Ini adalah awal, untuk menjawab keinginanku untuk menulis. Bertahun sudah aku mencari dan mengumpulkan puing-puing ide untuk aku tulis dalam kertas putih. Tetapi tetap aku merasa kebingunan untuk menguraikan, meski banyak ide muncul diotakku ini. Kenapa begitu ?, karena aku bukanlah sang imajiner, aku bukanlah seperti seperti penulis Novel tersohor seperti J.K Rowling penulis Harry Pottre. Atau aku bukanlah sehebat Jimmy Donal Wales si pembuat Wikipedia untuk mengumpulkan artikel yang multi pengetahuan. Meski begitu, aku tetap bersyukur karena aku bias mengakali pikiranku seperti Willy Wong si penulis Mengakali Pikiran. He..he..he.. aku tersenyum.Perna ngak sih ?, anda anda merasakan bahagia saat anda berpakain toga Wisuda?. Anda bergaya didepan cermin kemudian memperhatikan “stailmu”, kemudian berhayal saat nanti diacara wisudamu duduk dengang rapi didepan para Dosen Dosen yang perna mengajarmu saat prosess perkuliahan. Disaksikan oleh orang tuamu. saat disebut namamu kemudian maju kedepan memberikan selayang pandang. Menatap para teman-temanmu, lalu kemudian setelah berjalan turun dari panggun, anda disambut oleh mereka. Jika anda perna mengalami hal itu, maka aku hanya mau bilang kepada anda, bahwa hal itu bukan hanya kamu yang perna merasakan itu. Aku adalah salah satu temanmu yang perna merasakan itu.
Aku begitu bahagia. Diacara wisudaku. Karna bagiku ini adalah moment merayakan atas keberhasilanku mencapai atau lulus diperkuliahan sebagai Sarjana Hukum diuniversitas Indonesia Timur. Kebahagianaku bertambah karena disaksikan oleh orang tuaku, keluargaku, teman-temanku. Mereka memberiku ucapan selamat, meski itu seadanya tetapi itu bahagian buatku. Termasuk ucapan dari teman temanku. Selamat ya… selamat atas kesuksesanmu… Ucapnya. Kemudian mendekatlah salah satu temanku, dari arah belakang, dia terlihat cantik dengan pakaian Jensnya, lalu menghampiriku dan mencium pipiku. Begitulah Nita dalam sapaan akrabnya dikampus. Selamat ya Sabri… makasih ya. balasku.
Acara Wisuda uda selesai. Keluargaku uda balik kekampungku, namun aku masih tinggal dimakassar, dengan alasan mengurs Ijaza barulah aku menyusul pulang kampong juga, pada hal yang sebenarnya aku takut pulang. Kenapa ?, karena aku tidak tau mau ngapain setelah sampai dikampung. Mau kukemanai gelarku. Dipikiranku saat itu, “Aku pulang kampong, artinya aku balik dan sah jadi pengangguran”. Aku belajar dari beberapa sarjana yang ada dikampungku. Meski aku tinggal di Desa bagian timur Bantaeng yang berbatasan dengan bulukumba, namun di Desaku banyak kok sarjana Sarjana, namun masalahnya adalah pengangguran, mungkin nasibku akan sama dengan mereka. Takut aku jika memikirkan hal itu. Mungkin bukan hanya aku yang merasakan hal ini, tapi kamu, anda anda semua merasakan itu atau perna merasakan itu. Iya kan?, aku percaya saat kamu baca bagian ini kamu akan mengangukkan kepalamu sebagai bahasa sepakat dengan pernyataanku ini.
Perna tidak, kalian nonton film Alangkah Lucunya Negri ini, yang disutradarai si Dedi Miswar yang sekarang menjadi wakil Gubernu Jawa barat?. Kalu tidak, maka kasian bangat nasibmu. Masa, film keren seperti itu kamu dak sempat tonton. Atau boleh jadi karena kamu lebih suka nonton film drama Korea ya…?, seperti Love Story in Harvard mungkin, atau Gumiho?. Karena itulah kamu dak tertarik nonton film Indonesia seperti yang kusebut itu. Film itu dirilis tanggal 15 April 2010, pembuat ceritanya, ituloh, si Musfar Yasin. Supah… film itu kren dengan ceritanya. Kalau aku bilang asli banget Indonesia. Aku mau bilang, dalam film itu Indonesia bangat… banget….banget. tertarik kan menontonya lagi? He..he.. atau bagai mana kalau aku bicarakan saja disini?, ya… semacam sinopsisi lah, atau ceritan singkat, atau apalah namanya. Tapi kamu harus catat baik baik, ini bukan promo film, ini hanya menggabarkan perasaanku yang ada kemiripan dengan film Alangkah Lucunya Negri ini. Yang aku mau sampaikan, sebenarnya sudah terwakili dengan cerita flm itu, dari pada aku bercerita sama dengan alur ceritanya, yang nantinya aku dikira menciplak, kan repot. Mending aku kutif saja sebagian ceritanya yang kira-kira bisa mewakilkan pesan yang ingin aku sampaikan. Hehheheh… pasti kamu bilang, “Bilang saja kalu kamu kehabisa bahan utuk penulisanamu”. Heheh… sory bro, itu tidak mungkin terjadi, karena aku sudah bertahun-tahun mengumpulakan tulisan, bayangin aja, bertahun-tahun….. dan belum perna kutuliskan sedikitpun. Jadi banyak kan yang bisa kutulis.
Begini ceritanya, Film ini mengankat potret nyata yang ada dalam kehidupan Bangsa Indonesia.
“Sejak lulus S1, hamper 2 tahun Muluk belum mendapatkan pekerjaan. Meskipun selalu gagal tetapi muluk tidak perna berputus asa,. Pertemuan dengan pencopet bernama Komet tak disangka membuka peluang pekerjaan bagi muluk. Komek membawa muluk kemarkasnya, lalu memperkenlakan kebosnya yang bernama Jarok. Muluk kaget karena dimarkasnya itu berkumpul anak-anak seperti Komet yang pekerjaanya adalah mencopet. Akal Muluk berputar dan melihat peluang yang ia tawarkan kepada Jarot. Ia meyakinkan Jarot bahwa dia dapat mengolola keuangan mereka, dan minta inbalan 10% dari hasil mencopet, termasuk biaya medidik mereka. Usaha yang dikelola Muluk berbuah, namun dihati kecilnya tergerak niat uantuk mengarahkan para pencopet agar mau mengubah profesi mereka. Dibantu dua rekanya yang juga Sarjana, Muluk membagi tugas mereka mengajar Agama, budi pekerti dan kewarganegaraan”. [..]
Untuk melanjutkan ceritanya, silahkan nonton filmnya!.
Kembali ke leptop kata Tukul. Aku mau mengajakmu kembali keceritaku ini. Pertanyaanku kepada kamu, anda dan aku sendiri. Kita ini mau jadi apa?. Kita sekolah, kuliah sampai Sarjana (Berpendidikan) mau ngapain?. Aku percaya bahwa kamu, anda dan bahkan aku sendiri sudah punya jawaban atas pertanyaan itu. Untuk menjawab itu, mari kita kembali ketujuan Pendidikan kita di Indonesia ini. Apa kalian tau tujuan pendidikan kita?. Kalau tidak mari aku sebutin sesuai dengan catatanku saat aku masih sekolah, aku buka dulu ya catatan lamaku. Oh… ternyata ini dia.
Jadi tujuan pendidikan itu adalah “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusiaIndonesiaseutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang maha Esa dan berbudi pekerti luhu, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggun jawab kemasyarakatn”. Hebat toh, tujuan pendidikan kita ?. Nah dengan adanya pendidikan kita, sudah sekolah dan lulus, sudah kuliah dan lulus jadi sarjana, maka kita akan berloba memperlihatkan diri kita lebih baik dalam aspek apapun itu. Gensi dong kalu berpendidikan tetapi banyak tidak tahuanya dalam segala hal. Hehehe..hehhe bukan nyindir, sumpah.
Aku kembali kepertanyaan diatas, Mau jadi apa ? aku percaya bahwa pertanyaan ini sudah puluhan kali dipertanyakan oleh orang tua, guru masa TK, SD bahkan SMP dan SMA. Mereka selalu bertanya, “Nak…kalu besar nanti mau jadi apa?” itu pertanyaan guru TK dan SD kita waktu masa kecil. Dengan kepolosan kita jawab “Mau jadi Gulu (Guru). “Nak, Cita-citamu apa?” nah itu pertanyaan guru SMP dan SMA kita. Biasanya kita jawab, aku mau jadi polisi atau tentara.
Lalu gimana dengan maha sisiwa jika ditanya mau jadi apa? Pastinya mayoritas jawabnya mau jadi PNS, betul ngak? Kenapa karena mereka berangkat kuliah karena dorongan orang tua dengan semangat agar kamu kelak nanti bisa jadi “orang”.Orang yang dimaksud adalah sukses. Itu aku tau karena aku perna bertanya keorang tuaku. Mungkin orang tuamu memiliki jawaban yang berbeda, tetapi aku ngak mau bahas jawaban orang tuamu, biarlah itu jadi urusanmu sendiri. Lanjut, kesemangat orang tua kita yang jadi pemantik semnagat kita dalam mengarungi lautan pengetahuan. Bagaimana denagan arti suksess menurut orang tuaku atau orang tuamu?, ini juga lanjut kutanyakan keorang tuaku. Dia bilang suksess menurutnya adalah saat anknya menjadi PNS. Wah, Ini dia jawaban yang mbuat pikiranku semakin tak karuan dan takut. Karena secara tersirat dia berkata padaku bahwa aku tidak sukses Karen belum jadi PNS.
Dari itu aku baru mengerti, kenapa Sarjana didesaku ini banyak yang menghabiskan uang puluhan sampai ratusan juta untuk lolos jadi PNS, karena dia ingin menjadi orang sukses. Artinya kalau seperti itu pemahaman orang tuaku bahkan masyarakat Desaku tentang kesuksesan maka kesuksesan itu bisa juga dibeli dan dia ternilai harganya.
Dangkal menurutku, bagaimana menurtmu?.
(a/n sabri)
Bagi Artikel ini
Post a Comment