Di
malam yang lain, Dania mulai menyadari bahwa selama ini dia tak punya perasaan
yang spesial untuk Arman , yah hanya perasaan yang biasa saja. Terlebih dengan
sikap Arman yang begitu dingin, selalu serius tak ada canda, sementara Dania
adalah orang yang sebaliknya, dia ingin semua berjalan dengan santai, diberi
perhatian yang bukan itu-itu saja, ingin ada warna yang berbeda dalam hubungan
ini tapi toh apa yang dia dapat hanya rasa tidak nyaman. Dania lalu meraih
handphonennya mencoba menghubungi Asma atau Nurul sahabatnya, meminta saran
yang terbaik. Tapi dia hanya berhasil menghubungi Asma.
“Halo Ma, kamu dah
tidur belum?” Tanya Nia diseberang telephone.
“Iya halo Nia, aku
belum tidur masih asik main laptop. Kamu kenapa?”
“Asma, aku harus
gimana? Aku rasa udah nggak bisa lagi ngelanjutin hubunganku denga kak Arman.”
Ujar Nia.
“Lah emangnya kalian
kenapa? Ada masalah?” Tanya Asma.
“Ya nggak sih Ma, cuman
akunya yang merasa nggak nyaman dengan hubungan ini. Kami baik-baik aja hanya
aku capek menghadapi sikap kak Arman yang gitu-gitu aja.”
“Maksudmu gitu-gitu aja
gimana?”
“Iya, dia tuh sikapnya
dingin kalo udah ketemu, padahal kalo ditelpon atau sMs wah perhatiannya luar
biasa banget tapi aku nggak suka, aku bosan gitu dianya nggak pernah bercanda
bawaannya serius mulu.” Jawab Nia.
“Jadi itu masalahnya.
Ya aku sih nggak mau jadi tukang provokasi diantara kalian tapi kalo kamu
merasa demikian ya keputusan ada di kamu say. Mending kamu mikirin lagi deh.”
Bujuk Asma.
“Aku udah fikirin Ma,
aku nggak menemukan rasaku untuknya, kami berbeda. Berkali-kali aku coba
mencari rasa itu dihatiku tapi aku nggak menemukannya.”
“Aku harus bilang apa
ya Nia, kamu deh yang putusin bagaimana baiknya karena emang cinta nggak bisa
dipaksakan.”
“Ya udah Ma, nanti aku
fikirin lagi. Makasih ya udah mau mendengarkan curhatku malam ini, maaf lho
jika aku mengganggumu.”
“Alaaahhh, sok ngemis
kamu. Aku kan sahabatmu Dania tersayang jadi nggak usah merasa aneh-aneh gitu
deh.”
“Okelah kalo begitu.
Thanks ya Ma, see yaaaaa...”
“Oke sama-sama......”
Telepon ditutup.
Hari-hari
berikutnya, Arman mulai merasakan perubahan sikap Dania. SmSnya kadang dijawab
seadanya dan telephonenya kadang nggak diangkat. Arman mencoba mengerti tapi
ujung-ujungnnya dia tidak bisa menerima sikap Dania yang tiba-tiba berubah itu.
Dania pun tak menampik jika sikapnya memang agak sedikit berubah terhadap Arman.
Suatu malam ketika Dania sedang bersantai diatas kasur, handphonennya berdering
tertera nama Arman dilayar, mencoba menata perasaan hati Dania lalu memencet
tombol hijau.
“Halo, assalamu alaikum
kak Arman.”
“Walaikum salam adekku
sayang. Lagi ngapain?” Sapa Arman diseberang telephone.
“Lagi nyantai kak.”
Jawab Nia singkat, disusul bisikan hatinya “Hmm pertanyaan itu lagi.”
“Oh gitu, udah makan
belum?” Arman kembali bertanya.
“Iya, udah kok kak.”
Singkat lagi jawaban Nia “Lagi, lagi dan lagi pertanyaan itu” Celotehnya dalam
hati.
“Adekku sayang, boleh
nggak aku bertanya satu hal sama kamu.”
Fikiran Nia langsung
terfokus pada kejelasan hubungan yang selama ini mereka jalin.
“Iya boleh kak, mau
nanya apa?”
“Nia, kenapa kamu
tiba-tiba berubah sikap terhadapku?”
“Berubah gimana kak?
Orang aku begini-begini aja kok.” Dania mencoba tenang.
“Adekku.... kamu jangan
bohong, aku merasakan sikapmu berubah akhir-akhir ini. Di SmS juga kamu jarang
membalasnya, di telepon juga kadang nggak diangkat. Kamu kenapa dek?”
“Oh itu, ya aku nggak punya
pulsa kak, teleponnya juga kadang nggak aku angkat karena sibuk dan banyak
tugas kampus.” Nia memberi alasan yang tidak bisa diterima Arman.
“Itukah alasan yang
bisa kamu berikan? Jujurlah dek, jangan bohongi perasaanmu. Kamu masih mau
melanjutkan hubungan ini atau sudah mau mengakhirinya?” Arman membujuk Nia tapi
orang yang dibujuk masih diam. Setelah mengatur nafas Nia mulai bicara.
“Oke kak. Aku akan
bicara yang sebenarnya kalau selama ini aku nggak punya perasaan yang amat
spesial pada kak Arman, rasaku biasa-biasa saja. Waktu kakak nembak aku, aku
bingung harus jawab apa, aku kaget nggak nyangka, lagi pula kita udah lama
nggak ketemu, jujur waktu itu aku kangen tapi suasana membawaku pada jawaban
yang aku sendiri tidak mengerti.” Kata Dania.
“Jadi selama ini kamu
anggap aku apa? Jadi selama ini hubungan kita kamu anggap biasa-biasa saja?”
Nada suara Arman mulai meningkat.
“Maafkan Nia kak. Aku
anggap kamu itu pacarku tapi itu hanya sebatas sebagai status bahwa kita
pacaran, sementara rasaku tak ada. Aku berusaha menyayangimu tapi nggak bisa.
Aku berusaha mencari rasa yang sama tak ternyata aku nggak menenukannya
dihatiku, rasa kita tak sama kak.” Jawab Nia. Arman yang mendengar kata-kata
Nia itu diam saja, dan tak tahu harus mengatakan apa untuk meyakinkan Nia. Dia
lalu mencoba melanjutkan.
“Nia, jadi mau kamu apa
sekarang? Kita lanjut atau cukup sampai disini saja?” Tanya Arman.
“Kak Arman, masih
banyak perempuan yang lebih baik dari aku. Cobalah kakak mencari yang lain yang
bisa bahagiakanmu, yang bisa nyaman berada disampingmu karena aku tidak bisa,
karena rasa kita berbeda.”
“Jadi maksudmu kita
sampai disini saja?” Suara Arman mulai melemah.
“Iya, kira-kira seperti
itu kak. Maafkan aku.” Air mata Dania menetes tapi segera saja dihapusnya.
“Baiklah. Katakan
padaku apa yang harus aku rubah agar nanti jika aku telah mendapat wanita yang
lain, dia bisa nyaman berada disampingku?” Tanya Arman sembari menenangkan
perasaannya.
“Aku jujur ya kak. Kamu
itu sikapnya dingin, terlalu serius, dan nggak punya selera humor sedikitpun. “
“Jadi aku harus merubah
itu agar wanita yang berada disampingku merasa nyaman?”
“Kamu hanya perlu
menjadi dirimu kak, tapi kamu juga harus tahu apa yang di inginkan pasanganmu.
Aku rasa cukup itu saja yang ingin aku katakan. Ini sudah larut kak.”
“Ya sudah kalau begitu,
ini inginmu. Selamat malam dek.” Arman menutup telephone.
Telephone
ditutup dan pembicaraan berakhir sampai disitu. Dania berfikir apakah sikapnya
terlalu jahat? Tapi dia sendiri tidak mau menjalani semuanya dengan kebohongan
tanpa ada perasaan sedikitpun terhadap Arman.
Created by Fhiii
Bagi Artikel ini

Post a Comment