Kontak Kami

Name

Email *

Message *

Negara Formalitas (State Of Formality)


"Kau hidup di negara simbol, negara yang hanya menghormatimu karena simbol. Maka, milikilah simbol itu" 


(Sulhan Yusuf)

Sulhan Yusuf saat memberikan sambutan pada acara launching buku Titisan Cinta Leluhur
Bangsa Indonesia sebagai bangsa berdaulat sebagaimana diatur dalam Undang-undang Dasar adalah ciri yang khas dari sebuah Negara merdeka. Negara yang bebas dan berhak menentukan nasibnya sendiri. Sekilas, kita dapat saja menilai bahwa Negara & bangsa Indonesia yang majemuk ini seyogyanya sudah keluar dari kubangan dan lingkaran masalah yang rumit. Dari beberapa instrumen penting pembangun Negara, disana sini masih berkutat pada edisi lama yang cenderung lapuk termakan usia. Diantaranya adalah kondisi pendidikan. Pendidikan sebagai media pembangun manusia dalam rangkaian prosesnya untuk membangun dunia, dari beberapa tahun dan dekade terkini, semakin terjadi dekadensi moral yang kian tak tertata. Hal ini, menjadi paling buncit dengan multiproblematika yang menghampiri dan mewarnainya. Pendidikan sebagai medium sentral, kurang lebih sebagai alat untuk memperkaya diri dan keluarga, kroni dan mereka yang terus-menerus membayangi pendidikan dengan kebijakan tak tertulisnya.

Negara, dalam cita-citanya membangun peradaban bangsa, bernafas dengan sisa nafas tak beraturan bagai asma akut yang susah sembuhnya. Negara, dalam proses pembentukan jati dirinya pasca kemunduran rejim seumur hidup (Baca:Orde Lama), seolah berjalan tertatih dengan suguhan makanan yang serba menggemukkan namun menjemukan. Instrumen pembangun Negara mulai diperbaiki disana sini, pola hidup yang serba kasar mulai diubah dengan cara yang lebih manusiawi, lebih lembut dan jauh dari intimidasi. Namun, semua itu berjalan lambat dan penuh teka-teki. Entah kenapa, semua perbaikan-perbaikan secara massif oleh penegak bangsa seolah dilakukan setengah hati. Diujung penantian, justru semuanya menjadi kabur dan terkesan abstrak, memaksa mereka yang memiliki imajinasi liar mulai berfikir dengan berbagai macam persfektif.

Melalui berbagai macam persfektif itulah Negara dibangun, dihias dengan berbagai macam corak. Negara dengan adagium Bhinneka Tunggal Ika, seolah menjadi alasan paling mutlak untuk berbeda. Berbeda cara pandang, cara hidup dan tak lebih cara berlaku jahat pun berbeda-beda. Kini, negara menjadi semakin kaya persfektif. Hukum, tatanegara, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya adalah produk dari luar dan diadopsi secara massif tanpa tapis yang membersihkan. Indonesia, sebagaimana Negara pada umumnya, pun memiliki sebuah tatanan yang disebut dengan Sistemic Of Law, hukum sistemik. Hukum inilah yang menjadi payung Negara dalam menjalankan roda tatakelola kepemerintahan. Segala urusan menjadi terpusat dan mengarah pada satu kepentingan, yakni kepentingan Negara (baca:penguasa). Ditengah bayang-bayang sistem yang sementara diadopsi oleh Negara, serta tatakelola kepemerintahan yang masih sementara merangkak seolah belajar untuk berjalan, disana sini terjadi huru-hara menuntut perombakan sistem yang masih sangat prematur. Demokrasi yang kita anut seolah dianggap demokrasi semu dan menipu, Negara lebih banyak menumpuk pembangunan fisik secara berlebihan dengan dalih kebutuhan bangsa dan rakyatnya. Adalah Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia pada suatu hari pernah ditegur oleh kawan-kawannya karena beliau banyak melakukan proses belajar dan mengajar untuk mencerdaskan bangsanya dan bung Karno hanya berujar “Kita memang harus memberantas kemiskinan dan kelaparan, memberi makan orang yang lapar. Tapi, perlu pula kita ketahui memberi makan jiwa bangsa kita juga tidak kalah penting untuk memerangi dan mengurangi watak kolonial yang selama ini menjangkiti jiwa-jiwa kaum muda pada umumnya”

Bung Karno ingin menyampaikan bahwa, bangsa kita harus terbebas dari bayang-bayang semu Negara adidaya. Negara yang telah banyak memporak-porandakan sistem yang telah terbangun sebelumnya yang muncul secara demokratis dari kerajaan-kerajaan tempo dulu. Indonesia yang kami anggap sebagai NEGARA FORMALITAS adalah salah satu celoteh seorang kritikus sistem yang sedang berlaku di Indonesia. Watak kolonial yang diperangi oleh Bung Karno, seolah semakin tumbuh subur bagai penyakit menular yang sukar sembuhnya. Para kaum muda di didik untuk menjadi manusia pekerja, manusia mesin yang dilarang banyak menggunakan akal dan logika. Hal ini, bertujuan untuk mengeksploitasi fisiknya dan menumpulkan otak kritisnya. Negara RI, menggunakan pendidikan sebagai media dan sentrum pergerakan untuk mengeksploitasi jiwa para kaum terdidik. Setelah kaum terdidik mencapai taraf untuk siap bekerja, maka menjamurlah lowongan-lowongan pekerjaan yang membutuhkan orang-orang yang mau bekerja paruh waktu dengan gaji minim, bahkan sangat dibawah standar kebutuhan hidup orang kebanyakan. Jika symbol (minimal S1/strata 1) kaum terdidik tidak dimiliki oleh mereka (baca:warga Negara), maka siap-siap saja untuk kesulitan mendapatkan pekerjaan tanpa terik matahari langsung.

Wadah pendidikan untuk belajar bagi bangsa dan warga Negara semakin menjamur bagai tanaman dengan nilai jual yang sangat menjanjikan. Pendidikan dalam persfektif pasar (baca:bisnis), bagi mereka yang mempunyai modal selangit maka, memiliki peluang besar untuk memanfaatkan dan menancapkan segala kepentingannya yang bernilai profit. Wadah untuk menuntut ilmu pengetahuan pun bagai serigala ditaman liar, siap memangsa para tawanannya. Betapa tidak, institusi pendidikan tinggi seakan phobi dengan pelajarnya yang mulai kritis dan rasional untuk mempertanyakan kebijakan-kebijakan kampus misalnya. Status Quo masih mengitari selangkangan institusi pendidikan, mereka sangat gamang jika harus berkenalan dengan dunia tak nyaman atau sedikit berbeda dengan pandangan dunia yang dianutnya. Demikianlah kondisi dunia saat ini yang kutuliskan dan kuceritakan padamu yang masih sangat jauh dari kondisi yang baik, meski demikian kita tetap mesti optimis dengan harapan kedepan pasti akan semakin baik.


a/n : Hamsir Jaelani

Bagi Artikel ini


Post a Comment

 

Alamat

Bantaeng-Indonesia
HP : +6285242923601
Email : safhiqsaah@yahoo.com
Pin : 73CDD5F8

Sosial Media





Copyright © 2014

Copyright © 2014
Copyright © 2014. Media Karya Publikasi - All Rights Reserved
Edit by Sabri Sajha Powered by safhiqsaah.com