Aku menemuinya didekat lorong tikus. Hehehe.. aneh ngak jika kamu mendengarkan lorong Tikus?. Bagimu mungkin aneh tapi bagiku itu romantic. Karena itulah lorong yang menjadi saksi pertemuanku bersama Nadya. Mungkin tidak cukup kamu mengenalinya jika aku ngak jelasakan apa yang disebut lorong Tikus. Lorong kecil yang menuju pintu kecil bisa dipergunakan mahasiswa masuk kelokasi kampus Universitas Negri Makassar. Kenapa dinamai jalan tikus karena pintu yang tidak melalui pintu untama kampus, biasalah mahasisawa memili jalan pintas yang dianggap pantas.Pagi itu aku janjian untuk ketemu Nadya. Didepan Kost temanya di BTN Tabaria. Karena aku sama sama tidak terlalu hapal lorong lorong, mkanya salah satu petunjuk jalan yang muda untuk aku kenali adalah Lorong tikus itu. Kamu juga pasti bisa merasakan bagaimana aku saat itu yang sudah lama tidak ketemu, dan tiba tiba janjian untuk ketemu sama pacarmu. Pikiran tak karuan buru buru untuk samapai. Jantungku dak dig duk tak karuan pula. Entah kebahagiaan apa yang tengah aku rasakan.
Akhirnya aku bertemu bersama tambatan hatiku yang sangat aku sayangi. Aku tak perna mengira bahwa aku akan bertemu disini ditempat ini. Aku benar datang dengan bantuan petunjuknya lewat telpon. Aku lihat raut mukanya yang begitu bersinar. Ini mungkin bukanlah saingan kisah pertemuan romeo dan Juliet. Tetapi bagiku ini adalah hal yang tidak perna aku rasakan sebelumnya. Perpisahan yang sedikit lama akhirnya kini dipertemuakan. Hanya janji dan harapan yang bisa membuatku seperti ini. Sama sama punya harapan untuk saling dekat, begitu juga dengan jalan kesepakatan yang telah kami sepakati bahwa aku harus keMakassar untuk kuliah agar aku tak terpisah jauh darinya. Itulah keinginan kami berdua. Dan kini akutelah dipertemukan lagi.
Aku disambut sebagaiman seorang kekasih yang lama merindukan kekasihnya. Aku melihat itu darinya. Aku disunguhi pertanyaan, sambil berjalan kerumah sala satu temanya. Abang ngak nyasarkan?, itulah kalimat tanyanya yang pertama kepadaku. Tidak kok, kalaupun aku kalupun aku kesasar pasti aku kesasar masuk kehatimu. Lorong tikus itu yang sangat membantuku untuk menemukan posisimu. Sambil aku menujuk arah lorong tikus.
Dia penasaran ingin tau gimana ceritanya sampai aku bisa kuliah diMkassar. Yang dia tau aku tidak lulus waktu itu. Sambil aku minum teh sajian darinya yang sangat nikmat, itu karena dibut denga cinta. Aku menceritakan semua prosess yang aku lalui sampai aku berada diMakassar. Yang paling aku hapal bahwa aku datang kesini untuk membuktikan padamu kalu aku pasti menepati janjiku. Kamu adalah kekuatan dalam perjuanganku. Cintamu yang selalu menjadi penyemangat buatku, makanya aku tak memberimu kabar, aku ingin member supise kala aku berada disini. Itu terbukti sekarang, aku berada dihadapanmu, bisa tertawa bersamamu. Tentu ini yang kita harapkan. Iyakan?. Ini pertemuan kita pertam kalinya diMakassar, namun buka yang terkhir.
[..]
Kami sibuk dengan kuliahku. Begitupun dengan Nadya. Aku pendatang baru dikampusku, makanya aku selalu berusaha menyapa dan mengajak temanteman yang ada dikampusku. Sampai aku memiliki banyak teman. Aku sudah mulai asik dengan pertemanaku.
Begitupun Nadya, yang sangat sibuk di kampusnya. Sampai aku dak bisa bertemu sesering mungkin. Namun begitu, aku dan dia tak perna lupa untuk bertemu dalam seminggunya. Kalu ngak percaya silahkan Tanya kepadanya. Itupun kalu dirimu tidak percaya dan menganggap penting untuk kamu ketahui apa benar seperti itu ceritanya.
Yang kuingat saat itu aku selalu bertemu pada hari kamis. Aku datang kerumahnya. Akupun selalu disambut dengan layaknya kekasih. Tidak perna aku lupa sampai sekarang, disetiap kedatanganku pasti disajikan makan, termasuk makan nasi denga sayur bayam. Itu yang paling aku suka dari Nadya, sajian sayuranya. Begitulah kami menjaga keharmonisan dalam pacaran. Sampai aku tak sadar, ternyata usia pacaranku uda setahun lebih.
Waktu demi waktu. Aku mulai menyadari bahwa semua yang aku bina harus punya arah dan tujuan. Dipikiranku mulai muncul untuk kejenjang yang serius, tetapi bukan maksudku sampai kepernikahan. Namun aku ingin dikenal oelh keluarganya. Kamu pasti setuju dengan pendapatku ini. Ia, tentu kamu sepakat, karena aku tak ingin main main lagi. Seandainya kamu, pasti juga ingin melkukan hal yang serupa denganku.
Aku harus sampaikan padanya. Itu yang selalu kupikirkan. Sampai sutu waktu aku bertemu Nadya, dan bercerta kepadanya tentang apa yang kupikirkan dan yang kuinginkan. Nadya, apa kamu saying ngak denganku?, itu pertanyaan pengantarku untuk memulai pembicaraanku. Ia, aku saying dan cinta sam Abang. Kok bisa Bang… bertanya begitu?. Apa ada sesuatu yang ingin disampaikan padaku. sepertinya dirimu tak seperti sebelumnya, kali ini Abang sangat serius, biasanya tak seperti ini. Ada apa?. Ia, Nad… aku memikirkan sesuatu, namun aku sulit menyampaikannya, entah haru kuawali dari mana. Namun kali ini aku harus bicarkan padamu, aku tak ingi ada yang aku sembunyikan padamu. Semoga kamu juga setuju tentang pikiranku kali ini. Gini Nadya, usia hubungan kitakan uda lebis setahun, dan menurutku itu bukan waktu yang singkat. Bahkan kita uda saling kenal satu sama lain, artinya uda ngak ada lagi perbedaan cara pandang diantara kita mengenai menjaga keharmonisan dalam pacaran. Namun ada sesuatu yang menyanggal dalam pikiranku, aku merasa tak enak aja dengan kakak kandungmu. Aku tau bahwa kamu kan satu satunya cewe diantara empat bersaudara, dan kamu bungsu pula. Aku hanya membayangkan sutu ketika kita berdua jalan bersama, dan tiba tiba sala satu kakkmu mendapati kita. Lalu dia menujukku dan mempertanykanku, haei.. “kamu sipa….?”. aku tak cukup mampu menjawab pertanyaan itu Nad…, mungkin kamu biisa membantuku!. Abang ngomong apa sih..?. Benaran, aku serius ini. Kalu kamu tak bisa membantuku, gimana kalu aku menwarkan solusi buatmu. Apa tu solusinya?. Kamu uda punya ijin ngak untu pacaran dari orang tuamu?. Belum tau Bang. Kalu begitu aku ingin kamu minta ijin, lalu member tahu kemereka bahwa kamu suda punya pacar, Giman?. Aku dak minta kok bahwa kamu haru bilang bahwa aku adalah pacrmu, aku hanya mau kamu dapat ijin dulu. Ia, Bang.. aku akan coba, tetapi beri aku waktu sampai satu bulan. Oke deh. Makasih ya atas pengertianya. Aku bangga padamu karena bisa ngerti.
Begitulah aku dan Nadya pada hari itu. Semoga dia dapat ijin supaya aku bisa melanjutakn kisahku sampai kejalur yang lebih dalam. Amin
Satu bulan kemudian. Kini aku harus member tau Nadin, kalu hari ini genap sudah satu bulan. Sesuai waktu yang dia minta kepadaku untuk membicarakannya pada orang tuanya, mengenai ijinnya untuk pacaran. Semoga sesuai harapanku. Hari itu adalah waktu yang tepat untuk bertemu. Hari kamis siang, aku kerumah kostnya, ingin memastikan apa yang telah kami sepakati.
Aku telah tiba, diapun ada dikostnya. Sebelumnya memang aku telah kirim Pesan singkat ke nomor hapenya, memberitahukanya bahwa aku mau kerumahanya. Dia siap didatangi katanya. Tentunya sudah siapulah dengan jawaban atas pertanyaan yang bakalan kupertanyakan kepadanya. Aku pikir apa yang aku mau pertanyakan tidaklah rumit. Tidak akan keluar dari pembahasanku sebulan sebelumnya. Nadiya, apakah aku yang bertanya atau kamu yang bicara langsung. Kamu siapkan? Ia bang, aku sudah siap denga semua apa yang mau kusampaikan. Tentu ini sangat menguras hati dan pikiranku. Semenjak Sms Abang masuk, aku suda mulai mempersiapkanya. Mempersiapkan kata yang paling tempat untuk menyampaikan maksudku. Sekarang aku baru sadar bahawa ini berat, sungguh berat Bang. Aku sudah mulai linglung dengan kalimat kalimat si Nadiya, bahkan aku sudah menduga bahwa apa yang mau Nadiya katakana bukanlah hal yang menyenangkan saat ini. Nad… katakanlah!, sepahit apapun itu. Kita harus siap denga semua itu. Air matanya mulai berlinang, seperti danau yang jerni. Air itu maulai membasahi bibir pantai yang putih. Aku menyentuh pipinya dengan tanganku, bermaksud untuk menghapus air matanya. Tenang Nad!, kamu harus tenang dan tegar. Tapi Bang, kita haru ngapain?, sedangkan orang tuaku belum menginjinkan aku pacara. Katanya aku harus kuliah yang benar dulu, gank usah kenal pacaran. Sebenarnya aku pun merasa sedih dengan kalimat itu, apa lagi melihat si Nadya suda bersimpuh dipangkuanku dengan linagan air mata. Namun aku harus terlihat kuat, aku ngak boleh lema dihadapanya. Sudalah, kita ngak usah pikirkan kalimat itu!, diakan Cuma bilang, Belum, dani itu belum mengijinkan aja. Belum bukan berarti tidak akan. Ia sih Bang, tetapi tetap saja aku sedih. Sekarang gini aja Nad, kita harus berada pada dua pilihan, aku memberimu dua pilihan itu. Kamu pilih untuk melanggar orang tuamu denga tetap pacaran atau kamu ingin menyelamatkan dua hati yang ingin bersatu?. Ini pilihan yang beresiko namun itulah yang paling terbaik. Sekarang kamu harus milih salah satunya!. Kumohon kamu harus saying pada orang tuamu, dan kamu juga harus saying pada hatimu dan hatiku.aku memberimu waktu tiga hari untuk memikirkan pilihan itu. Aku kan dating lagi disini tiga hari lagi, serta aku sudah mendengarkan apa yang kau pilih. Oke?. Okeh Bang, tapi plisss jangan pergi dariku!. Iya, aku tak akan pergi kok, datanglah padaku saat kapan pun kamu butuh aku atau datanglah padaku saat hatimu membutuhkan hatiku.
Dua hari suda berlalu, besok aku sudah mendengarkan dan menerima apaun pilihan Nadya. Malam yang gelisah bagiku malam ini. Pagi jam 9.00 wita, aku telah sampai dirumah Nadya. Diapun kelihatanya sudah siap dengan rapi. Aku pikir dia mau keluar dan tak menghiraukanku. Dia menyambutku. Bang, ajak aku pergi!. Pergi keman? Tanyaku. Kemana saja, ketempat dimana kita bisa bicara, Pantai losari mungkin atau Benteng Somba Opu. Aku pilih pilihan yang terakhir, itu yang paling dekat.
Lalu lalang kendaraan membuat telingaku bising. Jatungku bergetar kencang menanti jawaban darinya. Kupaculah motorku kearah yang kumaksudkan untuk menjadi tempat untuk menentukan pihan. Air yang jerni Je’neberang sebagai sungai terbesar yang berada pada perbatasan antara Makassar dan Gowa mewarnai denagn kemilau seperti berlian yang terkena matahari pagi. Perahu kecil bolak balik mengantar penyebrng dari Makassar ke Gowa dan dari Gowa ke Makassar. Dekat itu ada ada balai kecil yang beratapkan jerami yang uda kusam dan rontok. Aku dan Nadya duduk di Bali itu.
Nadya, kamu sadar tidak tentang masa waktu satu bulan kemarin yang kau minta sebagai waktu untuk bicara keorang tuamu, kemudian ditambah tiga hari mencukupkan Dua tahun sudah hubungan kita, pas tidak lebih dan tidak kurang. Aku baru tau itu Bang. Dia mulai menatapku dengan mata yang berkaca kaca. Bang…?, aku sudah memilih, aku tau pilihan ini sulit, namun aku sudah siap dengan resiko, apaun itu. Harus, kita memilih dan kita harus siap dengan konsekuwensi pilihan kita. Jadi kamu?. Ia Bang, aku sudah memilih untuk mengikuti keinginan orang tuaku. Namun itu berarti kita haru merelakan hti kita, sakit memang sakit bang. Aku menghargai pilihanmu Nad, aku pikir itu pilihan yang tidak cukup buruk. Kita suda siap dan harus siap, mulai hari ini kita berhenti disini. Biarlah semua yang ada disini jadi saksi. Air mataku pun mulai keluar, tak mampu aku menhannya lagi. Karena aku harus merelaka kekasihku yang aku sayangi pergi dengan pilihanya. Kita akan berjalan diatas pilihan kita masing masing.
Maaf bro, aku tak sanggup lagi bicara banyak mengenai kisah ini, karena akupun merasakanya lagi saat aku menuliskanya diatas kertas ini. Aku sudahi saja. Namun aku harus menyampaikan padamu bahwa saat itulah aku mulai menyukai lagu Samsons Kenagan Terindah. Itu lagi menjadi peneman setiaku dikala sendiri dan sepi. Begitupun denagan Nadya, dia menyukai lagu itu.
“Pilihan, menyakiti satu hati untuk menyelamatkan dua hati adalah pilihat yang tepat”. –Sabri—
“Aku bagai bandara yang ditinggal pesawat, hanya angin yang menemaniku dalam sepi”. –Nadya—
Bagi Artikel ini
Post a Comment