Sekelompok pemuda yang nogkrong dimeja panjang sebela kiri. Mereka bercengkrama, kadang situasinya serius kadang mereka terbahak bahak.
Aku duduk seblah kanan sudut cafe bersama temanku yang bernama Hamjal. Kamu pasti tau orangnya.
Dari pembicaraan mereka aku mendengarnya, tentang nasib anak desa yang tak kunjug jadi PNS.
Kenapa seperti itu?, tanya sala satu dri mereka.
Temannya berkata "Susai gitte lanjari pns siana, ka gitte inne mae sangin de'de' pabingkung na pa ambi' tanrrang. Jari manna tawwa an dattara pns tala lalusui tawwa. Injjo sianaka sampi ballaklu S2 mi pole na sangin tanrrang mami narekeng allo allo. Gurai na kamonjo, ka manggena pa ambi tanrrang tonjji najama. Jari kabattuanna mintong".
Disudut aku menahan tawa. Ada lagi yang menarik waktu sala satu temanya menambahkan.
"Susa mintongngi tawwa gitte mae ka tanre' doi' tta tawwa bela. Sompae nyia'ja tawwarria jari pns tapi bayarai tawwa 180 juta, na jamin lulus bede'."
Wah aku mulai tertarik mendengarkannya. Tapi tiba tiba lampu cafe padam, jadi pembicaraan terhenti.
Post a Comment