/N Hamsir Jailani

Generasi Patah Hati


Mata Rakyat
Anak adalah generasi masa depan pada setiap angkatan umat manusia. Generasi yang baik dan berkualitas akan senantiasa melahirkan penerus yang baik pula. Hingga kini, pada orde yang paling baru pun wacana tentang generasi muda senantiasa dijadikan hal yang sangat penting pada ranah ide dan gagasan serta harapan. Tapi, benarkah seluruh gagasan tentang generasi muda sudah betul-betul dilakukan secara nyata? Pertanyaan ini patut di apresiasi sebagai bentuk perhatian khusus terhadap masalah-masalah generasi muda kekinian. Kenapa hal tentang anak atau remaja sangat penting untuk diperhatikan secara khusus, sebab anak pada perkembangannya senantiasa meniru apa yang dilihat dan di dengarnya tanpa disertai proteksi serta filter.

Hal penting yang patut diperhatikan adalah proses pertumbuhan dan bagaimana mereka bergaul. Embrio kenakalan remaja nyaris sudah menjangkiti segala lini pergaulan anak muda. Tidak terbatas pada anak perkotaan saja, sebab embrio alias bibitnya menjadi sangat massif di daerah pedesaan. Hasil pengamatan pada beberapa angkatan generasi muda dipedesaan memberikan sebuah tanda bahwa bibitnya berkembang secara sempurna dan subur. Ada beberapa hal yang sesungguhnya membuat hal ini terjadi, diantaranya adalah kurangnya kontrol orang tua terhadap pergaulan anaknya, kurangnya program tentang pemuda yang masuk ke desa dan masih belum sampainya informasi secara menyeluruh tentang bahayanya Narkoba, Miras dan sejenisnya yang menjadi pintu masuk dan tumbuh suburnya embrio kenakalan tersebut. Dari beberapa anak atau remaja, jika dilihat dari usia dan jenjang pendidikan, mereka masih sangat rentan dan sangat labil, sehingga mereka sangat mudah terpengaruh pada hal-hal yang sesungguhnya akan merusak mereka. Hal ini belum kita bagi dalam bentuk jenis kelamin dan jumlah. Sebab, sebagian besar anak remaja kita di pedesaan bahkan para gadisnya pun memiliki cara bergaul yang jauh dari harapan dunia pendidikan sewajarnya. Salah satu bukti yang bisa dilihat adalah cara meraka berkomunikasi, didunia maya maupun nyata. Mereka bahkan sangat terbuka membicarakan hal yang seharusnya menjadi privasi.

Perkembangan mental anak senantiasa dipengaruhi pada dua hal pokok yakni, lingkungan rumah tangga dan lingkungan sekitar. Pada beberapa kasus, jika dirumah sang anak kurang mendapat perhatian, orang tua kurang mengayomi dan memberikan harapan terhadap pendidikannya, maka potensi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang kurang kasih sayang akan berefek pada keinginan sang anak untuk mencari perhatian dan kasih sayang diluar rumah tangganya. Jika ini terjadi, maka musibah terburuk yang akan dihadapi adalah potensi anak untuk menjadi nakal akan tertanam dalam dirinya.


Hal ini, bukanlah sebuah asumsi ataupun hanyalah semacam wacana tanpa bukti dan kejadian secara nyata. Fenomena ini, adalah sebuah gejala sosial kekinian yang justru dibiarkan tumbuh dan menjalar kepada setiap remaja yang masih labil dan cenderung ingin mencoba segala hal yang dianggap baru baginya. Kalau hal ini tetap dibiarkan maka generasi harapan bangsa akan sangat sulit tercipta dan perkembangan generasi baik akan berjalan melambat seiring tumbuh suburnya generasi labil dengan berbagai macam kebahagiaan semu yang sedang mereka nikmati. 

By. Hamsir Jailani

Putri Kecilku

Sejumput rindu kian merekah dari hari ke hari
Ketika ku tahu hadirmu yang kini tumbuh diragaku
Dan kelopak rindu ini kian semerbak ketika adamu tak hanya ku tahu
Tapi adamu kurasakan kini......
Engkau menyentuhku dengan gerakan lembutmu
Engkau membelaiku
Engkau mendekapku
Putriku.........
Setiap detik adalah detakan berharga dalam penantian rinduku
Penantian akan lahirmu menyaksikan dunia... kelak....
Tak cukup mewarnai jagad raya
Tapi engkau adalah pellita
Pengibar panji-panji kebenaran



Createdby Rya Yusuf
Postby FhiaSofia


Sore

Memandang suasana sore
Merasakan semilir angin yang menjadi dingin
Sendiri aku, namun tak berhenti kudengar detak jantungmu, dekat sekali
Kuberi tahu sesuatu
Hadirmu mengabadikan senyumku
Memanjakan rasa dan asaku
Hingga tak kuasa lagi kucari cinta selainmu
Kau kenyataan yang tak bisa kutepis
Tak dapat kusembunyikan dalam ramai dan sepiku.



Createdby Elma_Malewa
Postby FhiaSofia


Jebakan Mak Lampir

Saat itu sedang bulan ramadhan kira-kira tahun 2013 yang lalu, aku kedatangan seorang sepupu yang baru akan memulai masa pendidikannya di bangku kuliah. Ku sebutlah ia Daya.

Disuatu subuh menjelang pagi, setelah kami telah menunaikan kewajiban 2 rakaat dia lanjut menuju laptopnya dan memulai on dan terkoneksi dengan salah satu situs jejaring sosial FB, dan aku setelah sholat subuh dan membaca beberapa ayat Al-Qur'an kembali merebahkan tubuhku di belakangnya, aku pun terlelap. Lalu di tengah-tengah lelapnya tidurku, tiba-tiba Daya sontak berteriak dan menjerit.

"Aaaaahhhh, kakak, kakak bangun" Ucapnya gemetar.
 Aku pun terkejut dan terbangun lalu ku dengar sayup-sayup suara gemuruh, ku lihat ia telah  menenggelamkan wajahnya dibalik bantal kemudian aku melirik ke sebuah colokan karena ku fikir  colokannya terbakar akibat koslet. Lalu kutanyakan padanya.

"Eeehh kenapa?" Ucapku berusaha memperbaiki perasaanku yang masih kusut.
"Itu kakak, gimana caranya laptopku dimatikan?" Katanya yang masih dengan nada yang sama.
"Emangnya laptopmu kenapa?" Tanyaku keheranan
"Itu liat sendiri."
Akupun menyentuh tombol mausenya dan "Aaaaahhhh, ini kenapa bisa?" kagetku tak tertahankan  ketika melihat sesosok perempuan dengan rambut panjang terurai memasang wajah menyeramkan  dengan suara khasnya, iiiihihihihi............ Aku mulai ikut gemetar, lalu kunyatakan pertanyaan yang sama.

"Ini kenapa bisa gini dek?"
"Nggak tahu kakak, aku cuma ngeklik sebuah link yang tulisannya tertera ( Ingin melihat wanita cantik?  Klik  disini ), dan ternyata itu yang muncul"
 Dibarengi dengan gelak tawa kami berdua namun masih dalam keadaan takut, aku berusaha  mematikan  paksa laptopnya sebab gambar si wanita itu tak mau enyah dari balik layar monitor si Asus.

"Astaga ade, kamu tuh ya kenapa bisa sih?" Tanyaku sambil tertawa.
"Soalnya Aku penasaran kakak, ternyata cuma gitu aja wanita cantiknya. Hehehe."
 Setelah berhasil kumatikan paksa, kamipun lanjut terbahak-bahak dalam tawa yang tak tertahankan.


*Createdby FhiaSofia


Jaga Cinta Kita (Bag.6 dari The Short Novel "Senyum Sang Mentari") #End

Pagi itu saat Yudi masih Asik bermain dengan mimpinya tiba-tiba dia terbangun karena dikagetkan oleh suara handphonenya yang berdering, terdengar suara Sofi dari seberang telephone “Halo Yud. Selamat pagi sayang.” Sofi bersemangat, “Halo juga yank.Hhhmm” Yudi mendesah nafas. “Kamu dah bangun belum?” Yank, hari ini kamu ke rumah yah. Mama ingin ketemu sama kamu.” “Iya, aku udah bangun kok. Apa? Mamamu ingin ketemu sama aku?” Yudi kaget, dia bertanya-tanya dalam hati mengapa tiba-tiba Mamanya Sofi ingin bertemu dengannya? Apakah dia telah berbuat kesalahan?. Yudi tak merespon Sofi.

“Halo, sayang kamu masih di situ kan?”
“I-iya yank.”
“Kamu bisa kan ke rumah hari ini? Please.” Sofi memelas.
“Iya iya. Aku ke rumahmu. Tapi nanti setelah pulang dari kantor, gak apa-apa kan?”
“Hmm… Oke gak apa-apa. Ya udah aku tunggu yah.”
“Oke, sayang. Daahh.
“Dahh…” Sofi menutup telephone.

Dengan hati yang berbunga-bunga Sofi mempersiapkan beberapa  masakan yang dibuatnya bersama Mamanya untuk menyambut kedatangan Yudi. Hari itupun sangat cerah membuat hati Sofi semakin bersemangat. Beberapa jam kemudian akhirnya yang di tunggu pun datang. Setelah memarkir mobilnya di depan rumah Sofi, dengan langkah yang pelan namun terlihat sangat perkasa Yudi berjalan memasuki teras dan mengetuk pintu. Lalu pintu itupun di buka oleh seorang gadis yang terlihat sangat anggun dengan gaun berwarna biru muda dan semakin terlihat ayu dengan senyum khas yang tersungging di bibirnya. Sofi mempersilahkan Yudi masuk dan duduk di kursi berwarna merah marun dengan motif kuning keemasan. Menyuguhkan minuman dan beberapa macam jenis kue.

“Ayo Yud. Di minum airnya, kuenya di cicipi. Buatanku lho.” Sofi tersenyum.
“Wah, yang benner kamu? Kelihatannya enak.” Yudi mencicipi sebuah kue brawnies buatan Sofi.
“Hmmm, yank Mama kamu mana?” Tanya Yudi. Tapi belum sempat Sofi menjawab, wanita paruh baya  itupun muncul.
“Eh ‘nak Yudi sudah datang toh. Gimana kue buatan Sofi? Enak nggak?”
“Enak tante. Ternyata Sofi pintar juga yah bikin kue seenak ini.” Yudi memuji. Sofi hanya tersenyum dan  tersipu malu.

Mereka pun larut dalam obrolan yang panjang. Mulai dari masalah pekerjaan, keluarga, hingga masalah asmara. Karena keasyikan ngobrol tak terasa hari sudah mulai sore. Yudi pun bergegas untuk pulang.
“Sofi, tante. Kayaknya dari tadi kita keasyikan ngobrol deh sampai lupa waktu. Ini sudah sore, aku juga ada  janji dengan Ivan malam ini, kalau  gitu aku mau pamit pulang dulu.” Ujar Yudi.
“Iya yah. Tapi kamu pasti heran kan? Kenapa tante memanggil kamu kesini.  Tunggu sebentar ‘nak Yudi.  Tante mau memberikan sesuatu sama  kamu.” Mama Sofi pun berjalan menuju sebuah ruang untuk  mengambil barang yang akan di berikan kepada Yudi.
“Mamamu ingin memberikan apa sih, Fhi?” Tanya Yudi penasaran.
“Udah, kamu liat aja nanti. Aku yakin kamu pasti menyukainya.” Sahut Sofi sambil tersenyum.
“Nah. Ini tante buat khusus untuk kamu ‘nak. Mudah-mudahan kamu suka yah. Tapi di bukanya nanti  dirumah.” Sambil menyodorkan lukisan yang  terbungkus rapi itu. “Tante perhatikan waktu pertama kali  kamu kesini, kamu sangat tertarik dengan lukisan disana. Akhirnya tante berinisiatif  untuk membuatkan  kamu lukisan juga, meskipun itu agak sedikit berbeda.”
“Aduh tante, aku jadi nggak enak sama tante dan Sofi. Sampai segitu repotnya.” Ujar Yudi.
“Udah. Kamu terima aja. Mumpung gratis kan? He-he-he. Sofi tertawa diiringin dengan gelak tawa Yudi dan  Mama Sofi.
“Iya mumpung gratis. Tapi makasih lho tante, Sofi. Aku sangat menghargai ini.”
“Sama-sama ‘nak Yudi.”
“Kalau gitu aku pamit dulu.”
“Iya. Hati-hati di jalan ‘nak.”

Yudi pun pamit dan diantar oleh Sofi sampai ke depan pagar. “Fhi, makasih yah. Ini benar-benar kejutan buat aku.” Yudi tersenyum. “Sama-sama, yank.” Sofi membalas senyum Yudi. Kemudian Yudi melaju dengan mobilnya, hingga luput dari penglihatan Sofi.

Akhir-akhir ini Yudi sangat di sibukkan oleh pekerjaannya di kantor, terlebih karena sekarang Papanya sedang sakit dan di vonis mengidap penyakit jantung koroner. Sehingga dia harus mendapat perawatan yang intensif di rumah sakit luar negeri, dan Yudi pun  harus bekerja ekstra agar perusahaan yang saat ini sudah menjadi tanggung jawabnya tidak mengalami kebangkrutan. Sofi pun terbilang sibuk dengan pekerjaannya karena dia sudah bekerja di beberapa tempat kursus bahasa asing, karena kemahirannya menguasai beberapa bahasa asing. Tapi perhatian Yudi kepada Sofi, begitu pun Sofi kepada Yudi tidak berkurang sedikitpun, sebisa mungkin mereka bertemu di sela-sela kesibukannya dan saling berbagi cerita.

Suatu hari, Yudi menerima telephone dari Papanya yang berada di luar negeri. Meminta Yudi untuk sementara ikut pindah kesana, karena Papanya tidak sanggup mengurusi bisnisnya sendiri yang juga sudah semakin berkembang di luar negeri.

“Tapi pah, aku juga tidak bisa serta merta meninggalkan bisnis Papa disini. Ini juga penting pah.” Ucap Yudi  kepada Papanya diseberang  telephone.
“Kamu nggak usah khawatir, Yud. Papa sudah bicara dengan paman kamu, Edwin Setiawan. Dia siap  memimpin perusahaan selama kamu  mengurusi bisnis Papa disini.” Ujar Papa Yudi. “Kamu nggak usah  takut, paman kamu itu adalah salah satu orang kepercayaan Papa.” Papanya  meyakinkan.
“Oke, Pah. Aku akan berangkat 3 hari lagi.” Tanpa berfikir panjang, Yudi langsung menyetujui permohonan  Papanya. Mengingat bisnis  keluarganya yang terbilang sangat penting dan kesehatan Papanya yang semakin  hari semakin memburuk.

Sofi bangun lemas dari ranjangnya. Dengan lunglai ia merebahkan tubuhnya lagi ke atas kasurnya yang hangat, lalu memejamkan mata. Kenapa perasaanku nggak enak yah? Tadi serasa mimpi buruk, pikirnya. Tapi Sofi tidak tahu pasti artinya. Kejadian itu membuatnya gemetaran dalam tidurnya dan sekaligus membuatnya terpaksa bangun dengan rasa tidak nyaman.

Siang itu, Yudi dan Sofi bertemu di taman yang sudah menjadi tempat favorit mereka. Awalnya mereka masih santai dengan obrolan mereka, tertawa. Tapi kemudian dengan hati yang berdebar Yudi memberanikan diri membicarakan rencananya pindah ke luar negeri.

“Fhi, kamu baik-baik aja kan?” Tanya Yudi sembari menatap wajah Sofi.
“Kok kamu tiba-tiba nanya kayak gitu sih, yank? Yah aku baik-baik ajalah. Emang kamu liat aku sakit yah?”  Sofi menggeleng kepala.
“Nggak sayang, aku hanya mengkhawatirkan kamu aja. Yank, aku pengen ngomongin sesuatu, boleh?” Yudi  memandang Sofi dengan  pandangan serius.
“Kamu mau ngomongin apa, yank?” Tanya Sofi keheranan.
“Hmmm…. “ Yudi mengatur nafasnya. “Aku nggak tahu harus mulai dari mana. Fhi, sebelumnya aku minta  maaf sama kamu, ini mungkin agak  berat untuk kamu terima. Dua hari lagi aku harus berangkat keluar  negeri, yank. Ujung-ujungnya aku juga yang harus mengurus semua bisnis  Papa. Ini……” Yudi terbata-  bata dan tak melanjutkan ucapannya.

Sofi tak berkata-apa-apa. Dia hanya menunduk diam dan tak mau menatap wajah Yudi. Sangat jelas di raut wajahnya dia sangat kaget, tiba-tiba Yudi ingin pindah keluar negeri.

“Fhi, dengar ini juga bukan keinginanku. Ini keinginan Papa dan kamu tahu kan sekarang kondisi kesehatan  Papa gimana? Aku nggak mau  mengecewakan Papa. Sofi masih membisu. Suasana hening untuk beberapa  saat.
“Yank, percaya sama aku. Ini juga untuk kita berdua nantinya. Aku nggak akan lama.” Yudi berusaha  membujuk Sofi agar mau bicara.
“Berapa lama?” Sofi akhirnya bicara.
“Mungkin satu tahun, atau mungkin kurang dari itu, atau malah lebih. Aku nggak tahu, Fhi.” Yudi mendesah  nafas.
“Apa? Satu tahun? Mungkin kurang? Atau mungkin malah lebih? Kamu ini bicara apa sih Yud, satu tahun itu  bukan waktu yang singkat. Nada  suara Sofi meninggi dan dia mulai menangis, terlihat di ujung kelopak  matanya genangan air mata tak kuat menampungnya dan akhirnya  tumpah juga.
“Yank, dengerin aku…………” Sambil memegang tangan Sofi namun tak melanjutkan ucapannya. Tapi Sofi  malah melepaskan genggaman  tangan Yudi.
“Kenapa, Yud? Kenapa kamu harus pergi di saat perasaan sayangku semakin besar kepadamu?” Sofi semakin terisak-isak.
“Fhi, dengerin aku. Ini bukanlah perpisahan untuk selamanya antara kita. Aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Lalu apa namanya kalau bukan meninggalkan aku?”
“Kita memang akan terpisah oleh jarak, yank. Tapi kamu harus tahu hatiku, hatimu tidak akan terpisahkan.  Kamu akan selalu ada di hatiku.  Disini….” Yudi menunjuk ke dadanya.

“Lihat aku yank.” Yudi memegang dagu Sofi dan mengangkat wajahnya yang sudah kelihatan merah dan  mata yang sembab. “Aku ingin jadi cowok yang bisa kamu banggakan. Itu tekadku sebagai cowokmu.  Kemarin-kemarin aku sempat berfikir, di mana nilai seorang laik-laki itu? Tapi setelah aku ingat Papaku,  ingat almarhumah Mama, dan dikasih tahu sama Lidya juga, aku punya kesimpulan. Nilai seorang laki-laki  itu terletak pada kemampuan dia untuk menjalankan tanggung jawabnya pada lingkungan, pekerjaan,  keluarga, dan terutama pada diri sendiri. Dan bagiku, nilai seorang Yudistira Pratama adalah seberapa  mampu dia menjaga, menyayangi, dan membuat bangga Papanya, adiknya, dan Aina Sofia. Yap, aku ingin  bisa menjadi orang yang kamu banggakan, Fhi. Seperti dalam cerita, from zero to hero.”

Sofi menatap Yudi begitu dalam, namun dia hanya membisu. Tapi tak berapa lama kemudian Sofi akhirnya bicara lagi.
“Aku sayang sama kamu, Yud.” Sofi memeluk Yudi begitu erat dengan air mata berlelehan di pipinya.
“Aku juga sayang sama kamu, Fhi. Percayalah apa yang aku lakukan ini untuk kita berdua.”  Yudi pun  memeluk Sofi.
“Jaga cinta kita yah, sayang. Aku percaya sama kamu.” Ujar Sofi dengan suara serak tapi dia berusaha  tersenyum.
“Pasti sayang. Aku akan jaga cinta kita. Menjaga hatiku dan hatimu.” Yudi kembali memeluk Sofi dan  mencium keningnya.

Sofi akhirnya bisa menerima keputusan Yudi yang untuk sementara waktu harus tinggal di luar negeri bersama Papanya dan mengurusi bisnis mereka disana. Dua hari kemudian Yudi pun berangkat keluar negeri, Sofi mengantarnya sampai ke bandara. Namun walaupun begitu, hati Sofi tetap terasa sakit karena harus terpisahkan oleh jarak yang begitu jauh dengan sang kekasih. “Yud, sesungguhnya aku masih sulit menerima ini. Ketika harus terpisah jauh olehmu, aku tak bisa. Dengan waktu yang tak pasti, aku harus setia menunggumu disini.” Lirih terdengar suara hati Sofi.

Sebelum tengah malam, biarlah aku meletakkan
Setangkai mawar di tepi jendelamu
Sebagai pengingat janji kita
Bila tanah ini sudah kering dan terpuas birahi, mari
Kita rajut mimpi-mimpi yang kita titipkan pada
Bulan di atas sana 


*Createdby FhiaSofia


Adakah Aku Di Hatimu ? (Bag.5 dari The Short Novel "Senyum Sang Mentari)

Hembusan angin segar yang menyeruak ke udara yang masuk di sela-sela jendela membangunkan Sofi dari tidurnya yang nyenyak pagi ini. Pertemuan beberapa minggu lalu yang sering dengan Yudi cukup membuat hati Sofi berbunga-bunga. Itulah yang diharapkannya hari ini.

Seketika handphonenya berdering, Sms dari Yudi. Dia mengatakan bahwa akan datang jam 08.00 di tempat yang telah mereka sepakati, Sofi mengerutkan kening “Cepat amat sih. Tapi nggak apa-apa, aku juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.”  Sofi menguap. Ia berjalan membuka pintu kamarnya, mengambil handuk, lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Selesai mandi, Sofi sibuk memilih pakaian yang akan dikenakannya. Ia mematut diri di depan cermin beberapa kalu untuk memastikan pakaian yang cocok. Tak lupa ia membubuhkan bedak tipis di wajahnya. Setelah itu, Sofi langsung menuju ke tempat mereka akan bertemu. Sebuah taman yang tak jauh dari tempat kursusan Sofi.

Sesampainya disana ternyata Yudi sudah lebih dulu menunggunya, dengan hati yang berdebar Sofi menghampiri Yudi yang sedang duduk di kursi menghadap ke sebuah air mancur di tengah taman. “Ehm, hai Yud. Sudah lama? Tanya Sofi sambil memekarkan senyumnya. “Oh, tidak. Baru saja. Ayo duduk.” Sofi pun duduk di samping Yudi dengan memberi jarak. Dengan hati yang semakin berdebar seakan seluruh isinya akan tumpah, Sofi memulai bicara.

“Yud, kamu ngajak aku ketemuan disini ada apa yah?”
“Fhi, aku…………” Yudi tak melanjutkan
“Kenapa Yud? Apa ada yang salah denganku?”
“Nggak, nggak Fhi.”
“Trus kenapa?”
 Suasana hening, Yudi tak menjawab pertanyaan Sofi. Dia hanya menatap Sofi untuk beberapa saat.
“Fhi, aku ingin bertanya sama kamu. Boleh?”
“Iya, boleh. Silahkan saja Yud.” Sofi tersenyum.
“Fhi, sekiranya ada seseorang yang mengagumimu, tetapi kemudian perasaannya berubah menjadi perasaan  sayang. Yang entah kapan  perasaan itu mulai muncul dan mengganggunya. Apakah kamu akan  menanggapinya atau malah tak berdelik sama sekali?” Yudi bertanya  menggebu-gebu.

Mendengar pertanyaan Yudi, Sofi hanya diam. Dia pun tak mampu menoleh untuk menatap Yudi. Seketika debaran di hatinya mencapai puncaknya. Dalam hatinya berkata “Mengapa Yudi harus menanyakan hal itu? Apa yang akan ku katakana padanya? Apakah aku harus mengatakan kalau perasaan itulah yang sedang melandaku saat ini?.” Yudi memberanikan diri menepuk pundak Sofi yang hanya diam tak menanggapi.

“Fhi, kamu kenapa?” Tanya Yudi.
“E-e-eeehh, nggak. Aku hanya memikirkan jawaban yang akan ku berikan padamu tentang pertanyaanmu  itu.” Sofi berusaha relaks.
“Lalu apa jawaban kamu?”
“Jika apa yang orang itu rasakan padaku, sama dengan apa yang aku rasakan. Maka aku akan  menanggapinya, mencocokkannya dengan  keping yang ada di hatiku. Tapi jika aku tak merasakan hal yang  sama dengannya. Maka aku juga tak akan mengacuhkannya, bukan berarti aku  menerimanya. Tapi aku  akan memberikan dia pengertian tentang rasaku yang berbeda.” Sofi tersenyum lega.
“Oh begitu?” jawab Yudi singkat.
“Memangnya kamu sedang mengagumi siapa Yud? Ceritalah sama aku, meskipun kita berdua kenalnya  belum lama banget, tapi aku nggak  akan sungkan kok jika kamu mau berbagi.” Sofi mengusulkan.
“Eh, nggak kok Fhi.” Yudi menyangkal
“Memangnya kamu sudah punya pacar yah, Fhi?” Tanya Yudi dengan senyum yang tiba-tiba muncul di  bibirnya. Senyum yang berarti, ya- ampun-akhirnya-aku-menanyakan-pertanyaan-ketinggalan-zaman-ini.
“Belum.” Jawab Sofi singkat.
“Jika seseorang itu adalah aku, gimana Fhi?” Yudi tiba-tiba menanyakan hal yang membuat Sofi tak bisa  berkata-kata. Sunyi sesaat.
“Fhi, sebelumnya aku minta maaf jika pengakuanku ini salah dan mengagetkanmu. Tapi aku bicara apa  adanya, aku tak mau membohongi  perasaanku. Kamu baik, sederhana, bersahaja. Itu yang membuatku  jatuh hati padamu.” Yudi berkata dengan tanpa beban.

Jantung Sofi berdebar lebih kencang, “Tuhan, tolong jangan buat aku pingsan. Do’a Sofi dalam hati. Namun Sofi masih membisu. Yang terdengar hanya suara gemericik air mancur.
“Aku sayang sama kamu, Fhi.” Yudi tersenyum menatap Sofi. Sofi mencengkram kursi sambil menjerit  dalam hati, “Tuhan, aku pingsan nih!
“Yud, ak-aku……….” Akhirnya Sofi mencoba berbicara.
“Aku……….., aku nggak…nggak…..” Sofi tak melanjutkan.
“Kamu nggak bisa yah Fhi? Nggak bisa sayang sama aku?” Wajah Yudi tiba-tiba berubah redup
“Nggak, Yud. Aku Cuma nggak percaya dengan apa yang baru saja kamu katakan. Yud, jujur aku juga  menyayangi seseorang, entah mengapa  wajahnya selalu terbayang setiap aku membuka mata. Aku selalu  merindukan dia dalam setiap hembusan nafasku.”
 Yudi menunduk dan terdiam. Raut wajahnya semakin terlihat padam, ucapan itu seperti hempasan ombak  yang melemparkannya ke dasar  lautan.
“Seseorang itu adalah kamu Yud. Yudistira Pratama.” Sofi pun mengatakan dengan terbata-bata.
“Ap-apa, Fhi?” Yudi mengangkat wajahnya dan menatap Sofi.
“Iya, Yud. Orang yang selama ini membuat hatiku gelisah dan memberiku penyakit rindu itu adalah kamu.”  Ujar Sofi tersenyum.
“Jadi….., ka-kamu juga merasakan hal yang sama denganku, Fhi?” Tanya Yudi lega.
“Iya…… Aku juga sayang sama kamu Yud.”
“Benar apa yang baru saja kamu katakan? Aku nggak salah dengar kan Fhi?” Yudi menyeringai senang.
“Kamu nggak salah dengar kok.” Sofi mengangguk sambil melebarkan senyum khasnya.

Sofi sungguh tak menyangka kalau ternyata Yudi punya perasaan yang sama dengannya. Seketika suasana menjadi begitu damai, Sofi tak lagi menatap dengan pandangan kosong kedepan tapi sesekali dia melirik kearah Yudi yang duduk di sampingnya. Namun, ada 1 hal yang tiba-tiba muncul difikiran Sofi.

“Hmm…. Yudi, aku bahagia deh. Ternyata cinta yang aku pendam tak bertepuk sebelah tangan.” Sofi  tersenyum.
“Iya, Fhi. Aku juga demikian.” Ujar Yudi.
 “Tapi Yud, gimana dengan Lidya?”
“Lidya? Maksudmu Fhi?” Yudi keheranan.
“Iya Lidya. Waktu itu dia terlihat sangat akrab denganmu, aku melihat di setiap tatapannya padamu ada  sesuatu yang lain.”
“Ha…ha..,,,” Yudi hanya tertawa.
“Kok kamu ketawa sih, Yud.” Sofi mengerutkan keningnya.
“Ya iyalah. Kamu fikir Lidya itu pacarku? Kamu salah Fhi, jelas saja Lidya terlihat sangat akrab denganku.  Wong dia itu adik aku.” Yudi semakin  terbahak.
“Kamu nggak bohong kan?” Tanya Sofi.
“Aku nggak bohong, Fhi. Lidya itu adik aku satu-satunya. Kamu memang baru melihat dia karena dia dulu  sekolah di luar negeri. Sueerrr deh.”  Yudi mengangkat 2 jarinya.
“Iya, aku percaya kok.” Keduanya pun tertawa.

Langit yang semula terlihat mendung, tiba-tiba cerah kembali karena matahari akhirnya menampakkan senyum dan mengepakkan sayap keindahannya. Kedua insan yang baru saja mengakui perasaan yang terpendam di hati mereka kini serasa terbang melintasi awan, perasaan mereka benar-benar bahagia. “Akhirnya ada aku dihatimu”, Ujar Sofi sedikit berbisik. Yudi mengangguk sambil tersenyum.


*Createdby FhiaSofia


Setitik Asa

Dalam hening terasa sejuk
Kutepis rindu yang tercurah dalam imaji
Namun ku masih merangkul mimpi
Tentang sebuh perjalanan
Entah denganMu, denganNya, atau
Hanya dengan diriku sendiri
Entah karena aku belum mendengar suara hati
Mencuat lembut menyapaku
Semesta akankah hari itu dapat ku raih ?
Tapi dengarlah…..
Tak kutarik harapan untuk merajut simfoni hati dengannya
Ya…. moga saja sang durja tak mengacaukan mimpiku
Karena ku yakin semu kan menjadi nyata


*Createdby FhiaSofia


Dengar Bisik Ku (Bag.4 dari The Short Novel "Senyum Sang Mentari")

Hari itu matahari sedang cerah, Sofi menatap keluar jendela seakan matahari tersenyum padanya. Kicauan burung bersahut-sahutan terdengar begitu indah. Sofi sedang duduk di teras atas rumahnya menikmati keindahan pagi itu. Tak terasa sudah hampir 2 pekan dia tak pernah bertemu Yudi. Setelah ujian selesai dia pernah mencoba menghubungi Yudi namun saat itu handphone Yudi sedang tidak bisa dihubungi. Dia pun meradang. “Dimanakah kini dia yang setia bertengger di hatinya? Mengapa tak pernah ada kabar darinya lagi? Apakah dia telah lupa pada gadis yang ditemuinya di kios dulu?” beribu pertanyaan kini muncul memenuhi fikiran Sofi, dalam isak bisiknya dia merintih “Telah lama aku merindukanmu Yud, kamu dimana sekarang? Aku ingin menemuimu Yud….. tidakkah kau ikut merasakan apa yang sedang aku rasakan?” air mata Sofi jatuh membasahi pipinya.

Matahari  semakin tinggi, panasnya terasa memeras keringat. Siang itu Sofi pergi ke sebuah toko buku yang sering di kunjunginya setiap akhir pekan. Dengan mengendarai motor maticnya  dia melaju menembus jalanan dan menerobos terik matahari yang seperti membakar kulitnya. Sampai di depan toko buku  dia pun memarkir motor maticnya, begitu pintu toko dibuka bau khas dari AC pun tercium dan seluruh ruangan serasa adem. Dia tak lagi kepanasan.

Sofi lalu mengelilingi hampir seluruh ruangan toko buku itu, dari rak yang satu menuju rak yang lain, memilah-milah buku yang menarik. Lalu matanya tertuju pada satu buku yang menurutnya menarik “Musafir Cinta”, dia lalu mengambilnya dari rak dan menuju ke rak yang berisi kamus dan buku bahasa Jepang. Ketika sedang asyik membaca, seorang lalu menghampirinya.

“Aina Sofia?”
 Sofi lalu menoleh “Mas Yudi?” menampakkan senyum khasnya. “Mas Yudi, ngapain disini?”
 Hatinya mulai berkicau lagi “Akhirnya, sang pujaan. Kita dipertemukan lagi.”
“Memangnya apa coba yang orang cari di toko buku? Pastinya bukan mainan kan?”
 Mereka tertawa geli. Lalu seorang gadis menghampiri mereka di susul dengan seorang lelaki yang seumuran  dengan Yudi.
“Siapa mas?” Tanya sang gadis menghampiri dan terlihat sangat akrab dengan Yudi.
“Oh, biasa, teman aku.”
 Sofi yang mulanya tersenyum tiba-tiba raut mukanya berubah, tertunduk dan menggigit bibirnya. Kata-kata    itu seperti hujaman beribu jarum yang  menusuk hatinya. Ternyata cintanya tak menyadari kehadirannya.

“Sofi, kenalin ini Lidya dan Ivan.” Mereka menjulurkan tangan menjabat Sofi.
“Ini Sofi, teman aku yang aku bilang mahir dalam bahasa Jepang” Sofi pun menjabat tangan keduanya.
“Oh ya mas, kami mau lihat-lihat dulu buku disana. Yuk Van.” Ajak Lidya.
“Oke, kalau gitu.”

 Lidya dan Ivan pun meninggalkan mereka berdua di depan rak buku bahasa Jepang. Sejenak suasana  menjadi hening.
“Buku apa tuh yang kamu pegang Fhi?” Seru Yudi memecah keheningan.
“Oh, ini novel islami Yud. Musafir Cinta.” Jawab Sofi singkat.

Mereka lalu berjalan menuju sebuah tempat duduk yang memang di sediakan oleh pemilik toko kepada pengunjung yang hendak duduk bersantai sambil membaca buku. Duduk berdampingan rasanya Sofi semakin senang, meski sempat hatinya mendung karena ucapan Yudi yang menganggapnya hanya teman biasa.

“Mas Yudi kemana aja? Kok nggak pernah ngasi kabar?” Tanya Sofi sambil membuka lembar demi lembar  buku di tangannya.
“Tuh kan bilang mas lagi. Kita kan sudah sepakat.”
“Eh maaf mas. Maksudku Yudi, karena lama tak bertemu aku jadi lupa.” Sofi tersenyum.
“Iya nggak apa-apa. Maaf ya Fhi akhir-akhir ini aku sibuk ngurusin bisnis Papa. Beliau ngasih amanah ke  aku untuk mengambil alih pimpinan  perusahaan, karena beliau sedang bertugas di luar negeri.” Yudi  menjelaskan.
“Wah, hebat dong. Berarti kamu udah jadi presdir yah?”
 Yudi hanya tersenyum. Sesekali melirik ke arah Sofi yang kelihatannya sangat senang.
“Yud, aku udah ujian lho. Aku lulus dengan nilai terbaik.”
“Oh ya? Berarti kamu udah jagonya bahasa Jepang dong?” Tanya Yudi.
“Ah, nggak juga. Waktu aku habis ujian, aku pernah menghubungi kamu. Tapi handphonemu nggak aktif.”
“Memang aku sering menonaktifkan ponsel pada saat meeting. Biar nggak ada yang ganggu. Mungkin kamu  menghubungiku saat itu.” Ucap  Yudi.
“Yah… mungkin.” Sofi mendesah.

Tak lama kemudian, setelah cukup lama ngobrol Sofi pun pamit pulang lebih dulu karena masih ada urusan yang harus dikerjakannya. Namun belum sempat Sofi bangun dari tempat duduknya Ivan dan Lidya menghampiri keduanya. Dan mengajak Yudi pulang tanpa sungkan Lidya menggandeng tangan Yudi. Kemudian mereka bersama-sama menuju kasir untuk membayar buku yang mereka beli.
Hari sudah beranjak sangat sore ketika Sofi baru saja keluar dari toko buku. Dia lalu melaju dengan motor maticnya. Tiba-tiba handphonenya berdering, ternyata Sms dari Yudi.

“Fhi, besok aku mau ketemu sama kamu. Bisa?”
 Tanpa fikir panjang Sofi lalu membalasnya “Iya, bisa Yud.”
“Oke. Aku tunggu kamu di tempat biasa.”
“Oke.” Jawab Sofi.

Setibanya dirumah Sofi langsung melepas pakaiannya lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mengganti pakaiannya dia lalu duduk di teras dekat kamarnya di lantai atas. Menatap ke langit tapi bulan ataupun bintang tak satupun yang nampak, mungkin karena malam baru mulai membuka tabirnya. Fikirannya hanya tertuju pada satu orang  yang di temuinya siang tadi yaitu Yudistira Pratama. Sosoknya tidak bisa luput dari ingatan Sofi. Kembali kerinduan itu mencuat lagi dalam hatinya. Seketika dia menarik secarik kertas lalu menuliskan sebuah puisi.

Malam ini tak cukup indah
Karena bintang dan bulan tak hadir menerangi gelap malamku
Di tempat ini aku duduk seorang diri
Yang terdengar hanya suara jangkrik
Dan tetesan air menjatuhi bebatuan
Hatiku kembali gelisah, entah mengapa aku memikirkanmu
Dadaku terasa sesak, fikiranku melayang menerawang jauh tentangmu
Duhai pujaan…. Dengar bisikku, dengar aku!
Di kedalaman hatiku, aku merindukanmu

Sofi mendekap lembaran puisi yang baru di tulisnya erat ke dadanya dan membayangkan Yudi datang menghampirinya. Namun ada 1 hal yang mengganjal dan menjadi pertanyaan Sofi, siapakah Lidya itu? Mengapa dia terlihat begitu akrab dengan Yudi? Apakah dia kekasih Yudi? Tapi janji yang di buatnya kepada Yudi kalau mereka akan bertemu besok  sedikit melegakan hatinya. Dia sudah tak sabar ingin segera hari esok itu datang.


*Createdby FhiaSofia

Rindu Mengetuk Hati (Bag.3 dari The Short Novel "Senyum Sang Mentari")

Hari demi hari berlalu, Yudi tak pernah lagi berkunjung ke rumah Sofi karena sibuk dengan pekerjaannya. Sofi pun sibuk dengan kursus bahasa Jepangnya bersama Wulan. Karena sebentar lagi dia akan ujian. Di sela kesibukannya belajar mempermantap materi yang akan diujikan, Sofi termenung, hatinya berdebar dan seperti merindukan seseorang. Kemudian muncul sebuah bayangan yang berdiri tepat di depannya, tersenyum. “Yudi?” sambil mengucek matanya tak percaya. Tiba-tiba Mamanya datang mengetuk pintu, membuyarkan lamunannya.
“Fhi, Sofi. Makan dulu ‘nak.”
“Iya, Mah. Bentar lagi Sofi turun.”

Di ruang makan hanya ada mereka berdua, seorang pembantu hanya sibuk di dapur dan seorang tukang kebun yang sedang menyiram tanaman. “Fhi, kenapa Yudi tidak pernah lagi datang kemari?” Mamanya tiba-tiba menanyakan Yudi. “Oh, Yudi Mah. Dia katanya sedang sibuk dengan pekerjaannya.” Dengan santai menjawabnya, tapi hatinya penuh getaran.

“Sekali-kali ajaklah dia kemari, Mama mau memberikannya sesuatu.”
“Apa? Mama punya hadiah untuk Yudi?” Tanya Sofi heran.
“Bukan hadiah, hanya tanda terima kasih saja karena telah membantumu beberapa hari yang lalu.”
“Oh… Iya Mah, nanti ku ajak kalau dia udah nggak sibuk. Tapi apa Mah?” Sofi bertanya lagi.
“Mama mau kasi dia lukisan yang Mama buat kemarin, nampaknya dia sangat terpesona dengan lukisan itu.  Sambil menunjuk lukisan seorang  gadis dengan gaun warna biru berpadu kuning keemasan hadiah ulang  tahun Sofi dari Papanya.
“Mama nggak ada maksud apa-apa lho Fhi.” Ujar Mamanya meluruskan.
“Iya, iya…..” ketus Sofi, melanjutkan makan siangnya.

Setelah makan siang Sofi kembali ke kamarnya untuk belajar, dia kembali termenung. Kemudian menyentuh dadanya. Hatinya berkicau “Mengapa akhir-akhir ini aku terus memikirkan Yudi? Wajahnya selalu hadir dalam lelap tidurku. Seperti ada yang janggal di hatiku. Dan mengapa saat ini aku merasa  sangat merindukannya? Merindukan sosoknya yang penuh dengan kesederhanaan. Apa aku tengah jatuh hati padanya?.” Wulan tiba-tiba masuk ke kamar Sofi tanpa mengetuk pintu dan mengagetkannya.

“Hei sedang apa kamu Fhi?”
“Nie aku lagi belajar buat ujian besok lusa.” Tersenyum masam.
“Hmm kamu lagi belajar, atau sedang memikirkan mas Yudistira Pratamamu itu?” ledek Wulan
“Ah, Lan kamu ngomong apaan sih? Ada- ada aja deh.” Sofi menyangkal.
“Udahlah Fhi, kamu ngaku aja deh. Kalau nggak, mukamu nggak akan merah seperti itu.” Wulan meledek  lagi.

Akhirnya Sofi mengaku juga, dan menceritakan kepada Wulan sahabatnya tentang apa yang di rasakannya selama ini kepada Yudi. Perasaan yang begitu dalam, tak pernah ada pemuda yang membuatnya seperti itu. Ingin rasanya dia terbang dan menemui sang pujaan yang kini bertengger di hatinya.  


*Createdby FhiaSofia

Keakraban Yang Terjalin (Bag.2 dari The Short Novel "Senyum Sang Mentari")

Setelah pertemuan dan perkenalan itu, Yudi dan Sofi semakin dekat. Yudi ternyata juga hanya tinggal bersama satu orang tua, yaitu Papanya. Mamanya meninggal karena kecelakaan pesawat ketika hendak berlibur keluar negeri. Yudi termasuk orang yang berada namun begitu dia tidak pernah merasa tinggi hati dan menyombongkan diri. Dia pemuda yang mandiri dan sangat sederhana.  Karena kesederhanaan itulah Aina Sofia akhirnya jatuh hati pada Yudistira Pratama.

Suatu hari, Sofi pergi ke sebuah supermarket membeli kebutuhan yang sudah hampir habis di rumah, ditemani oleh seorang sahabatnya bernama Wulan. Lalu di tengah perjalanan pulang ban motornya maticnya bocor.

“Aduh gimana nih Lan, bannya bocor,” dengan wajah kesal.
“Hmmm,, gimana dong Fhi, bengkel dari sini masih jauh” ujar Wulan kebingungan.
“Iya nih, mana bentar lagi bakal turun hujan” Sofi mengeluh.

 Tak berapa lama sebuah motor dari jauh melaju dengan kecepatan 60 km/jam. “Stop, stop, stooppp” Sofi  dan Wulan berbarengan menghentikan motor tersebut. Lalu si pengendara menghentikan laju motornya dan    membuka helmnya “Mbak Sofi?”, “Mas Yudi?” sahut Sofi, tersenyum dan merasa lega.
“Kenapa mbak?”
“Ini lho mas, ban motorku bocor. Aku bingung mas soalnya bengkel dari sini masih jauh.”

Wulan hanya tercengang melihat sosok tampan yang ada dihadapannya, tak berkata apa-apa. “Hmm, sebentar mbak. Aku ada langganan bengkel, nanti aku telpon dia suruh kesini buat gantiin ban motornya mbak Sofi, nggak lama kok.” Yudi menawarkan, lalu menelpon bengkel langganannya.
“Tapi nggak bakalan lama kan mas? Soalnya Mama nungguin di rumah, mau bikin kue untuk arisan.” Kata    Sofi
“Iya nggak lama, sebentar lagi juga datang.” Yudi tersenyum.

 Sembari menunggu tukang bengkel langganan Yudi datang mereka pun menghampiri penjual bakso yang  sedang nongkrong di pinggir jalan.
“Baksonya 3 yah  mas.” Pesan Sofi kepada mas penjualnya, sambil melebarkan senyum khasnya.
 Hati Yudi berbisik pelan “Ya Tuhan, gadis ini sungguh menawan. Tutur bahasanya begitu lembut, parasnya  yang ayu, sikapnya begitu baik dan  sangat bersahaja. Hatinya bagai mutiara. Siapakah yang telah memiliki  hatimu duhai gadis berparas ayu…..?. Yudi tersentak.
“Ehm, mas Yudi pernah kan makan bakso?” Sofi bertanya agak malu.
“Lho kok mbak Sofi  bertanya seperti itu? Apa karena aku anak orang berada sehingga mbak Sofi  memandangku seperti itu? Tenang saja  mbak, aku juga punya langganan penjual bakso, kapan-kapan aku  akan ngajak mbak Sofi makan disana. Di jamin mbak Sofi bakal ketagihan.”  Mereka pun tertawa. “Ya Tuhan, betapa sederhananya pemuda ini, biarpun dia orang kaya tapi dia tidak pernah menyombongkan diri atas apa  yang dimilikinya. Dia tampan, cerdas, mandiri, dewasa dan sepertinya penyayang. Sempurna. Andai aku………..” Sofi berceloteh dalam hati  hingga lamunannya dipecah oleh pertanyaan Yudi.

“Ngomong-ngomong, ini siapa mbak? Dari tadi dia kok nggak pernah ngomong, hanya sesekali    menatapku.”
“Oh, kenalin mas ini Wulan. Sahabatku dari kecil.”
“Wulan ini mas Yudi, teman aku yang kuceritakan kemarin.” Merekapun berjabat tangan, berkenalan dan    berbincang-bincang.
Akhirnya, ban motor Sofi selesai juga ditambal. “Mas Yudi, makasih yah. Aku memang selalu merepotkan.” Ujar Sofi.
“Ah, nggak apa-apa kok mbak Sofi. Santai saja.”.
“Ya udah mas. Aku pamit dulu, Mama dari tadi udah nunggu. Ayo Lan.”
“Iya hati-hati mbak. Eh nggak usah bilang mas, Yudi aja. Kan kenalnya udah lama.”
“Iya mas, e-eh Yudi maksudnya. Iya Yudi. Aku juga, Sofi aja. Nggak usah pake mbak, kesannya ketuaan  banget. He…he…
“Ekhmmm…… Uuuhh kalian ini, bercandanya udah dulu yah bentar lagi hujan tuh. Ayo Fhi.” Ketus Wulan  sambil mengajak Sofi pulang.


*Createdby FhiaSofia

Awal Pertemuan (Bag.1 dari The Short Novel "Senyum Sang Mentari")

Hujan turun begitu lebatnya hingga menghambat perjalanan Sofi yang saat itu baru pulang dari tempat kursusnya, dia pun memutuskan untuk berteduh di depan sebuah kios lelaki Tionghoa.

“Koh, aku numpang berteduh sebentar ya?”
“Iya, silahkan saja.”

Sambil menyeka rembesan air hujan yang mengguyurnya dia menoleh kekiri dan kekanan lalu menatap lurus ke depan jalanan raya yang kuyup karena derasnya hujan, begitu sepi hanya beberapa orang saja yang terlihat lewat sambil berlari kecil mencari tempat berteduh. Di tengah asyiknya menikmati kesyahduan suara hujan tiba-tiba datang seorang lelaki.

“Numpang berteduh Koh.”

Lelaki Tionghoa itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Tanpa menyadari bahwa ada seorang gadis yang sedang bersamanya berteduh di tempat yang sama, pemuda itu mengepak-ngepakkan rambutnya yang basah kuyup diguyur hujan hingga menciprat wajah sang gadis sampai bersin. “Acchiinn, duh”. Pemuda itu kemudian menoleh dengan raut wajah kaget dan berkata “Eh ada orang ternyata disini, maaf.” Dengan senyum kecutnya. Sofi langsung terpana memandang wajah si pemuda, “Sungguh indah memahat wajahmu duhai sang…………” kicaunya dalam hati namun buru-buru memotong ucapannya dan tertunduk menatap lantai kios.

Setelah beberapa lama hujan semakin deras disertai petir yang menggelegar, dengan perasaan yang sungkan lelaki itu kemudian melangkah kesamping menghampiri gadis tersebut dan memberanikan diri untuk berkenalan.

“Maaf, tentang kejadian tadi. Aku benar-benar tidak tahu kalau ternyata mbak ada di dekatku.” Berusaha    memekarkan senyumnya.
“Oh iya nggak apa-apa kok.” Menjawab seadanya. Namun dadanya bergetar hebat
“Hmm,,, kalau boleh tahu nama mbak siapa?” memberanikan diri berkenalan.
 Gadis itu tak menjawab, hanya menoleh sebentar kemudian menatap lagi ke jalan raya.
“Oh, maaf kalau aku salah ngomong.” Kata si pemuda
“Namaku Sofi, Aina Sofia.” Sambil mengulurkan tangannya berniat menjabat.
 Dengan senyum pemuda itu menjawab “Aku Yudi, Yudistira Pratama.” Menjabat tangan sang gadis.

Mereka pun berkenalan dan ngobrol layaknya orang yang baru bertemu. Akhirnya hujan reda juga setelah kurang lebih hampir 2 jam mengguyur semesta. Obrolan mereka pun berakhir.

“Mas Yudi, aku duluan yah” kata Sofi
“Iya, iya, hati-hati dijalan mbak Sofi”

Sofi pun pergi meninggalakn kios itu dengan sedikit berlari kecil, karena waktu itu Sofi tak memakai kendaraannya sebab jarak antara tempat kursus dan rumahnya tidak begitu jauh.   “Ayu sekali paras gadis itu, senyum yang tersungging di bibirnya begitu indah, sederhana namun bersahaja. Aina Sofia nama yang indah” ujarnya dalam hati. Ternyata Yudi melupakan sesuatu, “Ah, kenapa aku lupa menanyakan alamatnya.” Sambil menyentakkan kaki di lantai. Buru-buru dia mengendarai motornya dan mengejar Sofi yang belum terlalu jauh.

“Piiip piiippp” Yudi membunyikan klakson motornya.
“Eh Mas Yudi, ada apa lagi mas? Ada yang ketinggalan tadi?” Sofi menoleh, bertanya keheranan
“Iya mbak Sofi, aku lupa nanyain alamat mbak dimana?he…. he…”
 Dengan senyum khasnya Sofi menunjuk ujung jalan “Itu di depan sana mas, sebelum belokan itu rumah  aku.” Kemudian menawarkan “Kalau  mas Yudi mau mampir silahkan saja, nggak apa-apa. Karena hujan  juga belum reda banget, kan?”
 Yudi tersenyum sumringah “Kalau mampir sekarang boleh nggak mbak? Ya nggak ada maksud lain sih,  cuma pengen liat rumah mbak aja.” Sofi  mengangguk tanda mengiyakan.
“Naik aja ke motorku mbak, biar ku bonceng sampai depan rumah.” Usul Yudi.
“Makasih mas tapi udah dekat kok, biar aku jalan kaki saja.”

Setelah sampai di depan pagar rumah Sofi, Yudi pun memarkir motornya, di garasi terlihat sebuah motor keluaran terbaru yang memang hanya cocok untuk seorang wanita. Lalu di ajak oleh Sofi untuk masuk.

“Mari silahkan masuk Mas Yudi, maaf rumah Sofi berantakan.” Sela Sofi. “Oh tidak, tidak. Rumah serapi ini  masih mbak Sofi bilang berantakan? Wah,sampai segitunya dengan kerapihan.” Mereka tertawa      berbarengan.
 Sembari melihat-lihat isi rumah Sofi yang terbilang sederhana namun desain interiornya sangat indah dan  eksotik,coretan warna disetiap dinding terlihat sangat menyatu dengan pernak pernik yang ada di dalam  rumah itu, menandakan si penghuni rumah sangat menyukai seni. Yudi tersenyum takjub. Memang kedua  orang tua Sofi adalah seorang seniman, dua-duanya pelukis. Kemudian Sofi datang dengan membawa  secangkir teh hijau hangat asli dari Jepang di iringi dengan seorang wanita paru baya.

“Kenapa mas Yudi?” suara Sofi mengagetkan Yudi yang sedang asyik menikmati seluruh keindahan rumah    itu, lalu menoleh.
“Eh mbak Sofi, aku benar-benar terpesona dengan keindahan lukisan disana” sambil menunjuk sebuah      lukisan seorang gadis berparas ayu.
“Oh itu hadiah ulang tahunku mas, dari almarhum Papah” kemudian menyuguhkan secangkir teh hangat dari    Jepang itu.
“Oh ya mas, kenalin ini Mama”, “Mah, ini mas Yudi. Pemuda yang aku ceritakan tadi.”
 Wanita paru baya itu tersenyum lalu menyalami Yudi, Yudi pun membalas “Yudi. Yudistira Pratama, tante.”

Mereka pun ngobrol, dan keakraban mulai tercipta di antara mereka. Tanpa sungkan Yudi lalu menunjukkan kepiawaiannya memainkan piano di depan Sofi dan Mamanya.


*Createdby FhiaSofia
 

Alamat

Bantaeng-Indonesia
HP : +6285242923601
Email : safhiqsaah@yahoo.com
Pin : 73CDD5F8

Sosial Media





Copyright © 2014

Copyright © 2014
Copyright © 2014. Media Karya Publikasi - All Rights Reserved
Edit by Sabri Sajha Powered by safhiqsaah.com