Kontak Kami

Name

Email *

Message *

Sekuntum Kesabaran

Sofhia
Fhia Sofhia
Pagi yang cerah untuk seorang Aina Sofia memulai aktifitasnya. Fia begitu sapaan akrab diantara teman-temannya. Jam menunjukkan pukul 10.30 menit Fia telah selesai membereskan semua barang yang berserakan di lantai di dalam kamar kostnya yang berukuran 4x3 meter itu, meski kamar itu kelihatan dalam ukuran yang pas-pasan namun kamar itu begitu rapi dan memberikan aroma kedamaian, iya karena Fia adalah seorang yang begitu cinta akan kebersihan dan kerapihan, termasuk cewek yang perfeksionis dalam hal apapun.

Setelah semuanya beres Fia beristirahat sejenak sambil mendengarkan lagu-lagu pop kesukaannya. Handphonenya berdering itu tanda ada sMs yang masuk diraihnya handpohone itu lalu dibuka dan dibaca ternyata sMs dari seseorang, seseorang yang selama ini mengisi hari-harinya dengan segala warna warni kehidupan, seseorang yang selama ini selalu menyemangati dan membuatnya tersenyum ketika dia berada dalam situasi sulit yang membuatnya diliputi kelemahan yah sMs dari Fikri Alfarizy, bang Fikri begitu sapaan akrab Fia pada pemuda pujaan hatinya itu. Segera saja dia membaca sMs dari bang Fikri. 

“Assalamu ‘alaikum.. Hai sedang apa Fi.....?”
Tanpa berlama-lama Fia langsung membalas sMsnya “Walaikum salam.. Aku baru saja beres-beres bang, uh capek nih.” 
“Fi.... kamu sibuk gak hari ini? Ketemuan yuk.. Hari ini aku mau meluangkan seluruh waktuku untukmu.”  
Dengan wajah yang sumringah dan senyum khas diwajahnya Fia menjawab “Hmm mau dong bang, aku gak ada aktifitas kok hari ini.” Tak cukup 3 detik sMs balasan dari Fikri
“Oke tunggu aku yah sejam dari sekarang.”
“Oke bang.”

Jam menunjukkan pukul 12.45 menit, Fia telah siap dijemput oleh bang Fikri sang pujaan hati. Tapi sampai pukul 13.15 menit Fikri belum muncul juga, Fia mulai curiga kok bang Fikri lama banget yah udah jam segini belum datang-datang juga kemana sih tuh orang, kicaunya mulai kesal dalam hati. Dan Piittt......piitttt......... itu suara klakson motor Fikri, segera Fia membuka pintu lalu menemui Fikri dan merekapun melaju pergi. Diperjalanan menuju rumah Fikri seperti biasa Fia pasti bertanya ini itu kenapa Fikri selalu telat.

“Bang Fikri kok lama banget sih, jam karet deh.” Wajahnya kesal
“Iya maaf Fi.... Kan perjalanannya jauh.” Kata Fikri membujuk.
“Alasan deh. Udah abang konsen aja nyetir motornya tapi jangan ngebut yah, anak orang nih diboncengin.” Sambil tertawa renyah.

Setelah perjalanan yang cukup jauh menuju tempat tinggal Fikri akhirnya mereka berdua sampai juga. Melepas lelah disandaran sofa itulah yang pertama-tama dilakukan Fia setibanya dirumah Fikri, karena Fia sudah sering berkunjung kerumah itu jadi dia sudah tidak sungkan lagi dan menganggap rumah itu adalah tempat tinggalnya sendiri. Sementara itu orang tua Fikri tidak ada dirumah karena mereka sedang melakukan perjalanan bisnis keluar kota dan hanya tinggal Fikri, bibi dan tukang kebun yang jadi penghuni rumah itu untuk beberapa waktu. Merasa lelahnya telah hilang, Fia lalu beranjak kedapur melihat apakah aktifitas yang sedang dikerjakan oleh si bibi, akhirnya Fia pun berinisiatif untuk membantunya meskipun telah dilarang oleh Fikri dan bibi namun Fia tetap bersikeras untuk membantu menyelesaikan pekerjaan bibi didapur. Semua telah selesai dan makanan pun telah siap disantap di meja makan, Fikri masih asik didepan tv menyaksikan berita yang tengah diliput oleh salah satu stasiun tv swasta itu.

“Bang makanannya udah jadi dibikin sama bibi, makan yuk.” Ajak Fia.
“Iya tunggu dulu.” Sahut Fikri ditengah keseriusannya.

Makanan sudah habis disantap oleh keduanya, Fikri dan juga Fia. Mereka lalu mengambil posisi diruang tengah yang biasanya dijadikan ruangan tempat berkumpul dan ngobrol keluarga, disitu Fikri membuka laptopnya dan menconncetkannya ke internet. Browsing informasi sambil mereka ngobrol lepas, kemudian Fikri menunjukkan blog baru buatannya kepada Fia dan meminta pendapat bagaimana menurut Fia apakah blog itu bagus atau masih perlu dimodifikasi lagi. Namun Fia hanya memberikan jawaban singkat “Yah itu udah bagus kok bang.” Fikri semakin asik mengklik setiap link yang ada diblognya itu, lalu tanpa sengaja dia membuka sebuah catatan pribadinya namun segera saja dia close, tapi karena mata Fia begitu tajam dia sempat melihat ada sebuah nama yang tertera dalam catatan itu. Fia makin penasaran, tapi rasa penasaran itu tidak diberitahukan pada Fikri yang kala itu tak peduli saja dan terus mengoceh ini dan itu.
Hari kelihatannya semakin sore dan sinar matahari perlahan memudar karena sang raja malam segera bersiap mengepakkan sayapnya. Fia mengajak Fikri untuk mengantarnya pulang.

“Bang Fikri, udah sore nih, anterin aku pulang ya.” Ajak Fia kepada Fikri.
“Ntar dulu, kan masih sore.” Kata Fikri membujuk.
“Ayolah bang, gak enak sama teman-teman kost kalo aku pulang malam.” Wajah Fia memelas.
“Iya deh, iya abang antar. Tapi abang mandi dulu yah.”
Sebelum maghrib mereka telah sampai di kost-kostan Fia, tanpa harus turun dari motornya dan mengantar Fia sampai kedepan pintu Fikri pun pamit karena dia masih harus menemui temannya yang sudah punya janji dengannya untuk membicarakan sesuatu hal. Fikri pun berlalu pergi dengan motornya dan hilang diujung jalan. Setelah Fikri lepas dari penglihatannya, Fia segera masuk ke kamarnya dan tanpa istrahat dia langsung membuka laptopnya dan connect ke internet. Karena rasa penasaran yang amat sangat itulah maka tanpa berfikir panjang dia langsung membuka blog Fikri, dan tercenganglah mata Fia melihat apa isi blog itu, tersentak hatinya riuh gemuruh kabut akhirnya menyelimuti hatinya, butiran kristal mulai jatuh membasahi pipinya yang chubby “Ya Allah, inikah kenyataan yang harus kuterima setelah sekian lama aku mendampinginya? Allahku, apa salahku hingga aku tercampakkan seperti ini? Hingga keberadaanku tidak pernah dianggap ada.” Menjerit hati Fia, semakin deras air mata mengaliri pipinya. Saat itu juga dia langsung mengirim sMs kepada Fikri, menuliskan sebagian kata yang ditulis Fikri dalam catatan itu.
“Dian.... kamulah nafas hidupku, setelah kamu pergi aku seperti bangkai yang tiada arti, hingga orang lain berada disampingku, aku masih tetap mencintaimu, nafasku hilang seiring kepergianmu.” Menetes air mata Fia mengirim sMs itu. 

“Kamu lihat itu dimana Fi..?” Tanya Fikri.
“Kamu tahu bang, dimana kamu menulis itu.” Semakin terisak Fia dalam tangisnya.
Tak lama kemudian Fikri pun datang ke kostan Fia, tanpa sepengetahuan Fia. Fia segera mengambil jilbabnya dan menemui Fikri.
“Coba kulihat matamu, kamu nangis lagi ya?” Tanya Fikri.
“Bilang padaku Fi... dimana kamu lihat tulisan itu.” Fikri membujuk Fia untuk bicara dan akhirnya Fia pun bicara disertai tangisan yang memecah keheningan diruang tamu kostan
“Udahlah bang, kamu gak usah pura-pura gak tahu. Jadi selama ini kamu anggap aku apa? Aku ternyata gak pernah ada dihatimu bang Fikri, akuuu............... aku gak berarti apa-apa. Selama hampir 2 tahun ku mengenalmu dan selama itu juga aku setia mendampingimu dengan kesabaranku menghadapi cacian dan makian dari Dian, tapi apa? Apa yang akhirnya aku terima adalah anggapanmu yang masih melihatku dengan kebutaanmu. Fia terus menangis.

“Fi..... dengarkan aku dulu.” Ujar Fikri yang menampakkan wajah bersalahnya.
“Apa bang? Apa yang harus aku dengar? Aku harus mendengarmu mengatakan bahwa aku memang tidak pernah ada dihatimu? Iya?” Fia masih saja menangis dan Fikri hanya tertunduk diam. Lalu dia menulis disebuah kertas dan diberikannya kepada Fia. 
“Kamu salah jika kamu beranggapan seperti itu, aku sudah menyadari ketulusan cintamu, kamu selalu ada dihatiku. Kamu jangan berfikiran kalo kamu gak pernah aku anggap, aku sayang sama kamu Fi....” Disodorkannya kertas itu kepada Fia, namun Fia tak memberikan reaksi apa-apa terlebih lagi untuk mengatakan sesuatu, mulutnya dikuncinya rapat-rapat.

Hari semakin gelap, bunyi murattal di mesjid telah berkumandang dimana-mana, tapi dua anak manusia itu masih beku dalam hening, lalu Fikri sudah tidak tahu harus berbuat apa agar Fia percaya akan hal itu, lama Fia termenung dalam tunduknya. Hatinya kembali berceloteh “Rabbii..... jika pun kesabaranku menghadapinya telah sampai pada batasnya, maka ikhlaskanlah aku menerima semua ini. Aku telah cukup bahagia selama ini, meski sungguh dia berbohong untuk semua itu. Ampuni aku dan bang Fikri ya Rabb, kami manusia yang penuh dengan kesalahan”. Fia menarik nafas panjang dan menatap Fikri yang tengah diam, lalu air matanya kembali meleleh. Fikri berusaha membujuknya.

“Fi..... udahlah, berhenti menangis, toh buktinya aku tetap ada untukmu. Aku udah liat kamu, udah liat ketulusanmu, caramu mencintaiku tiada duanya. Percayalah aku tidak akan mengulangi kesalahanku, maafkan aku.” 
“Bang akuu..............., percuma bang Fikri aku ini bukan siapa-siapa.”
“Berhenti berkata seperti itu Fi...” ujar Fikri dan kumandang adzan pun kini menggema dimana-mana 
“Udah maghrib bang, pulanglah.” Fia menyeka air matanya. 
“Apa ada yang ingin kamu sampaikan?” Tanya Fikri namun di sambut gelengan kepala oleh Fia. “Pulanglah bang, gak ada yang perlu dimaafkan.” Sahut Fia pada Fikri.

Perasaan Fia mulai lega, Fikri akhirnya pamit pulang karena sang raja malam telah menampakkan kegeramannya. Setelah melaksanakan sholat maghrib di kamar yang berukuran 4x3 meter itu, Fia berdo’a “Bismillah.... Ya Rabb.... aku kembali mengeluh padamu, satu-satunya tempatku mengeluarkan keluh kesahku. Rabbii...... hambamu ini tengah dirundung kesedihan yang begitu dalam, tapi janganlah kesedihan ini membuatku lupa bahwa sungguh masih ada Engkau pelipur laraku ya Rabb, bentengilah jiwa dan ragaku dengan kesabaran dan ketegaran menjalani pahit dan getirnya hidup, apa yang baru saja aku lihat dan aku dengar dari bang Fikri semoga itu menjadi pelajaran bagiku, pelajaran agar aku bisa lebih bersabar lagi. Aku tahu mungkin bang Fikri tak pernah punya niat untuk menorehkan luka hari ini padaku, tapi aku merasa terasingkan olehnya. Duhai Allah, bukalah lebar-lebar mata hati bang Fikri untuk melihat bahwa rasa yang engkau titipkan kepadaku ini adalah tulus untuknya, bahwa sabarku selama ini kutujukan untuknya. Jika memang bang Fikrilah pemuda yang engkau kirimkan untuk menjaga hamba, maka berilah restu kepada kami agar mampu bersama-sama menyempurnakan agama kami dan bersama-sama saling menggenggam untuk kemudian menuju keagungang-MU ya Rabb. Amin.” Selesai berdo’a Fia lalu melanjutkan membaca Al-Qur’an, yah begitulah kala hatinnya tengah diselimuti kekalutan, Al-Qur’anlah yang menjadi penenangnya.

Malam itu mereka lalu bercerita lewat sMs apa yang ada dalam hati Fia diungkapkan semuanya ke Fikri, dan Fikri akhirnya menyadari bahwa wanita yang selama ini setia mendampinginya, entah senang ataupun susah adalah Fia, Aina Sofia. Dengan penuh kesabaran dan ketegaran menerima ocehan dari wanita yang telah menjadi masa lalu Fikri, tapi karena kesabaran itulah akhirnya Fikri mampu melihat dengan mata hatinya bahwa benar ada Fia yang setia disampingnya, yang tak pernah lelah memberinya perhatian dan selalu menyelipkan do’a untuknya, untuk mereka berdua tentunya.

By Fhia Sofhia
    

Bagi Artikel ini


Post a Comment

 

Alamat

Bantaeng-Indonesia
HP : +6285242923601
Email : safhiqsaah@yahoo.com
Pin : 73CDD5F8

Sosial Media





Copyright © 2014

Copyright © 2014
Copyright © 2014. Media Karya Publikasi - All Rights Reserved
Edit by Sabri Sajha Powered by safhiqsaah.com