Hai
sahabat blogger, kalian pasti sudah semakin penasaran dengan ceritaku “TYPUS
atau TYPHOID bagian kedua ini. Aku baru sempat melanjutkannya sebab beberapa
kesibukan yang menyita waktuku hingga aku tak sempat menulis bahkan
men-sharenya kepada kalian semua. Pentingkah ini kuceritakan kepada kalian? Aku
tak peduli, apa itu penting atau tidak terserah kalian mau membacanya atau
berhenti sampai titik. Kataku.....”EPENKAH?” hehe.... Okey, marilah kita
lanjutkan. Check this sound!
Hari-hari
berlalu dan aku semakin tak berdaya, hanya terbaring di atas kasur dan meraung
kesakitan serta kepanasan. Seluruh tubuhku berasa panas, kepalaku semakin hari
rasanya mau pecah. Tiap hari ayah dan ibuku membujuk agar aku mau makan, tetapi
mendengar kata “MAKAN” saja aku sudah mual, aku berusaha menelan makanan tapi
ujung-ujungnya pasti aku muntahkan. Tangga 28-Maret-2013, aku mendengar bahwa
ujian komprehensif telah selesai dilaksanakan dan teman-temanku telah selesai
di uji, mendengar kabar itu aku pun menitikan air mata sebab aku akan
tertinggal jauh dari teman-temanku, itu fikirku.
Orang-orang
silih berganti dan berdatangan menjengukku, namun aku tak mampu untuk
berinteraksi dengan mereka sebab mulutku sakit dan tak dapat banyak bicara. Aku
hanya menatap wajah-wajah mereka, yang dengan prihatin melihat keadaanku yang
semakin memburuk. Beberapa orang dokter, mantri dan orang pintar pun
mengobatiku tapi hasilnya sama. Bermacam obat telah melewati tenggorokan, mulai
dari yang rasanya hambar hingga yang paling pahit sekalipun.
Setiap
hari, ayah duduk disampingku dan membujukku untuk makan. Aku tak akan pernah
lupa saat ia berkata padaku “Nak, makanlah bareng sedikit. Ayah juga tak akan
makan jika kamu tak mau makan.” Tapi aku hanya diam dan tak memberi respon, air
mataku yang bicara saat itu. Hal yang amat membekas di ingatanku juga adalah
saat aku di bujuk untuk makan dan yang terbayang dibenakku itu adalah “Martabak”.
Sore itu dengan penuh semangat aku melihat ayahku bergegas pergi untuk
membelikan aku martabak, aromanya yang harum daun bawang serta rasanya yang
gurih menggugah seleraku. Tak berapa lama ayahkupun datang dengan membawa
sekantong martabak berisi 3 lapis, dengan lahapnya aku langsung menyantap
martabak tersebut dan ludeslah semuanya. Namun, ternyata martabak itu adalah
pantangan bagi penyakit yang kuderita sebab ia mengandung minyak, itu kata pak
mantri yang mengobatiku. Apa boleh buat, semuanya telah terdampar ke perutku. Hehe
!
Karena
sudah hampir 2 pekan aku tak pernah makan nasi meski sebutir pun, akhirnya
dengan banyak bujukan aku pun di infus, untuk pertama kalinya jarum dan selang
infus melekat di pergelangan tanganku, terasa sakit memang tapi ini demi
kebaikan dan kesembuhanku. Alhasil 5 botol cairan infus pun lepas memasuki
seluruh sendi-sendi tubuhku, dan kesehatanku mulai membaik, aku sudah mencoba
sedikit demi sedikit makan nasi walaupun rasa mual belum benar-benar minggat
dari seleraku.
Hari
demi hari kesehatanku perlahan pulih, tapi belum sembuh total sebab badanku
masih gemetar dan tak mampu berdiri terlalu lama. Sebulan lebih aku terbaring
tanpa daya, tak pernah mandi, tak pernah potong kuku, ah kebayang kan? Gimana kotornya
aku saat itu, dan akupun risih dengan hal tersebut, beneran.........suuueerrr....!!!tapi
namanya juga orang sakit, kudu nurutin wejangan orang tua. And finally, aku
kembali tersenyum untuk mereka orang-orang yang menyayangiku, tak terkecuali
seseorang itu yang mengantarku ke pak mantri, mengantarku ke terminal, membuatkan
puisi untukku dan paling sering datang menjengukku, apakah anda penasaran siapa
dia? Akan ku sebutkan untuk ketiga kalinya dalam tulisan ini, yah namanya “Sabri”.
The End...... By
Fhia_Elsyahda
Bagi Artikel ini
.jpg)
Post a Comment