Kontak Kami

Name

Email *

Message *

Air Mata yang Malang

Sumber: id.wikipedia
Pada hari itu adalah hari pertama bagiku keluar menjelajah alam bebas, tekadpun sudah bulat yang di kokohkan oleh niat yang baik lagi tulus, sebelum keberangkatanku, wejangan demi wejanganpun datang mengalir deras, pesan demi pesan yang datang silih berganti tak bisa lagi kuhitung, mengingat bahwa yang hadir pada saat itu, bukan hanya keluarga terdekat tetapi juga para sahabat yang sudah kuanggap saudara. Akupun terharu melihat mereka, karna kupahami betul bahwa mereka sangat menyayangiku dan menyimpan beban hati yang dibumbui dengan rasa tidak rela melepas kepergianku, tetapi kujelaskan kepada mereka bahwa aku akan baik-baik saja dalam pengembaraanku nanti, insya Allah.

Ada pesan yang sangat berkesan di palung hatiku yang paling dalam dan selalu kuingat, hampir di sela-sela waktu yang tersisa selalu kusempatkan berimajinasi tentang lukisan atau gambaran pesan itu, yaitu pesan dari kakek tercinta, walaupun mungkin sebagian orang memandangnya rendah karna status ekonomi memang sangat sederhana, tetapi bagiku dia adalah sosok yang pahlawan yang tak kalah hebatnya, banyak perjuangan-perjuangannya dalam menentang derasnya arus kehidupan, tapi saya tidak ingin menceritakannya pada tulisan ini, dengan beberapa alasan yang wajar menurutku, dia mengatakan seperti ini “Nak, jika dalam pengembaraanmu nanti, kau mendapatkan mata air yang pemandangan di sekitarnya indah sekali, airnya sejuk dan harum, maka itu bukan mata air yang biasa, jadi jangan pernah menyentuh apalagi meminum airnya jika kau tidak memintanya kepada yang empunya dengan memberikan satu butir telur, dua dirham, dan 3 buah kurma yang sudah masak, karna itu bisa menjadi racun bagimu, ingat itu”.

Rasa heran dan penasaranpun terus mengekor dan membuntuti di belakangku. Tiba pada suatu hari yang cerah, mata air itu kutemukan secara kebetulan dan tampa ada unsur pengetahuan dan pengalaman sebelumnya bahwa di tempat itu ada mata air yang mirip sekali dengan mata air yang di pesankan ole kakekku, peperangan  perebutan tahta kekuasaan pengaruh pun antara dua negara adikuasa yaitu negara penasaran dan negara pesan meledak, peperangan ini terus berkobar, berapi-api dan bergejolak di dalam jiwaku, dan akhirnya kemenangan berpihak di negara penasaran, pengaruh negara penasaranku inipun terus mencambuk-cambuk dan memaksaku untuk minum di mata air itu.

Suasananya pun ikut serta berpartisipasi dan mendukung perintah dari negara adi kuasa dengan segenap kemampuannya membujuk dan merayuku, tapi karna warga dari negara suasana melihat saya masih belum bersedia minum, maka mereka mencekik leherku dengan mantra sakti hausnya, akhirnya akupun takluk dan menyerah tampa syarat, maka kuminumlah air yang ada di mata air itu, setelah sampai pada tegukan ke tiga, aku berhenti sejenak dan mengingat pesan sang kakek,kok kakek melarangku minum ya, pada hal tidak ada yang punya kok, sejuk, bersih, harum lagi, setelah itu kulanjutkan lagi sampai tegukan terakhir, dimana kepusanku sudah mencapai titk klimaks.

Tak lama kemudian, terdengarlah suara yang sangat lembut, aku langsung menoleh kiri kana, depan belakang, keatas bawah, tapi tak seorangpun yang kulihat, bulu kundunkku langsung berdiri semua dengan semangat gotong royongnya mungkin, semuanya berdiri tegak bak siswa yang sedang melakukan upacara hari senin, suara itu sangat tidak jelas dari mana arah datangnya, tapi yang jelas keyakinanku mengatakan bahwa suara itu berasal dari penunggu mata air itu, dia mengatakan “hai anak muda perantau yang celaka, ketahuilah bahwa aku sangat bersusah payah membuat mata air itu hingga bentuknya sangat indah, dan airnya bersih, sejuk, dan harum, tapi mengapa kau meminum airnya tampa meminta dan memberikan kepadaku seperti yang ada di pesan kakekmu??? Kau adalah perampok, maka tunggulah balsannya segera”.

Suara itupun menghilang, tinggallah daku seorang yang gemetar ketakutan setengah hidup, wajah mata air itupun berubah dalam seketika, yang tadinya tersenyum manis, kini tidak lagi, wajahya menjadi kusut dan pucat, airnya tidak lagi harum, tapi berganti menjadi bau yang tidak sedap. Kini yang ada di benakku tinggallah tumpukan penyesalan yang menggunung, cahaya hati kian meredup, benar kata pepatah orang-orang bijak bahwa, penyesalan itu selalu datang telat dan tidak pernah datang lebih awal, tetapi bagaimanapun juga, ini sudah terjadi, mata air itu tidak akan lagi menjadi jernih nan harum mempesona, karna ulahku yang mengedapankan rasa penasaran tampa mau mendengarkan pesan yang di berikan, dan kini sekuat apapun usahaku untuk mengubahnya kembali seperti sedia kala, itu tidak akan mungkinlagi, sesuatu yang nicaya mustahil akan terjadi.

Aku hanya berharap, setelah aku beranjak pergi dan melangkahkan kakiku lagi di belahan bumi yang lain, jatuh di lobang yang sama adalah satu hal yang harus ku hindari sebisa mungkin.



Bagi Artikel ini


Post a Comment

 

Alamat

Bantaeng-Indonesia
HP : +6285242923601
Email : safhiqsaah@yahoo.com
Pin : 73CDD5F8

Sosial Media





Copyright © 2014

Copyright © 2014
Copyright © 2014. Media Karya Publikasi - All Rights Reserved
Edit by Sabri Sajha Powered by safhiqsaah.com