![]() |
| Hamsir Jailani |
Sebuah pulau yang luasnya bisa dikelilingi dengan hanya berjalan kaki selama 7 hari penuh tanpa istirahat. Pulau yang memaksa setiap orang yang memasukinya untuk belajar kembali tentang teori bertahan hidup, ilmu kebal penyakit dan tentunya harus lebih bersabar dan banyak-banyak berpuasa. Pulau “Anjut” nama pulau tersebut. Entah siapa yang memberi nama, tetapi nama itulah yang familiar ditelinga para penghuninya.
Pulau yang entah kenapa nyaris tak satupun program pembangunan pemerintah menjamahnya. Listrik tidak ada, jaringan selular manapun juga tidak ada. Seorang teman Rayya pernah berjalan menuju bukit-bukit yang ada dipulau tersebut hanya untuk sekedar mencari jaringan telepon. Barangkali ada dibukit-bukit, hanya belum ada yang mencobanya saja. Tetapi, yang terjadi malah sampai handphone teman Rayya tersebut kehabisan daya baterai jaringan pun tak kunjung ditemukan. Hm..sebuah ujian pertahanan hidup yang sungguh berat. Ditempat ini, anda tidak akan menemukan sistem pengairan yang baik, tidak ada W.C tertutup untuk mandi ataupun untuk keperluan hajat lainnya. Air memang mudah didapat, sebab dibeberapa tempat ada sungai-sungai kecil yang mengalir disepanjang tempat tinggal menuju pantai. Tetapi, jangan pernah berharap jikalau air itu bisa mengalir masuk ke perumahan penduduk, sebab disini, selang saja tidak ada. Sehingga untuk keperluan mandi dan buang hajat, kita mestilah angkut sendiri-sendiri air dari sungai-sungai kecil itu. Kondisi cuaca pulau tersebut lumayan panas, bahkan panasnya kadang-kadang menggigit. Saat disiang hari, tatkala matahari menjamah bumi Anjut, tempat-tempat yang dijamahnya akan menggeliat kepanasan. Tetapi, begitu musim dingin datang apa saja nyaris membeku sehingga para penghuni pulau tersebut harus sering-sering membakar apa saja yang bisa menghangatkan tubuh-tubuh mereka.
Beberapa teman-teman Rayya kaget dan shok tatkala melihat dan mengetahui kondisi lingkungan yang akan mereka tempati selama dua tahun. Mereka tidak punya pilihan lain selain tetap bertahan. Sebab mereka terlanjur sudah menandatangani kontrak tugas yang diberikan oleh yayasan yang mengutus mereka.
Rumah yang disiapkan untuk Rayya dengan teman-temannya lumayan luas. Ukurannya 20 x 30 meter, lumayan untuk dihuni selama dua tahun. Meskipun tidak indah sebagaimana rumah kaum gedongan di Ibu Kota tetapi, rumah tersebut bersih dan nyaman. Letaknya pun cukup strategis, diatas perbukitan sehingga setiap pagi dan petang, mereka bisa menikmati terbit dan terbenamnya matahari.
Rayya berjumlah lima orang yang akan menghuni rumah tersebut. Mereka berasal dari beberapa Provinsi dan Kabupaten. Rayya sendiri adalah perwakilan dari Sulawesi selatan yang tepatnya di Kabupaten Bantaeng. Hasan dari Ternate, Hesti dari Jawa Timur, Pak Joni dari Jawa Gorontalo dan satu orang lagi yang belum tiba. Namanya Dyah Menur, seorang cewek dari Majalengka Jawa Barat. Berdasarkan daftar nama-nama yang ada, Muhammad Samarayya atau Rayya yang akan menjadi ketua tim yang akan mengawal keempat teman-temannya. Rayya sendiri tidak menyangka jika dia yang harus bertanggungjawab sebagai ketua tim, tetapi karena itu sudah menjadi keputusan. Meskipun sebenarnya Pak Joni lebih tua dari pada Rayya tetapi Pak Joni ini punya kebiasaan yang cukup buruk. Selalu telat bangun pagi, jarang mandi dan gosok gigi. Beda dengan Hasan, dia adalah lelaki yang sangat taat beragama. 04.30 dia sudah bangun. Mandi, gosok gigi dan seterusnya sholat dan mengaji. Dia sangat rajin mengaji meskipun bacaan qur’annya biasa-biasa saja tapi baginya ada kepuasan tersendiri sangat membaca kitab suci tersebut. Hesti pun demikian, perempuan satu ini memakai Jilbab. Meski bukan jilbab yang panjang sampai kelutut, tapi dari gaya dan kebiasaannya menunjukkan bahwa Hesti Wulandary adalah perempuan yang sangat baik dan sopan. Hasan pun kadang-kadang digoda oleh Pak Joni untuk menikah saja dengan Hesti, toh mereka berdua memang betul-betul pasangan yang pas. Hesti hanya tersipu malu tatkala Pak Joni berkata demikian.
Menjelang dua hari mereka berempat dipulau Anjut tersebut, barulah Dyah Menur tiba. Sosok perempuan satu ini adalah Perfectly.Sempurna. Tingginya pas sebagai model, alisnya tebal bagai alis seorang artis Sandra Dewi, bibirnya sama tipis dengan bibir atas dan bawahnya, hidungnya mancung dan giginya putih berbaris rapi. Dyah adalah seorang Hindu. Agama yang dianutnya semenjak dia lahir. Kulitnya putih dan rambutnya terurai dengan kacamata hitam melingkar dilehernya. …Bersambung..!
Bagi Artikel ini

Post a Comment