Kontak Kami

Name

Email *

Message *

Rindu Mengetuk Hati (Bag.3 dari The Short Novel "Senyum Sang Mentari")

Hari demi hari berlalu, Yudi tak pernah lagi berkunjung ke rumah Sofi karena sibuk dengan pekerjaannya. Sofi pun sibuk dengan kursus bahasa Jepangnya bersama Wulan. Karena sebentar lagi dia akan ujian. Di sela kesibukannya belajar mempermantap materi yang akan diujikan, Sofi termenung, hatinya berdebar dan seperti merindukan seseorang. Kemudian muncul sebuah bayangan yang berdiri tepat di depannya, tersenyum. “Yudi?” sambil mengucek matanya tak percaya. Tiba-tiba Mamanya datang mengetuk pintu, membuyarkan lamunannya.
“Fhi, Sofi. Makan dulu ‘nak.”
“Iya, Mah. Bentar lagi Sofi turun.”

Di ruang makan hanya ada mereka berdua, seorang pembantu hanya sibuk di dapur dan seorang tukang kebun yang sedang menyiram tanaman. “Fhi, kenapa Yudi tidak pernah lagi datang kemari?” Mamanya tiba-tiba menanyakan Yudi. “Oh, Yudi Mah. Dia katanya sedang sibuk dengan pekerjaannya.” Dengan santai menjawabnya, tapi hatinya penuh getaran.

“Sekali-kali ajaklah dia kemari, Mama mau memberikannya sesuatu.”
“Apa? Mama punya hadiah untuk Yudi?” Tanya Sofi heran.
“Bukan hadiah, hanya tanda terima kasih saja karena telah membantumu beberapa hari yang lalu.”
“Oh… Iya Mah, nanti ku ajak kalau dia udah nggak sibuk. Tapi apa Mah?” Sofi bertanya lagi.
“Mama mau kasi dia lukisan yang Mama buat kemarin, nampaknya dia sangat terpesona dengan lukisan itu.  Sambil menunjuk lukisan seorang  gadis dengan gaun warna biru berpadu kuning keemasan hadiah ulang  tahun Sofi dari Papanya.
“Mama nggak ada maksud apa-apa lho Fhi.” Ujar Mamanya meluruskan.
“Iya, iya…..” ketus Sofi, melanjutkan makan siangnya.

Setelah makan siang Sofi kembali ke kamarnya untuk belajar, dia kembali termenung. Kemudian menyentuh dadanya. Hatinya berkicau “Mengapa akhir-akhir ini aku terus memikirkan Yudi? Wajahnya selalu hadir dalam lelap tidurku. Seperti ada yang janggal di hatiku. Dan mengapa saat ini aku merasa  sangat merindukannya? Merindukan sosoknya yang penuh dengan kesederhanaan. Apa aku tengah jatuh hati padanya?.” Wulan tiba-tiba masuk ke kamar Sofi tanpa mengetuk pintu dan mengagetkannya.

“Hei sedang apa kamu Fhi?”
“Nie aku lagi belajar buat ujian besok lusa.” Tersenyum masam.
“Hmm kamu lagi belajar, atau sedang memikirkan mas Yudistira Pratamamu itu?” ledek Wulan
“Ah, Lan kamu ngomong apaan sih? Ada- ada aja deh.” Sofi menyangkal.
“Udahlah Fhi, kamu ngaku aja deh. Kalau nggak, mukamu nggak akan merah seperti itu.” Wulan meledek  lagi.

Akhirnya Sofi mengaku juga, dan menceritakan kepada Wulan sahabatnya tentang apa yang di rasakannya selama ini kepada Yudi. Perasaan yang begitu dalam, tak pernah ada pemuda yang membuatnya seperti itu. Ingin rasanya dia terbang dan menemui sang pujaan yang kini bertengger di hatinya.  


*Createdby FhiaSofia


Bagi Artikel ini


Post a Comment

 

Alamat

Bantaeng-Indonesia
HP : +6285242923601
Email : safhiqsaah@yahoo.com
Pin : 73CDD5F8

Sosial Media





Copyright © 2014

Copyright © 2014
Copyright © 2014. Media Karya Publikasi - All Rights Reserved
Edit by Sabri Sajha Powered by safhiqsaah.com