Matahari semakin tinggi, panasnya terasa memeras keringat. Siang itu Sofi pergi ke sebuah toko buku yang sering di kunjunginya setiap akhir pekan. Dengan mengendarai motor maticnya dia melaju menembus jalanan dan menerobos terik matahari yang seperti membakar kulitnya. Sampai di depan toko buku dia pun memarkir motor maticnya, begitu pintu toko dibuka bau khas dari AC pun tercium dan seluruh ruangan serasa adem. Dia tak lagi kepanasan.
Sofi lalu mengelilingi hampir seluruh ruangan toko buku itu, dari rak yang satu menuju rak yang lain, memilah-milah buku yang menarik. Lalu matanya tertuju pada satu buku yang menurutnya menarik “Musafir Cinta”, dia lalu mengambilnya dari rak dan menuju ke rak yang berisi kamus dan buku bahasa Jepang. Ketika sedang asyik membaca, seorang lalu menghampirinya.
“Aina Sofia?”
Sofi lalu menoleh “Mas Yudi?” menampakkan senyum khasnya. “Mas Yudi, ngapain disini?”
Hatinya mulai berkicau lagi “Akhirnya, sang pujaan. Kita dipertemukan lagi.”
“Memangnya apa coba yang orang cari di toko buku? Pastinya bukan mainan kan?”
Mereka tertawa geli. Lalu seorang gadis menghampiri mereka di susul dengan seorang lelaki yang seumuran dengan Yudi.
“Siapa mas?” Tanya sang gadis menghampiri dan terlihat sangat akrab dengan Yudi.
“Oh, biasa, teman aku.”
Sofi yang mulanya tersenyum tiba-tiba raut mukanya berubah, tertunduk dan menggigit bibirnya. Kata-kata itu seperti hujaman beribu jarum yang menusuk hatinya. Ternyata cintanya tak menyadari kehadirannya.
“Sofi, kenalin ini Lidya dan Ivan.” Mereka menjulurkan tangan menjabat Sofi.
“Ini Sofi, teman aku yang aku bilang mahir dalam bahasa Jepang” Sofi pun menjabat tangan keduanya.
“Oh ya mas, kami mau lihat-lihat dulu buku disana. Yuk Van.” Ajak Lidya.
“Oke, kalau gitu.”
Lidya dan Ivan pun meninggalkan mereka berdua di depan rak buku bahasa Jepang. Sejenak suasana menjadi hening.
“Buku apa tuh yang kamu pegang Fhi?” Seru Yudi memecah keheningan.
“Oh, ini novel islami Yud. Musafir Cinta.” Jawab Sofi singkat.
Mereka lalu berjalan menuju sebuah tempat duduk yang memang di sediakan oleh pemilik toko kepada pengunjung yang hendak duduk bersantai sambil membaca buku. Duduk berdampingan rasanya Sofi semakin senang, meski sempat hatinya mendung karena ucapan Yudi yang menganggapnya hanya teman biasa.
“Mas Yudi kemana aja? Kok nggak pernah ngasi kabar?” Tanya Sofi sambil membuka lembar demi lembar buku di tangannya.
“Tuh kan bilang mas lagi. Kita kan sudah sepakat.”
“Eh maaf mas. Maksudku Yudi, karena lama tak bertemu aku jadi lupa.” Sofi tersenyum.
“Iya nggak apa-apa. Maaf ya Fhi akhir-akhir ini aku sibuk ngurusin bisnis Papa. Beliau ngasih amanah ke aku untuk mengambil alih pimpinan perusahaan, karena beliau sedang bertugas di luar negeri.” Yudi menjelaskan.
“Wah, hebat dong. Berarti kamu udah jadi presdir yah?”
Yudi hanya tersenyum. Sesekali melirik ke arah Sofi yang kelihatannya sangat senang.
“Yud, aku udah ujian lho. Aku lulus dengan nilai terbaik.”
“Oh ya? Berarti kamu udah jagonya bahasa Jepang dong?” Tanya Yudi.
“Ah, nggak juga. Waktu aku habis ujian, aku pernah menghubungi kamu. Tapi handphonemu nggak aktif.”
“Memang aku sering menonaktifkan ponsel pada saat meeting. Biar nggak ada yang ganggu. Mungkin kamu menghubungiku saat itu.” Ucap Yudi.
“Yah… mungkin.” Sofi mendesah.
Tak lama kemudian, setelah cukup lama ngobrol Sofi pun pamit pulang lebih dulu karena masih ada urusan yang harus dikerjakannya. Namun belum sempat Sofi bangun dari tempat duduknya Ivan dan Lidya menghampiri keduanya. Dan mengajak Yudi pulang tanpa sungkan Lidya menggandeng tangan Yudi. Kemudian mereka bersama-sama menuju kasir untuk membayar buku yang mereka beli.
Hari sudah beranjak sangat sore ketika Sofi baru saja keluar dari toko buku. Dia lalu melaju dengan motor maticnya. Tiba-tiba handphonenya berdering, ternyata Sms dari Yudi.
“Fhi, besok aku mau ketemu sama kamu. Bisa?”
Tanpa fikir panjang Sofi lalu membalasnya “Iya, bisa Yud.”
“Oke. Aku tunggu kamu di tempat biasa.”
“Oke.” Jawab Sofi.
Setibanya dirumah Sofi langsung melepas pakaiannya lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mengganti pakaiannya dia lalu duduk di teras dekat kamarnya di lantai atas. Menatap ke langit tapi bulan ataupun bintang tak satupun yang nampak, mungkin karena malam baru mulai membuka tabirnya. Fikirannya hanya tertuju pada satu orang yang di temuinya siang tadi yaitu Yudistira Pratama. Sosoknya tidak bisa luput dari ingatan Sofi. Kembali kerinduan itu mencuat lagi dalam hatinya. Seketika dia menarik secarik kertas lalu menuliskan sebuah puisi.
Malam ini tak cukup indah
Karena bintang dan bulan tak hadir menerangi gelap malamku
Di tempat ini aku duduk seorang diri
Yang terdengar hanya suara jangkrik
Dan tetesan air menjatuhi bebatuan
Hatiku kembali gelisah, entah mengapa aku memikirkanmu
Dadaku terasa sesak, fikiranku melayang menerawang jauh tentangmu
Duhai pujaan…. Dengar bisikku, dengar aku!
Di kedalaman hatiku, aku merindukanmu
Sofi mendekap lembaran puisi yang baru di tulisnya erat ke dadanya dan membayangkan Yudi datang menghampirinya. Namun ada 1 hal yang mengganjal dan menjadi pertanyaan Sofi, siapakah Lidya itu? Mengapa dia terlihat begitu akrab dengan Yudi? Apakah dia kekasih Yudi? Tapi janji yang di buatnya kepada Yudi kalau mereka akan bertemu besok sedikit melegakan hatinya. Dia sudah tak sabar ingin segera hari esok itu datang.
*Createdby FhiaSofia
Bagi Artikel ini

Post a Comment