Kontak Kami

Name

Email *

Message *

Wajah Mie Instant


Kamu harus jujur bahwa kamu adalah pengonsumsi mie paling banyak. Itu pernah kupertanyakan kepada temanku saat aku kerumah Kostnya. Maksudnya aku hanya bertamu, bukan bertanya mengenai itu. Karena situasinya yang membuatku bertanya seperti itu. Aku memorgoki mereka sedang memanasi air lewat Water Dispenser. Setelah warna kuning lampu indicatornya dari merah berubah menjadi hijau sebagai pertanda bahwa airnya sudah dalam keadaan hot, bukan berarti mendidih. Ingat bro!, tak selamanya panas itu mendidih. Dia mulai meremuk mie instan didepanku setelah dia melihat lampu indicator itu berubah. Artinya dia akan melakukan penyajian, dengan diawali merendam lewat air panas hasil dari Dispenser. Aku bilang itu cara yang kurang baik dan itu perilaku tidak menyehatkan, bisa saja air itu tidak mendidih sampai suhu 100%selcius. Dia tidak menghiraukanku, biar cepat makan (simpel), katanya. Namanya saja instan, dak butuh rumit. Makan untuk kenyang, kenyang supaya bisa bertahan hidup. Bukan hidup untuk makan. Aku bilang okelah kalau begitu.

Sebenarnya bukan hanya temanku yang seperti itu, hampir semua Mahasiswa yang ekonominya menengah kebawah sebagai pemuja mie instan dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya di Makassar agar dia tidak mati karena kelaparan. Mungkin saja salah satunya kamu, anda atau bisa juga hal ini terjadi padaku.

Mie Instan, identik dengan makanan Mahasiswa yang berekonomi menengah kebawah. Berbeda dengan Mahasiswa yang ekonomi menengah ke atas, tentu lebih mewah sajiannya dalam hari harinya. Kalau kamu merasa tidak setuju dengan pendaptku, silahkan surve sendiri!. Sampelnya kemahasiswa yang ekonomi menegah yang kuliah diMakassar. Silahkan pengambilan respondenya ke Universitas Muhamadiyah, Universitas Indonesia Timur dan Universitas Satria Makassar. Aku yakin kamu akan percaya dengan kata kataku ini jika kamu telah melakukannya.

Aku tergolong dimana?, Mahasiswa dengan ekonomi menegah kebawa atau mahasiswa ynag ekonomi menegah keatas. Aku mulai aknn jujur padamu, sebenarnya ku menempati posisi yang pertama dari yang kusebutkan diatas. Aku juga termasuk pengkomsumsi mie terbanyak. Bahkan mie adalah makanan favoritku. Menurutku murah, dijangkau modal dan simple dalam proses penyajiannya. Gak butuh waktu lama. Karena itu pula, sangatlah wajar kalu ada orang yang bilang, mahasisiwa sepertiku wajahnya mirip Mie Instan.

Aku punya cerita tentang mie, cerita ini dari temanku dan mungkin dia sudah post di Blognya (fachrirezakusuma.wordpres). Karena waktu itu dia bilang dan cerita kepadaku. Menarik atau tidak silahkan nilai sendiri. Dia hanya ingin menyampaikan filosofi mie Instan bagi mereka yang bertanya “Kenapa?”.

Seorang anak sedang membaca buku, tiba tiba dengan semena-mena, adiknya datang melontarkan pertanyaan.

“Bang, koruptor itu korupsi, pada hal dia tau bahwa itu perbuatan buruk?” . Hahaha , Dek, pertanyaanmu itu sebenarnya tak perlu dijawab. Itu pertanyaan lucu. Banyak sekali hal lucu yang terjadi disekitar kita yang tanpa kita sadari, sama saja kaya kasusu koruptor itu.

Mengapa maling itu mencuri pada hal dia tau itu dosa?

Mengapa perokok itu tetap saja dia merokok pada hal dia tau bahwa merokok itu bisa saja merusak tubuhnya?

Dan mengapa kamu tetap maka mie instan pada hal  kamu juga tau bahwa makan mie itu tidak menyehatkan?

Hem, saya memang suka makan mie instan, tapi kan itu kalau kalu gak ada makanan,  lagi pula ngak repot masaknya, praktis.

Nah, Dek, itulah jawabanya. Lucu sekali kan?. Kita selalu mencari cari alasan untuk melakukan sesuatu hal, pada hal kita tau itu kurang baik bagi diri kita sendiriatau orang lain. Kita terlalu banyak berkilah dan mencari pembenaran.

Tapi kan Bang, kalau saya kan makan mie instan karena sesuai sama keadaan dompet mahasiswa.
Alasan masalah keuangan?itu alasan klasik, dek. Mereka, para pencuri, koruptor, Bandar narkoba, pelacur, mereka melakukan hal yang tidak baik juga hampir dapat dipastikan karena masalah keuangan juga.

Oke, oke, fine. Tetapi saya belum dapat jawaban atas pertanyaan saya tadi Bang.

Pertanyaan itu tak perlu dijawab dek, kalupun mau tau jawabanya, ingat saja filosofi makan mie instan tadi. Pikirkan bai- baik.

Si adik masih bingung memikirkan percakapan tadi, sedangkan sang kakak kembali melanjutkan baca bukunya”.

Kamu pasti bisa nagkap maksud dari cerita tersebut, kalaupun tidak itu urusanmu bukan urusanku. Aku juga akan menyuruhmu untuk memikirkan percakapan si Adik dan si Kakak diatas. Sambil kamu memikirkanya, aku mau lanjutkan tulisanku ke Bagian selanjutnya. Selamat memikirkan….!



Createdby Sabri
Postby FhiaSofia


Bagi Artikel ini


Post a Comment

 

Alamat

Bantaeng-Indonesia
HP : +6285242923601
Email : safhiqsaah@yahoo.com
Pin : 73CDD5F8

Sosial Media





Copyright © 2014

Copyright © 2014
Copyright © 2014. Media Karya Publikasi - All Rights Reserved
Edit by Sabri Sajha Powered by safhiqsaah.com