Kali ini aku mau jadi orang Nyenyer, artinya aku mau bicara tanpa ditanya kepada kamu dan anda. Jika tidak siap maka silahkan tutup tulisan ini!, tetapi jangan menyesal karaena tidak mengikuti ceritaku kali ini. Karena seratus persen aku jamin, bagi orang yang tidak mengikuti ceritaku dibagian ini pasti menyesal. Suwwerrr…
Kamu pasti perna mengalami hal yang serupa denganku saat seumuran denganku, wah para aku lupa umurku saat kejadian awal itu. Tapi sebenarnya aku bisa tau asal aku balik menghitung dari sekarang. percuma, itu tidak akan kulakukan, karena aku bisa memberitahumu persamaan kita tanpa menyebutkan umurku saat itu. Jelas ingatanku saat itu kelas dua Madrasa Alyiah, atau sederajat dengan kelas Dua SMA.
Hapeku berbunyi, tau ngak bunyi hape nokia yang sering diistilakan “panyambila taipa”?, begitulah hapeku waktu itu. Bunyinya mengisyaratkan pesan masuk yang belum kubaca. “Mana kaka pilih aku atau dia tetanggaku?”. Begitu isi pesan itu. Wah, kaget aku saat itu. Nomornya tak ada di hapeku ditambah dia juga dak sebutin nama. Pikiranku menuju ke pacarku saat itu. Siapa pacarku?, pasti kamu penasaran kan? Heheheheh…
Aku bergeser kerumah temanku, sambil jalan aku memikirkan pesan singkat itu. Dalam hatiku terus bertanya, siapa ya,?. Hikmah, ngak mungkin dia berani sms seperti itu. lagian kenapa coba dia sms seperti itu seperti memergokiku dalam perselingkuhan. Andai cerita sinetron itu boleh jadi, tetapi ini ceritaku. Pikiranku bukan Hikmah, karena uda lama juga aku dak perna komunikasih, statusku juga sama dia antara ada dan tiada, mirip lagunya Utopia.
Aku mulai ingat, akau perna dekat ke salasatu cewe yang menurutku cantik saat itu dan sampai sekarang. Dulu aku perna mendaki gunung bareng dia, tetapi bukan beruda , banyak malah, 21 orang dalam satu pemberangkatan yang kemudaia dibagi dua kelompok. Aku tetap sama dia. Aku banyak cerita dalam perjalananku, karena mulai dari star perjalananku sampai finish aku selalu bersamanya, pegan tangan lagi, tetapi itu disaat tertentu jika dia membutuhkan pertolongan untuk ditarik tanganya dalam pendakian.
Bukan hanya itu yang bisa aku ingat, banyak. Termasuk setelah aku tiba dipegunungan Daulu, dekat jurang pemisah antara pegunungan Bantaeng dan bulukumba, Sinjai.
Malam waktu itu tibah yang diselimuti kabut malam. Dingin itu pasti, takut apa lagi. Aku malah ditunjuk pemandu kegiatan untuk menjaga tenda putri, yang berarti aku masih bisa bersama Nadya. Kebersamaanku lanjut malam itu setelah kebersamaanku dalam perjalanan jauh.
Aku merasa kecapean karena aku membawa tiga tas, tas aku, Nadya dan Dian. Karena itu aku pegal dan ingin cepat tidur. Tetapi tidurku hanya dikit karena tugasku yang harus jaga. Aku tidur duluan ya, sebentar aku bangun, kataku ke Nadya. Iya jawabnya, aku juga mau tidur. Kalu begitu ayo masuk tenda, kamu tidur bagian sini sambil kutunjuk samping kiriku, karena ada Riya samping kananku yang dari tadi tidurnya. Oke, aku punya tas untuk bantal, mau berdua kak?. Kayaknya itu ide bagus, kataku. Tidurlah!. dia didekatku, pas samping kiriku dengan bantal tas yang sama, asik jika sekarang aku pikirkan hal itu, tetapi dulu aku ngak sempat pikirkan itu. Mungkin karena aku sangan kecapean.
Aku terbangun. Jam menujukkan jam 9.23 malam, artinya aku harus melanjutka tugas untuk menjaga mereka-mereka. Aku melihat Nadya yang masih ketiduran, aku lihat itu karena matanya masih tertutup. Dibantu dengan korek api seadanya aku bisa melihat mukanya putih nan cantik yang sedang kelelahan. Aku tak berani membangunkanya karena aku kasian padanya yang sedang melawang rasa capenya, meski tadinya aku janjian bangun sama-sama.
Aku menuju kepengapian. Kalau dalam istilah pendaki gunung api unggun, atau apalah sebutanya. Tak lama kemudaian aku merasa hangat. Keluarlah Nadya dalam tenda. Jahat, kenapa kak tak membangunkanku?, tanyanya sambil duduk dekatku. Aku pikir kamu cape dan butuh istrahat makanya aku tak bangunkan kamu, kasian. Ia, tetapi kitakan mau tugas bersama malam ini untuk jaga tenda dan seisinya. Iya deh maaf, tetapi mau tau nggak aku tadi sepertinya melihat sesuatu. Apa tuh? Tanya Nadya. Benaran mau tau?. Iya mau. Oke, tadinya aku terkejut sambil dag dig duk jantungku karena melihat bidadari tidur didekatku, tetapi setelah aku nyalakan korek api dedekat kepalanya ternya kamu. He..he..he.. sambil tersenyum dia juga memukulku, tetapi aku suka itu.
Pagi telah tiba, mentari memberikan sinarnya untuk aku sentuh. Pasti kamu ngertikan gimana indahnya dan hebatnya menikmati mentari dipengunugan yang dingin. Itulah yang aku rasakan, dan aku baru sadari ternyata aku bercerita bersama Nadya sampai pagi, gila.
Dua hari dua malam aku dipegunungan, ditelang hutan yang belantara. Begitulah Bantaeng yang masih terjaga hutangnya. Mungkin karena tak ada tangan nakal yang sering melakukan illegal login. Atau itu bisa terjadi, karena pemerintah yang lihai dalam melakukan pengawasan. Kesimpulanku semua terlibat dalam menjaga kelestarian alam Banteang termasuk masyarakat setempat. Semoga sterunya bisa seperti ini. Amin. Karena suda dua hari kami dihutang dengan misi yang jelas. Kami bergegas untuk pulang kerumah masing-masing, stelah perayaan 17 Agustus dilakukan, karena kami merayakan 17an diatas gunung.
Akhirnya kami samapai dirumah masing masing dengan selamat. Aku hanya bisa berharap semoga ini bukan pertemuan terakhir kami bersama teman temanku, apa lagi sama Nadya, aku berharap banget bisa ketemu lagi sama dia. Meski aku tau dia akan pergi lama keluar kota dalam rangka PPL. Sedih rasanya bila harus larut dalam pemikiranku itu. Tetapi ya sudalah, aku hanya bisa berharap dan berharap semoga bisa ketemu lagi.
“Semua kisah memliki awalan yang berbeda dan akhiran yang tak sama pula. Kisah cinta berawal pada muara dan berakhir pada harapan” –Sabri-

Bagi Artikel ini

Post a Comment